Kelak kita akan benar-benar larut dalam rindu pada sosok tua yang jasa-jasanya tak terbalaskan. Pada tangan keriput yang belaiannya menenangkan. Pada rumah kecil tempat kita pulang dan terlelap dengan nyaman.
Pulanglah, selagi semuanya masih ada dan baik-baik saja.
— Taufik Aulia
:“
EVENING WELL SPENT 🌻
alhamdulillah akhirnya ketemu lagi sama sohib paling shining ini, seorang pejuang skripsi. Semangat yashhh!!
No wacana but a little bit drama, wkwk. Tapi yang penting sudah meet up. This always-looked-happy person beside me who was born on June belongs to my strong yet tough girl of mine. I hope everything you’re trying to catch, your dreams, and your hope take you to the goodness and the corner of your best smile, dear. Thankyou for encouraging me to have another step ahead! Barakallah sistah! 😇😘
konon, manusia diperintahkan untuk menyampaikan nikmat yang didapat, menyebutkannya, sebagai bentuk rasa syukur. lalu begitulah kita semua, berbagi tentang kebahagiaan-kebahagiaan kita: keindahan tempat yang kita kunjungi, kesenangan kita bersama seseorang, dan seterusnya.
sadar nggak sadar, kadang bercerita kita membuat orang lain sedih. seorang sahabat saya misalnya, bilang dirinya sedih karena ASI-nya tidak sebanyak saya. sejak saat itu, saya berhenti total dari berbagi cerita memompa dan menyusui. yang saya pahami, kegalauan seorang istri/ibu dan peranannya itu jauh berbeda levelnya dengan kegalauan seorang remaja dan asmaranya.
kesimpulan: seringkali yang salah dari bercerita kita bukanlah berceritanya, melainkan kepada siapanya. saat kita khawatir bahwa cerita kita bisa membuat orang lain sedih, iri, cemburu, dan hal-hal kurang baik lainnya, saat itulah ujian datang kepada kita untuk menahan diri.
anehnya juga, kadang kita justru malas bercerita kepada orang-orang yang menanti cerita dari kita. atau, bercerita tetapi isinya keluhan semua. ayah dan ibu kita misalnya, mereka akan jauh lebih bahagia jika mendengar bahwa kita menikmati kuliah yang sedang kita jalani–alih-alih keluhan tentang banyaknya tugas. pasangan kita misalnya, dia akan ikut bangga jika mendengar bahwa kita mencintai pekerjaan kita–alih-alih betapa lelahnya kita. anak-anak kita misalnya, kakak-adik kita misalnya, saudara, tetangga dekat.
bukankah mereka yang paling mendoakan kita? bukankah mereka yang merindukan kita? menyayangi kita? orang-orang terdekatmu adalah orang-orang yang paling berhak atas cerita bahagiamu, sebab mereka jugalah yang paling banyak berkorban dan berjuang untukmu.
jika tidak ada cerita baik yang bisa dibagi, belajarlah menahan diri dari bercerita yang tidak baik–sebab itu tanda tidak bersyukur. jika ada cerita baik yang bisa dibagi, belajarlah untuk memilah dan memilih pendengar cerita–sebab bersyukur jangan sampai membuat orang lain tidak bersyukur.
Halo! Nama saya Septian Sugara. Ini post pertama saya di tumblr, dan saya mau share tentang pengalaman ikut seleksi wawancara beasiswa LPDP Luar Negeri 2017. Pasti udah denger kan tentang beasiswa LPDP? Saya bersyukur banget sih bisa sampe tahap subtansi ini. Soalnya seperti yang semua tau, lumayan susah juga buat bisa sampai ke tahap ini.
Okay langsung aja. Secara umum, tahap substansi LPDP ini ternyata ngga sesulit yang dipikirin kok. Panitianya woles, pesertanya juga kooperatif. Yang paling bikin deg degan sebenernya adalah pewawancaranya, yang kita gabisa tebak ‘perangai’ nya kaya apa. Seringkali, meskipun pewawancara nya sama, tapi pembawaannya beda-beda ketika menghadapi masing-masing peserta. Jadi keberuntungan peserta juga sedikit banyak bermain disini.
“Nomor dua, silahkan masuk” petugas presensi mempersilahkan saya masuk. Saya bergegas menuju ruang wawancara, tersenyum, membawa sugesti positif.
Ada 3 orang interviewer di meja 2 ini. Namanya Ibu Fatimah, Pak Eko dan Pak Ahmad. Selanjutnya, saya akan pakai kata ganti F (Ibu Fatimah), E (Pak Eko), A (Pak Ahmad) dan S (Saya) ya.
Ketiganya juga tersenyum menyambut saya. Mempersilahkan saya duduk.
F : Septian Sugara, Alumni UPI jurusan Perpustakaan dan Informasi?
S : Betul bu.
F : Mau kuliah di Information Studies, McGill University, Kanada?
S : Iya bu.
E : Septian ini alumni beasiswa..?
S : Bidikmisi Pak.
E : You originally come from Indramayu?
S : Yes sir.
E : So you’re a sundanese?
S : Half Javanese, half sundanese. Acculturation between those two. Because we’re in the border between West Java and Central Java.
Interviewer tertawa
E : Ok septian. Kita akan segera memulai wawancaranya. Semua percakapan ini akan direkam, dan tolong Septian jawab dengan menggunakan bahasa Inggris. Sudah Siap?
S : Siap pak.
Pak eko menyalakan perekam suara.
E : Silahkan Ibu Fatimah.
*percakapan selanjutnya langsung saya terjemahkan ke bahasa Indonesia ya
F : Selamat Pagi, apa kabarnya hari ini?
S : Baik bu.
F : Pertanyaan pertama. Kenapa saudara memilih Universitas McGill?
S : Amerika utara, khususnya Kanada adalah wilayah pertama di dunia yang memperkenalkan pentingnya Knowledge Management – konsentrasi yang akan saya ambil. McGill juga saat ini menjadi kampus nomor 32 di dunia
F : Wah saya jadi tersanjung. Saya juga alumni McGill soalnya.
Saya kaget, keceplosan nanya ‘oh iya bu?’. Terus Bu Fatimah senyum sambil ngangguk-ngangguk. Saya terus lanjut ngejelasin.
S : Iya Bu. McGill juga merupakan kampus pertama di kanada yang menawarkan Program Studi Information Studies, dan sudah berdiri tahun 1897.
F : Itu tahun berdiri apanya?
S : Jurusannya Bu.
F : Oh iya betul. Soalnya McGill sendiri berdiri tahun 1821. Lanjut
S : Information Studies di McGill juga sudah terakreditasi ALA – American Library Association – tahun 1925.
‘1925?’ Pak Eko nanya sambil kaget gitu. Eh malah Pak Ahmad yang jawab pake bahasa Indonesia ‘iya pak, 1925’
F : Oke. Tadi kan kamu udah ngomongin kampusnya, sekarang coba kamu jelaskan tentang kotanya. Apa yang kamu tahu tentang Montreal? Bisakah kamu bertahan hidup disana?
S : Kebetulan Montreal tahun ini dinobatkan sebagai kota terbaik untuk mahasiswa internasional. Montreal adalah kota yang sangat heterogen sehingga sebagian besar masyarakatnya berpemikiran terbuka dan ramah terhadap orang asing. Saya yakin, hal ini akan membantu saya untuk lebih mudah beradaptasi
F : Nah itu kan yang bagus-bagusnya. Coba kamu ceritakan yang jelek-jeleknya tentang montreal
S : Bahasa sehari-hari di Montreal itu Perancis, sehingga saya harus belajar lagi bahasa Perancis. Montreal juga terkenal dingin karena terletak di utara amerika.
F : Memang dingin, sangat dingin. Saya masih ingat tuh betapa menggigilnya saya saat itu.
E : Apalagi saat musim salju ya, bu.
F : Betul pak. Nah, gimana caranya kamu bisa bertahan di tempat dingin kaya gitu?
S : Kan ada teknologi bu. Ada heater dan sebagainya. Saya juga bisa pakai pakaian tebal. Lagipula saya orangnya sociable sih bu. Selama ada teman, saya merasa hidup saya aman. Saya yakin teman-teman saya bisa membantu saya beradaptasi.
F : Tapi orang-orang disana individualis loh. Dan sedikit sekali ada orang Indonesia disana.
S : Kebetulan saya sekarang bekerja di sekolah internasional bu. Saya mulai terbiasa bergaul dengan orang asing. Sejauh ini, saya nggak menemukan ada masalah tuh dengan mereka. Jadi sekalipun nggak ada orang Indonesia, saya yakin saya tetap bisa mendapatkan banyak teman. Untungnya saya mudah bergaul, jadi cukup mudah bagi saya untuk menemukan teman-teman baru.
F : Berarti nanti gelarnya MLIS ya? Master of Library and Information Science?
S : MISt bu. Master of Information Studies.
F : Soalnya saya dulu punya temen juga anak MLIS.
S : Dulunya memang MLIS bu, tapi sekarang ganti nama jadi MISt.
F : Oh iya iya, silahkan Pak Eko.
E : Septian, kenapa kamu memilih kuliah di McGill? Kenapa nggak kampus lainnya aja?
S : Saya sudah mempertimbangkan itu pak. Saya bahkan sampai membuat perbandingan antarkampus. Bapak bersedia untuk lihat?
Pak eko mengangguk
S : Ini pak. (Sambil nyodorin kertas)
S : Tapi semakin saya membandingkan, semakin saya yakin bahwa McGill adalah pilihan yang tepat pak.
Semua interviewer tertawa.
S : Iya. Karena biaya kuliah di McGill lebih murah, bahkan jika dibandingkan dengan NTU. McGill juga menawarkan konsentrasi yang saya perlukan, serta sudah terakreditasi ALA
E : Baik, terima kasih (sambil mengembalikan kertas). Setelah kembali ke Indonesia, kau tulis disini mau jadi dosen. Kenapa dosen?
S : Tahun lalu, berdasarkan sebuah riset dari Central Connecticut State University, Indonesia berada pada peringkat ke 60 dunia dalam hal literasi. Artinya, tingkat literasi kita masih sangat rendah. Nah, berdasarkan analisis yang saya lakukan, titik permasalahannya adalah terbatasnya jumlah pustakawan professional di Indonesia. Padahal pemerintah sudah banyak membangun perpustakaan dan mengalokasikan sebagian APBN untuk membeli buku-buku berkualitas dan disebar ke desa-desa. Tetapi karena tidak ada yang mengelola, ya bukunya menumpuk aja. Gaada penggerak untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Kebetulan saya suka mengajar, jadi saya rasa saya bisa membantu bangsa ini dengan cara menjadi dosen ilmu perpustakaan, sehingga saya bisa melahirkan lebih banyak pustakawan professional muda di Indonesia. Harapannya, setelah lulus mereka bisa kembali ke kampung dan mulai membangun budaya membaca dari desa-desa
F : Nah gimana kalau nantinya jadi siklus? Kamu jadi dosen, mengajar mahasiswa, tapi mahasiswanya justru terinspirasi sama kamu dan pengen jadi dosen juga
E : Betul. Berarti pada akhirnya tidak ada yang turun tangan secara langsung untuk menangani masalah minat baca di Indonesia dong?
S : Betul. Saya memang nggak punya wewenang untuk mengatur cita-cita atau karir mahasiswa saya
E : Nah iya, Gak bisa
S : Tapi saya bisa menjadi teladan yang baik untuk mereka. Saya terbuka untuk semua kesempatan kok. Selain menjadi dosen, saya juga ingin menjadi pustakawan. Karena pustakawan memberikan kesempatan untuk saya melakukan trial and error, sehingga saya tidak hanya mampu mengajarkan teori tetapi juga best practice berdasarkan kendala-kendala yang saya hadapi di lapangan. Saya juga akan dengan senang hati membantu jika ada perpustakaan – dimanapun di Indonesia – yang membutuhkan keahlian saya setelah saya lulus nanti. Harapannya sih mereka bisa terinspirasi juga dengan usaha saya meningkatkan minat baca melalui perpustakaan
E : Rencananya mau jadi dosen di mana?
S : Saya mau kembali ke UPI pak. Saya punya reputasi yang cukup baik disana. Semoga bisa menjadi bahan pertimbangan
E : Terus kamu udah bilang sama atasanmu tentang rencanamu untuk jadi dosen?
S : Sudah pak
E : Dia bilang apa?
S : Beliau melarang sih. Katanya jangan jadi dosen, mending lanjut aja kerja di international school
E : Terus kamu bilang apa?
S : Ini panggilan hati saya sih pak untuk jadi dosen. Dan saya rasa ini yang bisa saya lakukan untuk membayar saja kepada Negara ini. Jadi ya saya bersikeras akan jadi dosen
F : Ini saya penasaran. Kamu itu finalis Duta Relawan Muda Indonesia. Apa itu?
S : Itu program yang dilaksanakan oleh DPP PPMI bu. Jadi mereka cari duta untuk meningkatkan kesadaran pemuda tentang pentingnya kegiatan kesurakewlawanan
E : Terus gimana prosesnya sampe bisa jadi finalis?
S : Ya saya daftar, isi formulir online, terus diundang wawancara. Diminta menjelaskan program kesukarelawanan yang pernah saya lakukan
F : Terus kamu bawa program apa waktu itu?
S : Saya menjelaskan mengenai komunitas yang saya dirikan. Namanya The Bottles Indonesia
E : Apa itu?
S : Komunitas yang berbasis di Bandung. Intinya, kami memberikan les bahasa Inggris secara gratis untuk anak-anak di sekitar kampus, tapi mereka harus wawa 5 botol bekas per pertemuan. Botol yang terkumpul kemudian kami jual, uangnya digunakan untuk membeli spidol dll.
F : Terus program ini disponsori PPMI?
S : Bukan bu, gaada hubungannya. Ini Cuma program yang saya presentasikan untuk bisa menjadi finalis Duta Relawan Muda Indonesia
E : Selain The Bottles Indonesia, kegiatan sukarelawan apa lagi yang pernah kamu ikuti?
S : Saya cukup aktif mengikuti kegiatan sukarelawan pak. Saya dulu sukarelawan Pekan Literasi Asia Afrika, saya juga pernah membantu memperbaiki perpustakaan panti asuhan di Lembang, membangun perpustakaan kecil di Desa Jatisura Indramayu.. Kebanyakan yang berkaitan sama literasi sih pak
Semua juri nulis sambil ngangguk-ngangguk
E : Nah Septian, kamu ini belum dapat LOA (Letter of Acceptance) kan?
S : Belum Pak.
E : Sejauh mana kamu berusaha untuk dapat LOA? Sudah korespondensi dengan profesor?
S : Sudah Pak, tapi belum dibalas. Saya juga sudah mengecek persyaratan-persyaratan untuk masuk McGill. Sudah dapat surat rekomendasi juga.
E : Dari?
S : Dari pembimbing skripsi pak. Dan saya harus meningkatkan skor TOEFL lagi. Tinggal itu aja sih Pak.
E : Gimana kalo gagal dapet LOA? Ada rencana lain?
S : Gak ada rencana lain Pak. Saya yakin saya bisa dapat LOA nya dalam setahun. Tinggal ningkatin bahasa Inggris kok pak. Lagipula saya yakin orang yang mau ngambil jurusan ini masih jarang banget, jadi saya ngga harus berkompetisi dengan terlalu banyak orang. Saya yakin bisa dapet LOA.
A : Kapankah waktu tersulit yang pernah kamu alami?
S : Ketika mulai kerja Pak. Karena pada dasarnya saya adalah orang yang suka bergaul, sehingga sulit bagi saya untuk hidup tanpa teman. Saat itu saya baru lulus, dan jarak antara kelulusan dan hari pertama kerja itu cuma 4 hari. Jadi saya agak kaget waktu itu. Saya harus meninggalkan semua teman saya di Bandung, pindah ke kota baru yang sangat asing bagi saya, dan mulai kehidupan baru. Saat itu saya belum punya teman, gak punya TV, gak ada hiburan, mau main juga gak tau mau kemana. Jadi hidup saya selama 2 bulan pertama itu cuma kerja-kosan-kerja-kosan. Setiap hari. Membosankan. Tapi lama kelamaan, setelah saya punya teman, saya merasa hidup saya jadi lebih menyenangkan.
E : Pertanyaan terakhir. Ini kamu beneran nulis artikel di jurnal ilmiah?
S : Iya Pak.
E : Sudah terakreditasi?
S : Wah kurang tau saya Pak terakreditasi atau belum. Tapi itu dari UPI sih Pak.
E : Oh gitu.. tapi ini skripsi kamu?
S : Iya Pak. Pembimbing saya bilang skripsi saya bagus, jadi dijadikan artikel jurnal.
E : Berarti kamu penulis pertama,kedua dosen pembimbing jadi penulis kedua dan ketiga?
S : Betul Pak.
E : Baiklah kalau begitu, Sukses ya Septian.
S : Amin. Terima kasih Pak.
Pak eko menyodorkan tangan, yang kemudian saya sambut. Saya menyalami ketiga pewawancara, kemudian meninggalkan ruangan dengan hati puas. Tinggal nunggu pengumuman nih. Mohon doanya ya teman-teman. Semoga sukses menyertai kita semua.
Bismillah 🙂
Kalau punya teman baik jangan pernah sekali-kali dilepaskan, genggam erat hatinya dengan kecintaan kepada Rabb agar persaudaraan itu berakhir hingga ke syurga.
“Perbanyaklah saudara-saudara mukminmu, karena kelak mereka akan menjadi syafaat untukmu” (via dianesstari)
Kemarin Allah memberikan nikmat kemudahan untuk datang
pada kajian yang di isi oleh Ummu Balqis di Masjid Trans Studio Bandung. Ummu
Balqis adalah seorang CO Founder Smart Eduplace, penulis buku dan creative editor.
Kalimat pertama yang beliau sampaikan adalah “Apakah jodohmu sudah ada ?”
jawabannya tentu sudah ada. Allah sudah menuliskannya di lauh mahfudz.
Maka tak ada lagi risau apakah jodoh kita akan pergi, menikah dengan sahabat
kita atau yang lainnya. Karena yang memang ditakdirkan untuk kita tak akan
kemana-mana.
Selanjutnya beliau
membahas mengenai pernikahan. Sesuatu yang begitu istimewa, lebih dari sekedar
menyatukan dua manusia. Allah menjadikan pernikahan sebagai bukti
kebesaran-Nya, seperti dalam surat Ar-Rum ayat 21 :
“Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan
pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa
tentram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang.
Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran
Allah) bagi kaum yang berpikir.”
Pernikahan adalah cara
mengistimewakan cinta. Jika kita menyukai lawan jenis kita tak bisa sembarangan
mendatangi dan melakukan sesuatu semau kita. Islam menjaga cinta dengan
pernikahan. Cinta tak sekedar menyukai lalu bisa meninggalkan kapan saja. Jika
kita menjaga cinta sesuai koridor-Nya maka akan kita dapati kebaikan bukan
kesedihan.Cinta yag istimewa adalah cinta yang dijaga, disimpan baik-baik
sampai tiba waktunya.
Selain itu menikah
adalah syari’at. Hukum islam yang menjaga agar tak ada hubungan yang merugikan
antara perempuan dan laki-laki. Syari’at yang menjadikan pernikahan sebagai
solusi dari ketertarikan, bukan dengan pacaran.
Pernikahan adalah
ibadah, oleh karena itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Segala
prosesnya Allah atur sama hal nya seperti ibadah yang lain. Menikah bukanlah
hal sederhana maka kita perlu punya ilmu sebelum mengamalkannya jangan sampai
kita jadi orang yang tersesat.
Dan inilah, menikah adalah mitsaqan ghaliza (perjanjian yang amat kukuh).
Bukan perjanjian sederhana dan bukan perjanjian di dunia saja. Pernikahan
adalah satu dari perjanjian besar selain perjanjian Allah dengan nabi dan umat
nya. Seseorang yang kita nikahi adalah orang yang mendampingi kita di dunia
juga teman kita di surga in syaa Allah. Seperti dalam surat yasin ayat 56,
bahwa :
“Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh,
bersandar di atas dipan-dipan.”
Selain itu ada juga di
surat Ar-Rad : 23
“(yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan
orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya,
sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.”
Masya Allah, siapa yang tak mau hidup di dunia juga surga dengan orang-orang
yang kita cintai ? oleh karena itu mari terus belajar mempersiapkan. Semoga
kita dipertemukan dengan partner terbaik yang berlomba-lomba dalam kebaikan dan
bersama tinggal di surga.
Menikah ibarat kita kita mendaki gunung. Seindah apapun gunung yang akan kita daki jika tanpa persiapan makanan, air, penunjuk arah bahkan fisik, mana mungkin kita menikmati keindahannya. Kita sibuk mengkhawatirkan banyak hal yang kita butuhkan namun lupa kita persiapkan.
Kita dapat mengambil pelajaran dari data komnas perempuan tahun 2016 bahwa ada 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani. 56 % kekerasan terjadi dalam rumah tangga berupa kekerasan fisik, seksual, psikis juga ekonomi.
Tentu kita tidak mau mengalami hal itu bukan ?
Menikah bukanlah tujuan hidup. Tapi menikah adalah salah satu cara kita mencapai tujuan hidup yang sebenarnya. Jika tujuan kita adalah menjadi orang bermanfaat yang berkontribusi dalam memajukan bangsa, maka kita bisa mulai itu dari keluarga. Jika tujuan kita adalah surga yang diperoleh dari ridho-Nya maka menikah adalah cara meraih ridho itu. In syaa Allah..
Kebanyakan orang menganggap menikah sebagai bagian untuk memperoleh kebahagian baru. Tidak salah memang, tapi jangan lupa bahwa dari menikah kita mendapatkan kewajiban baru untuk taat sesuai perintah Allah.
“Mulai proses menuju pernikahan dengan visi misi bukan sekedar ekspektasi.” -Ummu Balqis-
Menikah seperti project besar dalam hidup kita. Bagaimana mungkin kita bisa membangun sesuatu yang baik tanpa perencanaan berupa visi atau tujuan yang ingin dicapai dan langkah-langkah agar tujuan itu tercapai. Jangan sampai kita melewatkan sisa umur kita hanya karena kita lupa merencanakan.
Pada saat menikah kita punya tugas baru untuk taat pada suami agar Allah ridho. Selain itu kita juga harus menjaga harta, kehormatan, rumah dan juga anak-anak sebaik-baiknya. Itu semua bisa kita lakukan jika kita punya ilmu, oleh karena itu mari sama-sama belajar mempersiapkan.
Apa saja yang perlu kita persiapkan ? Menurut Ummu Balqis yang harus kita siapkan adalah :
1. Mental Sejak awal mental kita harus dibentuk. Kita tak lagi jadi perempuan yang menghabiskan waktu dengan galau dan khawatir dengan hadirnya jodoh yang sudah Allah persiapkan. Fokus untuk mempersiapkan diri dan lebih objektif dalam mengambil keputusan menikah.
2. Ilmu Ini hal yang amat penting. Kita harus terus menimba ilmu dan belajar untuk mengamalkannya. Ada banyak ilmu yang harus kita tahu, tidak sekedar cara merawat rumah tetapi juga ilmu mendidikan anak dan meningkatkan kapasitas diri dalam memahami agama.
3. Fisik Jangan sampai kita jadi perempuan yang malas berolahraga. Olahraga adalah investasi agar tubuh kita sehat dan mampu memaksimalkan tugas-tugas kita. Selain itu kebersihan dan kesehatan diri juga jangan diabaikan. Mulai belajar untuk merawat diri seperti mandi minimal dua kali sehari, potong kuku dan hal-hal yang diangap kecil sehingga sering diabaikan.
4. Finansial Belajarlah mengelola keuangan mulai dari mengatur uang jajan bulanan sampai belajar usaha dimulai dari yang kecil. Keuangan menjadi hal penting dalam menjaga kestabilan keluarga. Karena untuk memenuhi pendidikan, kesehatan bahkan syariat islam kita perlu mempersiapkan keuangan yang baik.
5. Sosial Poin terakhir dan hal penting yang perlu dimiliki dan dipelajari adalah kemampuan untuk beradaptasi. Menikah berarti kita akan mengahadapi orang-orang dan keluarga baru. Bagaimana cara kita menjaga emosi, berkomunikasi yang baik sampai menjadi orang yang peka terhadap kondisi orang lain juga harus dipersiapkan.
Sebagai penutup dibagian dua ini, maka mari bersama-sama belajar. Mempersiapkan pernikahan bukan hal yang harus di tutupi karena malu. Justru ini adalah cara kita memaksimalkan kesempatan hidup. Menikah adalah tabungan pahala sama seperti kita selama ini mempersiapkan diri agar masuk perguruan tinggi impian, belajar yang rajin agar mendapat ilmu yang bermanfaat dan hal-hal lainnya.
Jatinangor, 15 Agustus 2017 menatakata.tumblr.com
Alhamdulillah ‘ala kulli haal, terima kasih Ya Allah, atas setiap nikmat yang melimpah di bumi.
Terima kasih Bapak, Ibuk, untuk doa dan kasih sayang yang tiada henti. Untuk adik-adikku tersayang yang semoga tumbuh menjadi anak sholehah. Untuk simbah yang selalu memberikan doa restu tiap kali saya pamit kembali ke ibu kota.
Terima kasih untuk dosbing, penguji, seluruh dosen yang membimbing dari semester 1. Untuk kampus dengan segala kisah yang terjadi di sana.
Terima kasih support system saya, sahabat dan teman kos yang telah mendampingi dalam tiap pasang surut apalagi pas ngerjain skripsi. So much love pokoknya buat kalian semua.
Terima kasih untuk ucapan, hadiah, doa dari temen-temen SABA, STAN, sahabat LDR, adik tingkat, bimbelholics, KBMSY, SEMA, STIS Mengajar, dan semua yang telah menyempatkan datang ke wisuda kemarin. Buat yang nggak bisa dateng tetep makasih banyaak.
Mohon doanya semoga wisuda ini bukan yang terakhir, semoga ada wisuda lain yang menanti. This is the beginning, real journey has just been started. 💙💙💙