dear myself, you will always have your way to be grateful, to thanks everything, to be happy
Dear my future, jangan takut untuk menghafal Al-Qur’an. Lakukanlah semampumu, niatkan mempelajari Al-Qur’an karena mencari ridhaNya. Biasakan lisanmu untuk membacanya, walaupun hanya beberapa ayat di setiap waktumu sebagai wujud syukurmu atas segala karuniaNya kepadamu. Tak mengapa jika masih terbata, yakinlah Allah akan tunjukkan padamu bahwa mencintai Al-Qur’an itu manis rasanya. Dan barangkali oleh sebab tulusmu dalam mencintai Al-Qur’an, Allah akan mempertemukan kita. Adakah yang lebih indah dari saat-saat kita menyusuri ayat-ayat cintaNya berdua? Saat aku sekedar membetulkan bacaanmu, menjelaskan maksudnya kepadamu, hingga sekedar mengoreksi hafalan yang tengah sedikit-sedikit kau kumpulkan dengan penuh cinta dan perjuangan itu.
©Quraners
Just don’t stop learning, just don’t stop memorizing Qur’an.
It will soften your heart.
(via quraners)
for me too 🙂

“
One day you will thank yourself for never giving up
”
– anonymous
Tidak Terlihat Dekat dengan Siapapun
Diskusi QuarterLifeCrisis beberapa hari yang lalu masih seputar dunia jodoh. Mungkin bagi teman-teman yang belum mengalami, atau sudah melewati, obrolan semacam ini bisa dianggap membosankan. Tapi bagi yang sedang mengalami, mendiskusikannya dan berusaha mencari jawaban yang menenangkan adalah sebuah proses penting untuk melewati fase tersebut. Salah satunya dengan curhat.
Salah satu teman kami berkesah, setiap kali pulang atau orang tuanya menelpon, sering ditanya sudah punya pacar atau belum (karena orang tuanya tidak tahu kalau anaknya tidak mau pacaran), atau dengan candaan guyonan dari teman-teman yang lain tentang seputar tersebut. Orang tuanya pun seringkali bertanya, kapan rencana menikah? Sudah ada calonnya belum? Atau dalam kalimat-kalimat tidak langsung seperti, “Wah ini undangan ke rumah banyak banget dari teman-teman SD mu, mereka sudah menikah ya, kayak masih kecil kok udah mau nikah aja.” dan lain-lain.
Sementara teman kami ini, ia sama sekali tidak terlihat dekat dengan siapapun. Sama sekali. Bahkan ketika kami tanya, “Emang nggak ada cowok yang lagi pdkt gitu?” Jawabnya, “Enggak ada”. Juga pertanyaan lain yang sejenis,”Nah, lagi deket sama siapa gitu? Meski dia nggak pdkt?” Jawabnya masih sama, “Enggak ada”.
Dan karena ketidak-adaan inilah yang mungkin juga membuat orangtuanya bertanya-tanya, kok anaknya nggak pernah cerita suka sama siapa, atau lagi dekat sama siapa, atau ada yang pdkt dan gimana? Sementara teman-teman sebaya lainnya bahkan sudah ada yang maju melamar, meski pada akhirnya belum juga menikah.
Usianya sudah cukup matang (dalam standar orang tuanya) untuk masuk ke fase berikutnya. Juga mungkin karena melihat anaknya yang santai-santai aja, cenderung biasa-biasa aja dalam menanggapi hal tsb. Semakin membuat orangtuanya cemas.
Terlepas dari semua itu, terlepas dari sikap cueknya dan kesan biasa-biasanya ini. Teman kami bercerita kepada kami, kalau pada akhirnya dia juga berpikir. Berpikir tentang kenapa dia tidak terlihat dekat dengan siapapun? Enggak ada yang pdkt sama dia, apa enggak ada yang tertarik? Menurut kami, aneh kalau tidak ada yang tertarik dengan perempuan semandiri dan semanis dia.
Sampai pada akhirnya, diskusi panjang tanpa solusi itu berakhir dengan sebuah konklusi, barangkali itu adalah cara Allah menjaganya (terutama setelah ia berhijrah dan memutuskan untuk enggak pacaran), barangkali itu adalah bentuk perlindungan, menyingkirkan laki-laki yang mau mendekatinya tapi tidak dalam levelnya. Dan tentu saja sudah bisa kami tebak, dengan salah satu sifat tegas yang dia miliki, laki-laki kalau cuma mau pdkt untuk pacaran pasti sudah ditendangnya jauh-jauh.
Dan akhirnya, hal terbaik yang bisa manusia lakukan atas apa yang terjadi dalam hidupnya adalah bersyukur. Bersyukur sebab ia tidak terlihat dekat dengan siapapun, bahkan tidak ada yang mencie-ciekan dirinya dengan siapapun. Seperti itulah caraNya menjaga kehormatannya, izzah-nya
Yogyakarta, 17 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi
something just like this 🙂
Kalau Bukan Sama Allah, Mau Jujur Sama Siapa?
Pernahkah kamu bertemu dan mengenal seseorang, lalu diam-diam di hatimu terbersit keinginan untuk menanyakan satu hal penting tentang hidup kepadanya?
Suatu hari, saya dan seorang teman pergi ke luar untuk makan siang. Di perjalanan berjalan kaki menuju ke tempat makan, saya tiba-tiba saja teringat sebuah pertanyaan yang sejujurnya sudah sangat ingin saya tanyakan tapi belum juga menemukan kesempatan. Pasalnya, beberapa bulan terakhir kami berada di atap yang sama saat jam kerja, lalu sedikit banyak saya mengobservasi bagaimana perilakunya dalam keseharian, terutama di waktu-waktu selepas shalat berjamaah.
Jika adzan sudah berkumandang, biasanya kami saling panggil satu sama lain untuk sama-sama pergi ke masjid yang letaknya tidak jauh dari kantor. Setelah shalat dan menggenapkannya dengan doa, dzikir, dan shalat rawatib, satu per satu diantara kami dan teman-teman yang lain pun keluar dari masjid, kecuali seseorang ini yang biasanya masih khusyu berdoa, entah apa yang diceritakannya kepada Allah. Bukan sekali dua kali, tapi ini hampir terjadi setiap hari sehingga saya diam-diam jadi bertanya-tanya, “Apa ya yang dia lakukan? Doa apa yang dia panjatkan? Cerita apa yang sedang dia ceritakan?”
Lalu, siang itu saya memberanikan diri, randomly bertanya dengan satu kalimat pertanyaan yang ternyata membuat deep talk selanjutnya terjadi sampai satu jam kemudian,
“Teh, aku sejujurnya ingin banget nanya ini dari lama, tapi belum ketemu aja kesempatannya, dan kayaknya sekarang tepat. Kalau aku perhatikan, setiap selesai shalat teteh selalu khusyu banget berdoanya. Sebenarnya, apa sih yang teteh doakan? Teteh cerita apa sama Allah?”
Pertanyaan ini mungkin terdengar tidak biasa, sehingga ada sedikit kaget tertangkap dari raut wajahnya, “Hahaha, teh Nov, anaknya teh suka tiba-tiba nanya pertanyaan aneh. Aku yakin nih bentar lagi pertanyaan yang sama bakal teteh tanyain juga ke pak R.” Saya tersenyum dan mengangguk. Jauh di dalam hati, saya memang berencana menanyakan pertanyaan serupa pada seorang senior di lingkaran kami. Kemudian dia pun menjawab,
“Sejujurnya aku bingung gimana harus jawab pertanyaan ini. Bismillah, semoga jadi kebaikan ya. Jadi gini, teh, sebenarnya setiap manusia itu pada dasarnya membutuhkan Allah. Dan itulah yang selama ini sedang aku coba hadirkan terus: perasaan membutuhkan Allah. Jadi, setelah shalat dan dzikir, aku banyak cerita dengan jujur sama Allah tentang apapun yang ingin aku ceritakan. Sesimple aku merasa engga enakan sama orang, kesel sama orang, bahagia karena hal kecil, ingin minta sesuatu, lagi merasakan sesuatu, pokoknya apapun aku ceritain ke Allah.
“Aku juga lagi membiasakan diri untuk engga lupa meninggikan Allah dan merendahkan aku di hadapan-Nya. Kayak ngobrol gitu aja, teh, pokoknya jujur atas apapun. Kayak misalnya nih ya mengakui kalau hati kita lemah menahan godaan kalau engga ditolong Allah. Atau misalnya kalau masih melakukan sesuatu tapi belum tulus ikhlas karena Allah, ya bilang aja begitu sama Allah, supaya lebih tenang, lega, dan merasa didengar.”
Dia bicara perlahan, membuat saya menahan-nahan agar air mata tidak jatuh dan merubuhkan benteng pertahanan. Tapi, diam-diam saya meng-highlight sesuatu, tentang jujur kepada Allah. Aha! Inilah yang seringkali sulit untuk dilakukan, entah apa penyebabnya. Apakah kamu juga merasakannya? Kemudian, saya pun menanggapi,
“Tapi kenapa, ya, kok kadang jujur sama Allah itu rasanya berat dan malu? Kadang juga aku malah malu karena merasa doa dan cerita yang aku utarakan kok ya begitu-begitu aja dan receh banget? Orang lain mungkin engga ada kali ya yang doa dan ceritanya sereceh aku?”
Sambil menghabiskan makan siang kami, lawan bicara saya itu menjawab,
“Teh, apa sih yang membuat teteh merasa doa teteh receh sementara Allah itu suka kalau kita meminta? Kenapa teteh harus merasa begitu? Teteh bayangin deh orang yang udah deket sama orang lain, yang receh sekalipun diminta kan? Yang receh juga diceritakan, kan? Nah, kalau malu-malu gengsi-gengsi sama Allah, berarti apa? Emangnya kalau engga jujur sama Allah, teteh mau jujurnya sama siapa? Manusia kan sumber kecewa.”
Deg! Ada banyak anak panah yang tepat jatuh di hati saya. Tidak bisa ditahan lagi, akhirnya menangis juga, sadar betapa selama ini masih suka malu-malu untuk jujur sama Allah, padahal Allah paling tahu bagaimana isi hati manusia, bukan? Iya Nooov, terus kenapa engga jujur aja sih, toh jujur engga jujur Allah udah paham banget gimana pikiran dan perasaan kamu~
Obrolan siang itu membuat saya belajar memperbaiki bagaimana berdoa dan bercerita kepada-Nya. Ternyata, jujur kepada Allah sambil menceritakan banyak hal kepada-Nya dengan tulus itu benar-benar melegakan, terutama di hening sepertiga malam. Rasa leganya melebihi kelegaan setelah bercerita pada ibu (dan seseorang yang sudah saya anggap sebagai ibu), sahabat, atau mengungkapkan buah perasaan dan pemikiran melalui tulisan.
Kamu, kapan terakhir kali jujur dan mengungkapkan banyak cerita kepada Allah?
Ukhti, tempatkan hatimu di tangan Allah dan Dia akan menempatkan hatimu di tangan lelaki yang Ia percaya layak mendapatkannya
She was beautiful, but not like those girls in the magazines. She was beautiful, for the way she thought. She was beautiful, for the sparkle in her eyes when she talked about something she loved. She was beautiful, for her ability to make other people smile, even if she was sad. No, she wasn’t beautiful for something as temporary as her looks. She was beautiful, deep down to her soul.

HELLO, SUNSHINE!
“
You were born with potential. You were born with goodness and trust. You were born with greatness. You were born with wings. You’re not mean to crawling. So don’t! You have wings, learn to use them and fly.
”
(Rumi)
found at ka’ Novie’s post on Instagram
