Seleksi Substansi LPDP 2017 : Jakarta 2

septiansugara:

image

Halo! Nama saya Septian Sugara. Ini post pertama saya di tumblr, dan saya mau share tentang pengalaman ikut seleksi wawancara beasiswa LPDP Luar Negeri 2017. Pasti udah denger kan tentang beasiswa LPDP? Saya bersyukur banget sih bisa sampe tahap subtansi ini. Soalnya seperti yang semua tau, lumayan susah juga buat bisa sampai ke tahap ini.

Okay langsung aja. Secara umum, tahap substansi LPDP ini ternyata ngga sesulit yang dipikirin kok. Panitianya woles, pesertanya juga kooperatif. Yang paling bikin deg degan sebenernya adalah pewawancaranya, yang kita gabisa tebak ‘perangai’ nya kaya apa. Seringkali, meskipun pewawancara nya sama, tapi pembawaannya beda-beda ketika menghadapi masing-masing peserta. Jadi keberuntungan peserta juga sedikit banyak bermain disini.

“Nomor dua, silahkan masuk” petugas presensi  mempersilahkan saya masuk. Saya bergegas menuju ruang wawancara, tersenyum, membawa sugesti positif.

Ada 3 orang interviewer di meja 2 ini. Namanya Ibu Fatimah, Pak Eko dan Pak Ahmad. Selanjutnya, saya akan pakai kata ganti F (Ibu Fatimah), E (Pak Eko), A (Pak Ahmad) dan S (Saya) ya.

Ketiganya juga tersenyum menyambut saya. Mempersilahkan saya duduk.

F : Septian Sugara, Alumni UPI jurusan Perpustakaan dan Informasi?

S : Betul bu.

F : Mau kuliah di Information Studies, McGill University, Kanada?

S : Iya bu.

E : Septian ini alumni beasiswa..?

S : Bidikmisi Pak.

E : You originally come from Indramayu?

S : Yes sir.

E : So you’re a sundanese?

S : Half Javanese, half sundanese. Acculturation between those two. Because we’re in the border between West Java and Central Java.

Interviewer tertawa

E : Ok septian. Kita akan segera memulai wawancaranya. Semua percakapan ini akan direkam, dan tolong Septian jawab dengan menggunakan bahasa Inggris. Sudah Siap?

S : Siap pak.

Pak eko menyalakan perekam suara.

E : Silahkan Ibu Fatimah.

*percakapan selanjutnya langsung saya terjemahkan ke bahasa Indonesia ya

F : Selamat Pagi, apa kabarnya hari ini?

S : Baik bu.

F : Pertanyaan pertama. Kenapa saudara memilih Universitas McGill?

S : Amerika utara, khususnya Kanada adalah wilayah pertama di dunia yang memperkenalkan     pentingnya Knowledge Management – konsentrasi yang akan saya ambil. McGill juga saat ini menjadi kampus nomor 32 di dunia

F : Wah saya jadi tersanjung. Saya juga alumni McGill soalnya.

Saya kaget, keceplosan nanya ‘oh iya bu?’. Terus Bu Fatimah senyum sambil ngangguk-ngangguk. Saya terus lanjut ngejelasin.

S : Iya Bu. McGill juga merupakan kampus pertama di kanada yang menawarkan Program Studi Information Studies, dan sudah berdiri tahun 1897.

F : Itu tahun berdiri apanya?

S : Jurusannya Bu.

F : Oh iya betul. Soalnya McGill sendiri berdiri tahun 1821. Lanjut

S : Information Studies di McGill juga sudah terakreditasi ALA – American Library Association – tahun 1925.

‘1925?’ Pak Eko nanya sambil kaget gitu. Eh malah Pak Ahmad yang jawab pake bahasa Indonesia
‘iya pak, 1925’

F : Oke. Tadi kan kamu udah ngomongin kampusnya, sekarang coba kamu jelaskan tentang kotanya. Apa yang kamu tahu tentang Montreal? Bisakah kamu bertahan hidup disana?

S : Kebetulan Montreal tahun ini dinobatkan sebagai kota terbaik untuk mahasiswa internasional. Montreal adalah kota yang sangat heterogen sehingga sebagian besar masyarakatnya berpemikiran terbuka dan ramah terhadap orang asing. Saya yakin, hal ini akan membantu saya untuk lebih mudah beradaptasi

F : Nah itu kan yang bagus-bagusnya. Coba kamu ceritakan yang jelek-jeleknya tentang montreal

S : Bahasa sehari-hari di Montreal itu Perancis, sehingga saya harus belajar lagi bahasa Perancis. Montreal juga terkenal dingin karena terletak di utara amerika.

F : Memang dingin, sangat dingin. Saya masih ingat tuh betapa menggigilnya saya saat itu.

E : Apalagi saat musim salju ya, bu.

F : Betul pak. Nah, gimana caranya kamu bisa bertahan di tempat dingin kaya gitu?

S : Kan ada teknologi bu. Ada heater dan sebagainya. Saya juga bisa pakai pakaian tebal. Lagipula saya orangnya sociable sih bu. Selama ada teman, saya merasa hidup saya aman. Saya yakin teman-teman saya bisa membantu saya beradaptasi.

F : Tapi orang-orang disana individualis loh. Dan sedikit sekali ada orang Indonesia disana.

S : Kebetulan saya sekarang bekerja di sekolah internasional bu. Saya mulai terbiasa bergaul dengan orang asing. Sejauh ini, saya nggak menemukan ada masalah tuh dengan mereka. Jadi sekalipun nggak ada orang Indonesia, saya yakin saya tetap bisa mendapatkan banyak teman. Untungnya saya mudah bergaul, jadi cukup mudah bagi saya untuk menemukan teman-teman baru.

F : Berarti nanti gelarnya MLIS ya? Master of Library and Information Science?

S : MISt bu. Master of Information Studies.

F : Soalnya saya dulu punya temen juga anak MLIS.

S : Dulunya memang MLIS bu, tapi sekarang ganti nama jadi MISt.

F : Oh iya iya, silahkan Pak Eko.

E : Septian, kenapa kamu memilih kuliah di McGill? Kenapa nggak kampus lainnya aja?

S : Saya sudah mempertimbangkan itu pak. Saya bahkan sampai membuat perbandingan antarkampus. Bapak bersedia untuk lihat?

Pak eko mengangguk

S : Ini pak. (Sambil nyodorin kertas)

image

S : Tapi semakin saya membandingkan, semakin saya yakin bahwa McGill adalah pilihan yang tepat pak.

Semua interviewer tertawa.

S : Iya. Karena biaya kuliah di McGill lebih murah, bahkan jika dibandingkan dengan NTU. McGill juga menawarkan konsentrasi yang saya perlukan, serta sudah terakreditasi ALA

E : Baik, terima kasih (sambil mengembalikan kertas). Setelah kembali ke Indonesia, kau tulis disini mau jadi dosen. Kenapa dosen?

S : Tahun lalu, berdasarkan sebuah riset dari Central Connecticut State University, Indonesia berada pada peringkat ke 60 dunia dalam hal literasi. Artinya, tingkat literasi kita masih sangat rendah. Nah, berdasarkan analisis yang saya lakukan, titik permasalahannya adalah terbatasnya jumlah pustakawan professional di Indonesia. Padahal pemerintah sudah banyak membangun perpustakaan dan mengalokasikan sebagian APBN untuk membeli buku-buku berkualitas dan disebar ke desa-desa. Tetapi karena tidak ada yang mengelola, ya bukunya menumpuk aja. Gaada penggerak untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Kebetulan saya suka mengajar, jadi saya rasa saya bisa membantu bangsa ini dengan cara menjadi dosen ilmu perpustakaan, sehingga saya bisa melahirkan lebih banyak pustakawan professional muda di Indonesia. Harapannya, setelah lulus mereka bisa kembali ke kampung dan mulai membangun budaya membaca dari desa-desa

F : Nah gimana kalau nantinya jadi siklus? Kamu jadi dosen, mengajar mahasiswa, tapi mahasiswanya justru terinspirasi sama kamu dan pengen jadi dosen juga

E : Betul. Berarti pada akhirnya tidak ada yang turun tangan secara langsung untuk menangani masalah minat baca di Indonesia dong?

S : Betul. Saya memang nggak punya wewenang untuk mengatur cita-cita atau karir mahasiswa saya

E : Nah iya, Gak bisa

S : Tapi saya bisa menjadi teladan yang baik untuk mereka. Saya terbuka untuk semua kesempatan kok. Selain menjadi dosen, saya juga ingin menjadi pustakawan. Karena pustakawan memberikan kesempatan untuk saya melakukan trial and error, sehingga saya tidak hanya mampu mengajarkan teori tetapi juga best practice berdasarkan kendala-kendala yang saya hadapi di lapangan. Saya juga akan dengan senang hati membantu jika ada perpustakaan – dimanapun di Indonesia – yang membutuhkan keahlian saya setelah saya lulus nanti. Harapannya sih mereka bisa terinspirasi juga dengan usaha saya meningkatkan minat baca melalui perpustakaan

E : Rencananya mau jadi dosen di mana?

S : Saya mau kembali ke UPI pak. Saya punya reputasi yang cukup baik disana. Semoga bisa menjadi bahan pertimbangan

E : Terus kamu udah bilang sama atasanmu tentang rencanamu untuk jadi dosen?

S : Sudah pak

E : Dia bilang apa?

S : Beliau melarang sih. Katanya jangan jadi dosen, mending lanjut aja kerja di international school

E : Terus kamu bilang apa?

S : Ini panggilan hati saya sih pak untuk jadi dosen. Dan saya rasa ini yang bisa saya lakukan untuk membayar saja kepada Negara ini. Jadi ya saya bersikeras akan jadi dosen

F : Ini saya penasaran. Kamu itu finalis Duta Relawan Muda Indonesia. Apa itu?

S : Itu program yang dilaksanakan oleh DPP PPMI bu. Jadi mereka cari duta untuk meningkatkan kesadaran pemuda tentang pentingnya kegiatan kesurakewlawanan

E : Terus gimana prosesnya sampe bisa jadi finalis?

S : Ya saya daftar, isi formulir online, terus diundang wawancara. Diminta menjelaskan program kesukarelawanan yang pernah saya lakukan

F : Terus kamu bawa program apa waktu itu?

S : Saya menjelaskan mengenai komunitas yang saya dirikan. Namanya The Bottles Indonesia

E : Apa itu?

S : Komunitas yang berbasis di Bandung. Intinya, kami memberikan les bahasa Inggris secara gratis untuk anak-anak di sekitar kampus, tapi mereka harus wawa 5 botol bekas per pertemuan. Botol yang terkumpul kemudian kami jual, uangnya digunakan untuk membeli spidol dll.

F : Terus program ini disponsori PPMI?

S : Bukan bu, gaada hubungannya. Ini Cuma program yang saya presentasikan untuk bisa menjadi finalis Duta Relawan Muda Indonesia

E : Selain The Bottles Indonesia, kegiatan sukarelawan apa lagi yang pernah kamu ikuti?

S : Saya cukup aktif mengikuti kegiatan sukarelawan pak. Saya dulu sukarelawan Pekan Literasi Asia Afrika, saya juga pernah membantu memperbaiki perpustakaan panti asuhan di Lembang, membangun perpustakaan kecil di Desa Jatisura Indramayu.. Kebanyakan yang berkaitan sama literasi sih pak

Semua juri nulis sambil ngangguk-ngangguk

E : Nah Septian, kamu ini belum dapat LOA (Letter of Acceptance) kan?

S : Belum Pak.

E : Sejauh mana kamu berusaha untuk dapat LOA? Sudah korespondensi dengan profesor?

S : Sudah Pak, tapi belum dibalas. Saya juga sudah mengecek persyaratan-persyaratan untuk masuk McGill. Sudah dapat surat rekomendasi juga.

E : Dari?

S : Dari pembimbing skripsi pak. Dan saya harus meningkatkan skor TOEFL lagi. Tinggal itu aja sih Pak.

E : Gimana kalo gagal dapet LOA? Ada rencana lain?

S : Gak ada rencana lain Pak. Saya yakin saya bisa dapat LOA nya dalam setahun. Tinggal ningkatin bahasa Inggris kok pak. Lagipula saya yakin orang yang mau ngambil jurusan ini masih jarang banget, jadi saya ngga harus berkompetisi dengan terlalu banyak orang. Saya yakin bisa dapet LOA.

A : Kapankah waktu tersulit yang pernah kamu alami?

S : Ketika mulai kerja Pak. Karena pada dasarnya saya adalah orang yang suka bergaul, sehingga sulit bagi saya untuk hidup tanpa teman. Saat itu saya baru lulus, dan jarak antara kelulusan dan hari pertama kerja itu cuma 4 hari. Jadi saya agak kaget waktu itu. Saya harus meninggalkan semua teman saya di Bandung, pindah ke kota baru yang sangat asing bagi saya, dan mulai kehidupan baru. Saat itu saya belum punya teman, gak punya TV, gak ada hiburan, mau main juga gak tau mau kemana. Jadi hidup saya selama 2 bulan pertama itu cuma kerja-kosan-kerja-kosan. Setiap hari. Membosankan. Tapi lama kelamaan, setelah saya punya teman, saya merasa hidup saya jadi lebih menyenangkan.

E : Pertanyaan terakhir. Ini kamu beneran nulis artikel di jurnal ilmiah?

S : Iya Pak.

E : Sudah terakreditasi?

S : Wah kurang tau saya Pak terakreditasi atau belum. Tapi itu dari UPI sih Pak.

E : Oh gitu.. tapi ini skripsi kamu?

S : Iya Pak. Pembimbing saya bilang skripsi saya bagus, jadi dijadikan artikel jurnal.

E : Berarti kamu penulis pertama,kedua dosen pembimbing jadi penulis kedua dan ketiga?

S : Betul Pak.

E : Baiklah kalau begitu, Sukses ya Septian.

S : Amin. Terima kasih Pak.

Pak eko menyodorkan tangan, yang kemudian saya sambut. Saya menyalami ketiga pewawancara, kemudian meninggalkan ruangan dengan hati puas. Tinggal nunggu pengumuman nih. Mohon doanya ya teman-teman. Semoga sukses menyertai kita semua.

Bismillah 🙂

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai