prawitamutia:

cerita

konon, manusia diperintahkan untuk menyampaikan nikmat yang didapat, menyebutkannya, sebagai bentuk rasa syukur. lalu begitulah kita semua, berbagi tentang kebahagiaan-kebahagiaan kita: keindahan tempat yang kita kunjungi, kesenangan kita bersama seseorang, dan seterusnya.

sadar nggak sadar, kadang bercerita kita membuat orang lain sedih. seorang sahabat saya misalnya, bilang dirinya sedih karena ASI-nya tidak sebanyak saya. sejak saat itu, saya berhenti total dari berbagi cerita memompa dan menyusui. yang saya pahami, kegalauan seorang istri/ibu dan peranannya itu jauh berbeda levelnya dengan kegalauan seorang remaja dan asmaranya.

kesimpulan: seringkali yang salah dari bercerita kita bukanlah berceritanya, melainkan kepada siapanya. saat kita khawatir bahwa cerita kita bisa membuat orang lain sedih, iri, cemburu, dan hal-hal kurang baik lainnya, saat itulah ujian datang kepada kita untuk menahan diri.

anehnya juga, kadang kita justru malas bercerita kepada orang-orang yang menanti cerita dari kita. atau, bercerita tetapi isinya keluhan semua. ayah dan ibu kita misalnya, mereka akan jauh lebih bahagia jika mendengar bahwa kita menikmati kuliah yang sedang kita jalani–alih-alih keluhan tentang banyaknya tugas. pasangan kita misalnya, dia akan ikut bangga jika mendengar bahwa kita mencintai pekerjaan kita–alih-alih betapa lelahnya kita. anak-anak kita misalnya, kakak-adik kita misalnya, saudara, tetangga dekat.

bukankah mereka yang paling mendoakan kita? bukankah mereka yang merindukan kita? menyayangi kita? orang-orang terdekatmu adalah orang-orang yang paling berhak atas cerita bahagiamu, sebab mereka jugalah yang paling banyak berkorban dan berjuang untukmu.

jika tidak ada cerita baik yang bisa dibagi, belajarlah menahan diri dari bercerita yang tidak baik–sebab itu tanda tidak bersyukur. jika ada cerita baik yang bisa dibagi, belajarlah untuk memilah dan memilih pendengar cerita–sebab bersyukur jangan sampai membuat orang lain tidak bersyukur.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai