Jika masih menganggap bahwa sumber kebahagiaan berasal dari uang, maka sebenarnya uang itu hanyalah kertas pindah. Uang tak selamanya selalu berada dalam genggaman. Pasti akan ada saatnya kita tidak bahagia.
Jika ada yang menganggap bahwa jabatan adalah sumber kebahagiaan, maka sewaktu-waktu jabatan itu akan turun. Pasti akan ada saatnya kita tidak bahagia.
Jika ada yang menganggap bahwa pujian adalah sumber kebahagiaan, maka ada kalanya mendapat caci. Pasti akan ada saatnya kita tidak bahagia.
Jika dekat dengan seseorang menjadi sumber kebahagiaan, maka ada kalanya terjadi perpisahan. Pasti akan ada saatnya kita tidak bahagia.
Maka carilah kebahagiaan yang tak akan pernah terguncang oleh situasi apapun, yakni Laa Illaha Illallah.. Tiada Tuhan selain Allah.
Tidak menuhankan harta, jabatan, manusia ataupun yang lainnya.Sebab sesungguhnya sumber kebahagiaan itu hanyalah berasal dari Allah.
“Amat sangat berbahagia orang yang mensucikan dirinya. dan amat sangat sengsara orang yang mengotorinya”.Maka hindarilah mencari sumber kebahagiaan kepada selain Allah.
Terlebih mencari kepada manusia. Sebab manusia tak mampu. Makhluk itu sama seperti kita, sama-sama banyak persoalan, sama-sama lemah, tidak berdaya, kurang bijaksana, ilmu sedikit, wawasan terbatas.Carilah kebahagiaan yang tidak berbatas kasih sayangnya, yakni dari Allah SWT.
Jika mencari kebahagiaan dari makhluk, pasti akan menemukan kecewa. Maka sungguh berbeda, jika mencari kebahagiaan kepada Allah. Sebab Allah Maha Luas kasih sayangnya. Tak akan pernah habis walaupun Allah menyayangi banyak makhluknya.
Puji-caci, sehat-sakit, didekati-dijauhi, mudah-sulit, naik-turun jabatan, kaya-miskin, sungguh semua itu tidak ada apa-apanya. Selama Allah menurunkan ridho-Nya, hal itu sudah sangat cukup bagi kita.
Alangkah mengherankan jika ingin berbahagia akan tetapi tidak pernah bersungguh-sungguh kepada sumber pemilik segalanya.
Ibadah hanya waktu sisa. Ketaatan dikesampingkan. Maksiat masih giat.
Astagfirullah 😥@tulisdulu

Squad Magang di Sub Direktorat Perdagangan Dalam Negeri BPS RI 🙋
Ceritanya 2 hari kemarin kami konsinyasi Survei Perdagangan Antar Wilayah (PAW) di hotel. Hari ini saatnya kami kembali duduk di ruangan tercinta. Setelah ikut konsinyasi ini, kami jadi tau kerja keras orang-orang dibalik publikasi survei yang bahkan bisa berdiskusi panjang (sampai malam) untuk membahas analisis data yang diperoleh dan cara menyampaikan hasil survei agar mudah dipahami pembaca dan pengguna data. Tentunya ini juga tak terlepas dari kerja keras petugas yang mengumpulkan data di lapangan.
Mungkin kami masih bantu-bantu sedikit saja kali ini, tapi banyak pemahaman baru yang didapet. So far, I’m so excited.
Daaan senengnya lagi di subdit ini kami punya keluarga baru!
15 November 2017
In frame : Sammy, Jessica, Me, Hotma, Jimmy
📷 Achmad Kautsaro

dear ayah, aku kehabisan kata untuk mengungkapkan betapa bersyukurnya, betapa bahagianya memiliki ayah terbaik sedunia seperti engkau.
ayah yang paling menjaga anak-anaknya, yang paling khawatir kalo anaknya pulang malem, yang paling nggak mau anaknya kenapa-napa.
tapi ayahku juga yang mengajarkan untuk kuat dan mandiri. makasih ayah, sayang banget sama ayah.
selamat hari ayah 💕
:“)
492 km dari rumah
12 November 2017
A : nikmati wae. dhilit ngkas ra iso ngono meneh to
(nikmati saja. bentar lagi nggak bisa kayak gitu lagi kan)
Me : iyo bener :“
so true. kadang kita terlalu merisaukan yang di depan sampai kita lupa menikmati masa sekarang. nikmati. syukuri.
dan selamat konsinyasi besok pagi :))
Take risks. If you win you will be happy; if you lose you will be wise.
Semestinya Kita Menyadari Ada Banyak Warna dalam Hidup
Agustine Dwiputri lewat artikelnya di Harian Kompas (4/11/2017), memaparkan bagaimana pemikiran negatif dapat membuat seseorang terpuruk. Agustine mengutip seorang psikolog klinis Linda Blair, di bukunya, Straight Talking (2008), bahwa ada 12 keyakinan negatif yang sering terjadi pada diri kita. Salah satunya adalah pemikiran hitam-putih.
Saat kita mengalami kecemasan, maka terbentuk polarisasi pikiran. Hal ini seperti bagaimana kita memandang sesuatu, bahwa “kita mesti melakukan ini dari pada melakukan itu”, atau “seandainya saya tidak melakukan hal tersebut”, dan kita berpikir bahwa solusinya terbatas, yaitu kalau kita tidak melakukan A maka kita melakukan B.
Pemikiran bahwa yang salah itu ‘kita’ atau ‘orang lain’, adalah pemikiran semacam hitam-putih. Kita memandang suatu peristiwa karena dua faktor tersebut. Jika kita menyalahkan diri sendiri, maka bisa jadi itu membuat kita terus berpikiran negatif pada diri sendiri. Sebaliknya, apabila kita selalu saja mencari kambing hitam di luar diri kita, niscaya itu pun berakibat buruk, yang mana kita tidak akan bisa menerima kesalahan pada diri kita. Sehingga ujungnya, akan dengan mudah mencari-cari alasan.
Galau
Teman-teman di tumblr acap kali bertanya (kepada saya dan juga kepada teman-teman yang lain), mengenai permasalahan yang mereka hadapi. Tumblr memang seakan dihuni oleh orang-orang yang berjiwa bijaksana. Beraneka ragam tulisan diunggah untuk menggambarkan bagaimana kita menghadapi kehidupan yang rata-rata perih, atau pun bagi sebagian lainnya menceritakan peristiwa yang dialami dan pemikiran-pemikiran apa yang bisa dibagikan.
Para pemilik beberapa akun tumblr kerap bisa kita lihat memposting pertanyaan-pertanyaan cum jawaban, yang diajukan oleh pengikutnya. Sebagian adalah pertanyaan seputar permasalahan pribadi, sebagian lainnya bersifat umum. Ya, semua itu termasuk interaksi yang baik.
Namun, sebagiannya merupakan pertanyaan yang hampir serupa. Seperti, “Gimana, sih, cara melupakan mantan?” atau “Menurutmu, siapa orang yang harus aku pilih?”. Barangkali kita semua pernah mengalami perisitiwa yang serupa. Itu manusiawi. Semua orang mengalami sebab kita akan melewati fase tersebut sebelum menuju tahap kedewasaan. Namun, kita akan berbeda-beda dalam mengahadapinya. Sebuah kegalauan.
Warna-Warni
Kegalauan bisa dialami oleh siapa saja. Bahkan, pada tahap yang mengkhawatirkan bisa membuat seseorang mengalami depresi sampai dengan frustasi. Ada kalanya ditambahkan dengan pikiran-pikiran yang negatif. Bayang-bayang yang sebetulnya tidak terjadi, tetapi kita pikirkan dan imajinasikan dalam kata: seandainya atau jangan-jangan.
Itulah yang disebut oleh Linda Blair sebagai keyakinan negatif yang ada pada diri kita. Pemikiran hitam-putih akan mengancam batin kita terus menerus.
Padahal kehidupan itu penuh warna. Sebuah kejadian terjadi karena banyak faktor. Bukan melulu karena kesalahan kita atau karena orang lain yang pernah membuat luka di hati kita. Sebab hidup ini berjalan karena banyak hal yang bergerak yang membuat sebab dan berakhir pada akibat. Sebuah hukum sebab-akibat.
Penjelasan di atas tidak sempurna tanpa memasukkan capur tangan Tuhan. Seperti yang beberapa kali saya tulis. Takdir adalah kehendak-Nya yang sempurna.
Lalu, apakah kita akan terus-menerus berpikiran negatif?
memandang dari sisi lain 😊
Kehormatan Laki-laki
“Mbak Hana, kehormatan laki-laki itu terletak di
pekerjaannya”Saya ingat, beberapa waktu lalu teman kantor saya bicara
begitu. Ia sudah memiliki istri dan dua anak. Waktu itu ia bercerita tentang
perjalanan hidupnya, khususnya karier, hingga membawanya terdampar ke sebuah
organisasi yang saat ini saya juga bekerja didalamnya.Saya yang waktu itu menyimak, diam-diam mengangguk sepakat.
Pekerjaan bagi laki-laki menggambarkan kedudukannya dalam rumah tangga.
Laki-laki akan cenderung lebih percaya diri ketika memiliki pekerjaan yang
penghasilannya cukup untuk menghidupi anak dan istri. Saat ini mungkin banyak muncul fenomena istri yang posisinya cenderung lebih tinggi daripada pekerjaan suami. Dan
beberapa yang saya dengar, hal itu memang cukup menimbulkan masalah di rumah tangga.Ah ini dilema. Di satu sisi saya setuju dengan kedudukan
pekerjaan laki-laki yang lebih tinggi kemungkinan akan membuat bahtera rumah
tangga menjadi “aman”. Karena dengan itu laki-laki merasa dihargai. Diakui. Karena sebagai pemimpin, sudah selayaknya berada setingkat di atas istri.
Tapi di sisi lain
saya juga berpikir; apa salahnya perempuan punya pencapaian atau karier yang lebih
baik? benarkah harus selalu berada di bawah suami?Sampai akhirnya saya bertemu Pak Jumadi. Seorang bapak
beranak 3 yang mengidap penyakit kanker kulit. Semacam kutil yang besar-besar
hidup di tangan dan kakinya. Teman-teman pernah tahu berita tentang manusia
akar? Nah kurang lebih penampakannya seperti itu.Waktu itu hari Selasa. Saya bersama rekan di kantor
melakukan pendampingan pada beberapa pasien tak mampu ke rumah sakit. Salah satu
dampingan kami ialah Pak Jumadi. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya,
Pak Jumadi sedang menderita sakit. Tapi kali ini, agenda kami ke rumah sakit
ternyata bukan untuk mendampingi Pak Jumadi. Melainkan anaknya yang masih
berusia 10 bulan, yang mengidap penyakit step atau kejang-kejang.Sedari tadi Pak Jumadi sibuk. Mendaftarkan antrian,
mengambil surat rujukan, dan menyiapkan segala berkas untuk keperluan pengobatan.
Sambil mengenakan jaket tebal (untuk menutupi tangan dan kakinya) dan tas
punggung (berisi berkas keperluan rumah sakit), ia mondar-mandir di sekitar
rumah sakit. Saya yang melihat, tentu salut padanya. Padahal ia sedang sakit.
Sakitnya pun bukan sakit biasa. Tapi tak sedikitpun ia menyerahkan urusan ini
kepada orang lain. Sekalipun kami hadir untuk membantunya.“Nanti sore saya baru berangkat ke RSCM sendiri Teh, setelah
anak selesai diurus” begitu katanya.Saya terkagum. Meski bukan dengan kata-kata cinta, siapapun
pasti tahu betapa besar cinta Pak Jumadi pada keluarganya.Saya pun penasaran dengan kegigihan Pak Jumadi dan bertanya
pada sang istri tentang bagaimana Pak Jumadi menghidupi keluarganya di tengah
kondisinya yang seperti itu.“Bapaknya mah kerja apa aja teh. Yang penting halal dan bawa
uang. Saya juga yah gimana ya, kasian. Tapi orangnya tanggung jawab sekali sama
keluarga…” kata istrinya.Saya yang awalnya begitu khawatir dengan kondisi keluarga Pak Jumadi seketika menjadi tenang. Karena lihatlah; sekalipun pak Jumadi tak
punya pekerjaan yang jelas, ia tetap berusaha. Mengerahkan kemampuan terbaiknya
untuk bertanggung jawab menghidupi keluarga.Sehingga dari Pak Jumadi, saya belajar, bahwa kehormatan
laki-laki bukan terletak pada pekerjaannya. Apakah lebih tinggi, lebih rendah,
atau sejajar dengan istri. Tapi pada kesungguhannya bertanggung jawab untuk keluarga.Dalam hati saya berdoa, semoga kerja keras Pak Jumadi
bertanggung jawab menafkahi keluarga menjadi amal terbaik di sisi-Nya… juga untuk seluruh Bapak-bapak di dunia yang tulus ikhlas bekerja demi orang-orang yang dicintainya. Keluarganya.Karena sesungguhnya keluarga adalah ladang amal yang seringkali kita lupa; betapa mulianya!

so blessed to be what I am today, to have what I have today. so many things ahead, I know some of them might not as easy and happy like this time, there will be sorrow sometimes, but here we are, born with faith, lets do our best and keep Allah SWT in our hearts 😁
Menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia.
Kecantikanmu itu berbeda. Aku melihatnya setiap hari dengan mata kepalaku. Cantikmu itu mengalir dalam sifat, seperti ketaatan, keikhlasan, kesabaran, dan hal-hal yang membuatku merasa tentram.
Aku sengaja menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia. Sebab, dunia kita adalah dunia yang kita bangun dengan kepercayaan bahwa yang kita lihat dengan mata ini adalah fana. Semuanya akan berakhir, cantik akan menua, kekayaan takkan dibawa mati, dan hal-hal lain yang akan berakhir.
Aku menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia, biar orang melihat dan merasakan kecantikanmu dari akhlakmu. Bukan dari hasil riasan berjam-jam dan baju kekinian yang kemudian kamu pajang di halaman media sosialmu. Orang akan mengenalmu dari kebaikan budi, kebermanfaatan, peran, pemikiran, kecerdasan, sumbangsihmu pada umat, dan hal-hal lain yang jauh lebih bermakna dari pakaian dan riasan.
Aku akan menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia. Agar kamu bisa menjadi dunia yang terbaik bagi anak-anak kecil yang lahir di rumah tangga kita. Menjadi dunia yang layak untuk tumbuh besar mereka. Dunia yang akan mengajarkan mereka dan membuat mereka tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.
Biar dunia kita ini sunyi, sepi.
Kita tidak harus dikenal banyak orang untuk bisa menjadi lebih bermanfaat, untuk memiliki nilai lebih sebagai manusia. Kita hanya perlu menjadi orang baik, berbuat baik, membantu banyak orang, berkata-kata yang baik, lemah lembut terhadap semua makhluk, bekerja dengan ikhlas, berbakti kepada orang tua, berbuat baik pada tetangga, menyanyangi anak-anak, dan semua kebaikan lain yang bisa kita lakukan tanpa harus berdandan terlebih dahulu, tanpa harus memiliki kuota internet untuk memuatnya dalam live video.
Kita tidak perlu mencatatnya, dua malaikat kecil di sisi kita sudah melakukannya untuk kita. Setiap hari, tanpa lelah.
Untuk itu, izinkan aku untuk menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia, istriku 🙂
Yogyakarta, 7 November 2017 | ©kurniawangunadi









