“Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya
menuju peran peradabannya.” – Institut Ibu Profesional
Salah satu nasehat pernikahan yang sering saya terima dari seorang Ibu yang menjadi teman diskusi saya adalah tentang pentingnya memikirkan dan merencanakan apa yang akan dilakukan setelah menikah. Beliau bilang, “Menikah itu tidak hanya bahagia, senda gurau dengan suami, berkasih sayang, dan merenda mimpi-mimpi bersama. Lebih jauh dari itu, visi misi ibadah adalah yang paling pertama dan utama. Kalau menikah bukan karena Allah, lalu mau karena siapa? Coba dipikirkan dalam-dalam, setelah menikah apa yang akan dilakukan untuk agama? Bagaimana peranan terhadap dakwah? Rumah tangga seperti apakah yang akan dibangun? Bagaimana kelak akan mendidik anak-anak agar siap menjadi pejuang Islam?” dan seterusnya.
Ah yaa, Institut Ibu Profesional juga ternyata mengingatkan saya bahwa menikah bukanlah hanya tentang membangun ikatan antara dua orang insan, melanjutkan keturunan, atau menyempurnakan agama saja, tapi juga untuk membangun peradaban. Dalam membangun peradaban, rumah adalah pondasi ‘bangunan peradaban’ dimana kita dan suami kelak diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita.
Tugas utama kita kelak dalam membangun peradaban adalah mendidik anak yang merupakan amanah dari Allah sesuai dengan kehendak-Nya dan bukan sesuai kehendak kita. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita menjalankannya dengan sungguh-sungguh, merencanakan, dan juga mempersiapkannya sejak anak tersebut belum terlahir, dan bahkan lebih jauh lagi sebelum pernikahan terlaksana. Eh tunggu-tunggu, Allah Maha Baik ya, kita belum dipertemukan dengan seseorang pilihan-Nya itu mungkin karena kita masih diberi banyaaaak sekali kesempatan untuk belajar dan mempersiapkan. Yuk, jangan disia-siakan!
Kalau begitu, apa sebenarnya langkah pertama yang bisa kita lakukan untuk membangun peradaban? Dari mana bisa memulainya?
Jika masih dalam tahap pra-nikah, mulailah dengan look into yourself dengan menanyakan hal-hal mendasar kepada dirimu sendiri, “Bagaimana proses saya dididik oleh orangtua dulu? Adakah dari proses itu yang membuat saya bahagia? Adakah dari proses itu yang justru membuat saya sakit hati, dendam, atau terluka sampai sekarang? Apabila ada, sanggupkah saya untuk memaafkan kesalahan masa lalu orangtua dan kembali mencintai dan menghormati mereka dengan tulus?” Meski sulit dan perlu memanggil ulang banyak ingatan, dijawab ya, sebab,
“Orang yang belum selesai dengan masa lalunya akan menyisakan banyak luka ketika mendidik anaknya kelak.” – Institute Ibu Profesional
“Parenting is all about wiring.” – Elly Risman
Bagaimana untuk yang sudah menikah? Pertama, temukan potensi
unikmu dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu kamu memilih dia? Apa yang membuatmu jatuh cinta padanya? Kedua, lihat dirimu,
apa keunikan positif yang kamu miliki? Mengapa Allah menciptakanmu di muka
bumi ini sampai berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suamimu? Apa pesan rahasia Allah terhadap dirimu di muka bumi ini? Ketiga, lihat anak-anakmu, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahimmu yang dipilih untuk tempat
bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersamamu? Mengapa kamu yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Apa misi spesifik Allah kepada keluargamu sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah
kita? Keempat, lihat
lingkungan dimana kamu hidup saat ini. Mengapa bisa bertahan hidup dengan
kondisi alam demikian? Mengapa Allah menempatkan
keluargamu disini? Mengapa keluargamu didekatkan dengan
komunitas-komunitas yang berada di sekelilingmu saat ini?
Selamat berkontemplasi, yaa! Semoga kelak Allah izinkan agar kita mengambil peran dan bagian untuk membangun peradaban dan memulainya dari dalam rumah (tangga).
Referensi: Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional
_____
Tulisan ini adalah resume materi perkuliahan di Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional yang saya ikuti pada bulan Mei – Juli 2017. Semua informasi di dalamnya saya dapatkan dari kelas tersebut dan saya hanya menuliskannya kembali dengan bahasa sendiri agar lebih mudah dipahami oleh pembaca.
_____
Untuk membaca tulisan saya yang lain tentang Institut Ibu Profesional, silahkan klik disini. Untuk membaca tulisan lain terkait pranikah dan parenting, silahkan klik disini. Semoga Allah memampukan kita semua untuk memahaminya dengan benar dan menyampaikan kita pada kesempatan untuk mengaplikasikannya. Baarakallahu fiikum!
_____
Picture source: Pinterest
Thank you, Sir!
We found friendship, guidance, discipline and love, and almost everything in you. We will always be thankful to you for making our future brighter.
Terima kasih untuk satu tahun yang berkesan, Pak. Terima kasih juga untuk selalu mendukung kami untuk terus menulis, belajar dan berkarya seperti Bapak. Sehat selalu, Sir!
“Youth is a blunder, manhood a struggle and old age a regret”
“Kamu bisa petik ilmu dari tempat kerja sebanyak-banyaknya sebelum diaplikasikan di bisnis sendiri” ujar papa di obrolan siang itu. “Andai bisa muda lagi, papa mau gali ilmu sebanyak mungkin dari satu perusahaan sampai cukup terus pindah perusahaan untuk belajar hal lain”. Nasihatnya bagus sekali. Tapi apa mau dikata, anak bungsu yang sering beliau nasihati ini tidak tertarik untuk bekerja di perusahaan lain kecuali pada bisnis yang tengah digelutinya.
Mungkin hampir sebagian dari kawan-kawan pernah mengalami hal serupa. Dalam pengalaman saya, diskusi semacam itu tidak hanya terjadi dalam satu-dua kesempatan saja. Setiap ada topik yang menyerempet pembahasan karier, saran yang berasal dari pengalaman pribadi papa di masa lalu sebagai pegawai selama puluhan tahun, selalu disisipi pada diskusi yang tengah terjadi.
Wejangan itu terdengar ribuan kali hingga akhirnya saya menyadari sesuatu. Walau di satu sisi papa “tidak berhasil” mencetak saya sebagai bankir seperti profesi beliau dulu, di sisi lain ada kesimpulan berharga yang layak untuk diambil hikmahnya. Bahwa, masa tua kita akan diisi oleh kisah-kisah kita di masa muda.Jadi jangan heran kalau lisan bapak-ibu atau kakek-nenek kita ringan mengulang cerita perjuangan mereka selama puluhan tahun dulu kepada orang-orang muda.
Oleh karenanya, tak sesaat pun dari kuota masa muda layak dihabiskan untuk hal yang bahkan enggan kita ceritakan di masa tua nanti. Hal-hal yang tidak jelas juntrungannya, perkara-perkara yang membuang waktu atau pengalaman menyakiti diri sendiri. Beberapa dekade dari sekarang, setiap detik dari pengalaman saat ini akan dikisahkan seperti kita tengah membaca daftar riwayat hidup sendiri.
Bukankah kita tidak mau mengungkap hal-hal negatif pada daftar riwayat hidup yang disusun untuk ditunjukkan pada orang lain?
Hal-hal baik di masa muda, akan jauh lebih menghangatkan jiwa kita di masa tua dan menjauhkan kita dari masa senja yang dilemahkan oleh rentetan pengandaian. Andai dulu ayah berbuat ini, andai dulu ibu meraih itu, andai dulu kakek menjadi ini. Tak heran kalau seorang bijak pernah berujar, “Old age is like everything else. To make a success of it, you’ve got to start young”.
Waktu terus berlalu dan bagaimanapun, nanti, mungkin hari itu akan tiba. Masa tua akan dipijak dan tidak akan ada lagi kesempatan untuk mengubah masa muda beserta riwayat hidup yang hendak disampaikan. Semua pengalaman masa lalu akan membeku dan terlihat tak ubahnya seperti galeri seni yang tak bisa kita ubah isi pajangannya serta susunan karyanya.
Saat tulisan ini tuntas dibaca, artinya kita masih diberikan kesempatan untuk memperjuangkan masa dewasa sehingga bisa menambah deretan kisah baik yang bisa disampaikan di masa tua nanti.
Kita perlu berjanji untuk menyeksamai pengalaman semasa muda agar ia terisi dengan cerita-cerita baik yang bertumbuh melanggeng. Cerita yang senantiasa membawa debar-debar inspirasi, kebanggaan dan semangat bagi pendengarnya kapanpun ia dikisahkan.
Kita sedang berada di tengah proses individual untuk menghidupkan plot cerita yang sepenuhnya berbeda. Maka, tak perlu merisaukan plot hidup orang lain karena masih ada misi besar untuk kita bisa merangkai pengalaman saat ini menjadi sebaik-baik kisah masa depan. Nanti, kalau waktunya tiba, cerita itu akan terus diperdengarkan tanpa rasa jemu hingga ribuan kali. Lagi dan lagi dan lagi sambung menyambung dari satu telinga ke telinga lainnya hingga cucu-cicit kita.
Lalu, kisah seperti apa yang hendak kita sampaikan di masa tua kelak?
Because women have rights to make their dreams come true; to have a happy family while pursuing her career. So, just get it, do your best and go for it! I am curious to see how you would be in the future!
BENAR PRODUKTIF ATAU TERNYATA HANYA MERASA PRODUKTIF?
Sepekan yang lalu, saya merasa banyak hal terkait waktu di keseharian saya sedang berantakan. Indikasinya? Mudah saja, beberapa yang bisa saya ceritakan misalnya saya lebih sering pulang malam dari kantor, kurang punya banyak waktu untuk menulis, snooze alarm beberapa kali di dini hari, makan semua dimasakin Ibu, dan beberapa kali merasa kejar-kejaran dengan deadline pengumpulan tugas harian di jam 23.59 malam. Menyadari semua itu, saya merasa perlu melakukan sesuatu, hingga saya pun menyusun ulang apa saja yang menjadi amanah saya dalam sepekan dan mencoba memanfaatkan waktu-waktu senggang untuk bisa mengerjakan to do list harian.
Allah Maha Tahu kalau semua itu belum cukup mendongkrak saya, hingga atas seizin-Nya dua buah undangan mengisi acara pun saya terima. Tak tanggung-tanggung, temanya adalah tentang produktivitas. Saya jadi curiga, jangan-jangan inilah cara Allah membuat saya belajar dengan cara yang lain, yaitu dengan mendengarkan diri saya sendiri berbicara perihal produktivitas agar saya kembali ingat apa yang perlu saya lakukan. Maa syaa Allah, Tabaarakallahu, kegiatan ini membuat saya semangat lagi! Saya ingin bercerita di dashboard biru dongker ini juga tentang itu semua. Disimak, ya!
Produktif? Apa Sih Artinya?
Berbicara tentang produktif dan produktivitas, kiranya kita perlu berhati-hati nih, jangan-jangan selama ini kita hanya merasa produktif tapi ternyata belum benar-benar produktif karena salah mendefinisikan produktif itu sendiri. Kalau begitu, yuk samakan dulu frekuensi kita tentang arti produktif!
Merujuk
pada KBBI, produktif berarti (1) bersifat atau mampu menghasilkan; (2)
mendatangkan hasil, manfaat, dan keuntungan; (3) mampu menghasilkan terus, dst. Tapi, sederhananya,
bagi saya,
produktif berarti terus bergerak. Bukan berarti gerak-gerak tanpa
arah, tapi gerak-gerak ibadah kepada Allah yang dapat diwujudkan melalui apa
saja, seperti misalnya belajar, bekerja, berkarya, berbagi, mengabdi, dan juga
kegiatan lain apapun yang ada dalam koridor kebenaran dan kebaikan.
Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa, instead
of productive, be afraid that you may be just busy. Ya, sibuk sama sekali
berbeda dengan produktif meski mungkin terlihat sama. Sibuk adalah
kegiatannya banyak, pekerjaannya banyak, deadlinenya menumpuk, janji temunya
berjejer, dan seterusnya, tapi semua hanya dilakukan untuk dunianya saja tanpa
ada kontribusi sedikitpun untuk kehidupan akhirat karena tidak diniatkan untuk
beribadah kepada Allah. Sebaliknya, produktif adalah mengerjakan segala
sesuatunya untuk Allah, berharap segala sesuatu itu akan menjadi penolong kelak
di akhirat. (Pelajari lebih lanjut tentang ini dengan menonton sebuah video di Youtube dengan judul Run to be Eternal pada link berikut ini)
Kalau Muslim(ah) yang Produktif, Itu Kayak Gimana?
Menurut sebuah
artikel yang ditulis oleh muslimdaily.com, muslim(ah) produktif adalah ia yang
menggunakan seluruh sumber daya yang ia miliki dan yang ada di sekitarnya untuk
berjuang dan bekerja sekuat tenaga agar dapat mencapai posisi yang tinggi kelak
di surga. Maka, dari penjelasan tersebut kita dapat mengambil makna bahwa
muslim(ah) produktif adalah ia yang hidupnya senantiasa berisi kebaikan dan
ibadah-ibadah kepada-Nya yang diwujudkan melalui apa saja sebab misinya adalah
tentang bagaimana menjadikan dunia ini sebagai ladang amal yang akan dipanen di
akhirat.
Memangnya, apa sih yang membuat kita perlu menjadi seorang muslim(ah) yang produktif?
Pertama, sebagai anak
muda, kita semua memiliki energi untuk bergerak yang sangat besar, sayang
sekali jika energi tersebut digunakan untuk lebih banyak diam, galau, dan
mengurusi hal-hal yang tidak penting seperti cinta dan perasaan yang tidak
karuan. Sebaliknya, energi yang besar itu sangat lebih dari cukup untuk membuat
kita produktif bergerak dalam mengupayakan kebermanfaatan.
Kedua, we
are not only live once. Kita tidak hidup sekali, sebab di akhirat nanti kita
akan dihidupkan kembali untuk menghadap Allah dan mempertanggungjawabkan setiap
yang kita lakukan di dunia. Jika kita mengisi hidup dengan lebih banyak
membuang-buang waktu, galau, dan tidak menjadi hamba yang produktif dalam
kebermanfaatan, bagaimana kita kelak akan mempertanggungjawabkan semuanya? Oleh karena itu,cseorang muslim(ah) yang menggenggam iman di dalam hatinya akan memahami bahwa dalam setiap gerak-geriknya di dunia ada Allah yang selalu mengawasi, maka ia akan paham bahwa setiap detik akan dipertanggungjawabkan.
Bagaimana Caranya Supaya Bisa Jadi Produktif?
Pertama, milikilah niat yang lurus
dan wujudkanlah dengan serius.
Mengapa harus berniat lurus? Sebab niat ini
adalah penentu, yang saking pentingnya sampai Allah ingatkan kita dalam
Al-Qur’an surat Al-Furqan ayar 23,
“Dan Kami tampakkan apa yang dahulu telah
mereka kerjakan lalu Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.”
Nah lho?!
Ternyata ada lho amalan-amalan yang kelak akan berakhir menjadi bagaikan debu yang
beterbangan, yaitu sia-sia dan tidak mendapat pahala karena tidak dilakukan
dengan ikhlas karena Allah.
Kedua, ambilah kesempatan dan proaktif dalam berbuat baik. Tidak perlu menunggu
ajakan teman, tapi jadilah yang mengajak. Tidak perlu menunggu kolaborasi, tapi
ciptakanlah kolaborasi. Tidak perlu menunggu disuruh, tapi lakukanlah dengan
inisiatif yang tinggi. Terus kalau sendirian kan engga ada teman, gimana, dong? Mulai dulu saja setulus hatimu, sebab menjadi
produktif secara tidak langsung berarti bahwa kita memancarkan radar
produktivitas yang menarik orang-orang dalam frekuensi yang sama, sehingga entah
bagaimana akan Allah pertemukan dengan orang-orang yang bahagia melakukan
kebaikan dalam hidupnya
Ketiga, belajar, belajar, dan terus belajar. Jangan salah, belajar ini dapat dilakukan melalui apa saja, tidak harus selalu di dalam kotak-kotak
persegi empat ruang kelas atau berlembar-lembar buku, sebab semua hal berpotensi
menjadi pembelajaran bagi kita.
Keempat, fokus
dan sungguh-sungguhlah dalam melakukan kebaikan dan jangan biarkan ada banyak ruang yang tersisa untuk mengurusi hal-hal recehan. Ini tentu tidak mudah, karena ternyata ada banyak sekali hal kecil di sekitar kita yang berpotensi menjadi distraksi, terutama yang menggoyangkan fokus kita dari fokus menjalankan tugas ibadah kepada Allah. Contoh paling umumnya adalah godaan lawan jenis! Nah lho?!
Kelima, sadari
potensi diri dan pikirkanlah kebaikan apa saja yang bisa dilakukan dengan
potensi itu. Mengapa? Karena potensi diri ini bagaimana pun adalah titipan dari Allah, yang kelak pasti akan menuntut pertanggungjawaban. Lalu, bagaimana kelak kita akan menjawab tanya Allah tentang untuk apakah potensi diri ini digunakan?
Tips dan Tools Productivity
Untuk
menghadirkan atmosfer positif dan produktif, sebagai anak muda milenials kita bisa juga menggunakan tools
productivity yang dapat kita download di smartphone, seperti misalnya Trello untuk to do list pekerjaan/tugas harian atau Yawme untuk checklist amalan harian. Atau, kalau lebih nyaman menggunakan tulisan tangan, common-place book adalah solusi yang juga bisa digunakan.
Okay, clear, ya?
Selamat mengakhiri akhir pekan! Besok Senin, semoga kita dimudahkan-Nya untuk bertransformasi menjadi seseorang yang dalam setiap gerak di kesehariannya, baik itu belajar,
bekerja, berkarya, berbagi, mengabdi, dan juga kegiatan lain apapun, selalu
menjadikan Allah sebagai alasan utamanya :”)
_____
Picture Source: Pexels
well said mba’. Jazakillah 😍
Thank you Allah for sending me supportive people, for making me sorrounded by kind people 💕
by the way, happy graduation, bosque! akhirnya yaah 💕
semoga selalu bergerak bermanfaat dan terus menginspirasi orang lain. so proud of you, kebanggaan Konoha wkw. maaf nggak bisa dateng, tapi doaku selalu mengiringi dari sini 💞
November, 2017
The truth is we all get tired, we all get weary. In fact, if you never feel like giving up, then your dreams are too small. If you never feel like quitting, then you need to set some larger goals. When that pressure comes to get discouraged and to think about how you can’t take it anymore, that is completely normal. Every person feels that way at times.
Terencana ataupun tidak terencana, semua itu tetap bermuara pada satu bingkai kata yang indah, yaitu KetetapanNya
Just take a breath, open your heart, put your trust on Him and everything be alright 🙂
Semoga kita reuni di surga yaaa :“)
Makasih udah jadi pengingat, makasih udah menemani langkah menuju segala yang lebih baik, makasih udah jadi penyemangat.
Obat mujarab bagi hati-hati yang patah adalah Jatuh Cinta.
Maka jatuh cintalah kepada Sang Pemilik Hati.
Dialah Allah.. Yang takkan pernah membuat hatimu patah. Yang dengan menaruh harap pada-Nya, takkan pernah membuatmu kecewa.