Kehormatan Laki-laki

hanamaulida:

“Mbak Hana, kehormatan laki-laki itu terletak di
pekerjaannya”

Saya ingat, beberapa waktu lalu teman kantor saya bicara
begitu. Ia sudah memiliki istri dan dua anak. Waktu itu ia bercerita tentang
perjalanan hidupnya, khususnya karier, hingga membawanya terdampar ke sebuah
organisasi yang saat ini saya juga bekerja didalamnya.

Saya yang waktu itu menyimak, diam-diam mengangguk sepakat.
Pekerjaan bagi laki-laki menggambarkan kedudukannya dalam rumah tangga.
Laki-laki akan cenderung lebih percaya diri ketika memiliki pekerjaan yang
penghasilannya cukup untuk menghidupi anak dan istri. Saat ini mungkin banyak muncul fenomena istri yang posisinya cenderung lebih tinggi daripada pekerjaan suami. Dan
beberapa yang saya dengar, hal itu memang cukup menimbulkan masalah di rumah tangga.

Ah ini dilema. Di satu sisi saya setuju dengan kedudukan
pekerjaan laki-laki yang lebih tinggi kemungkinan akan membuat bahtera rumah
tangga menjadi “aman”. Karena dengan itu laki-laki merasa dihargai. Diakui. Karena sebagai pemimpin, sudah selayaknya berada setingkat di atas istri.
Tapi di sisi lain
saya juga berpikir; apa salahnya perempuan punya pencapaian atau karier yang lebih
baik? benarkah harus selalu berada di bawah suami?

Sampai akhirnya saya bertemu Pak Jumadi. Seorang bapak
beranak 3 yang mengidap penyakit kanker kulit. Semacam kutil yang besar-besar
hidup di tangan dan kakinya. Teman-teman pernah tahu berita tentang manusia
akar? Nah kurang lebih penampakannya seperti itu.

Waktu itu hari Selasa. Saya bersama rekan di kantor
melakukan pendampingan pada beberapa pasien tak mampu ke rumah sakit. Salah satu
dampingan kami ialah Pak Jumadi. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya,
Pak Jumadi sedang menderita sakit. Tapi kali ini, agenda kami ke rumah sakit
ternyata bukan untuk mendampingi Pak Jumadi. Melainkan anaknya yang masih
berusia 10 bulan, yang mengidap penyakit step atau kejang-kejang.

Sedari tadi Pak Jumadi sibuk. Mendaftarkan antrian,
mengambil surat rujukan, dan menyiapkan segala berkas untuk keperluan pengobatan.
Sambil mengenakan jaket tebal (untuk menutupi tangan dan kakinya) dan tas
punggung (berisi berkas keperluan rumah sakit), ia mondar-mandir di sekitar
rumah sakit. Saya yang melihat, tentu salut padanya. Padahal ia sedang sakit.
Sakitnya pun bukan sakit biasa. Tapi tak sedikitpun ia menyerahkan urusan ini
kepada orang lain. Sekalipun kami hadir untuk membantunya.

“Nanti sore saya baru berangkat ke RSCM sendiri Teh, setelah
anak selesai diurus”
begitu katanya.

Saya terkagum. Meski bukan dengan kata-kata cinta, siapapun
pasti tahu betapa besar cinta Pak Jumadi pada keluarganya.  

Saya pun penasaran dengan kegigihan Pak Jumadi dan bertanya
pada sang istri tentang bagaimana Pak Jumadi menghidupi keluarganya di tengah
kondisinya yang seperti itu.

“Bapaknya mah kerja apa aja teh. Yang penting halal dan bawa
uang. Saya juga yah gimana ya, kasian. Tapi orangnya tanggung jawab sekali sama
keluarga…”
kata istrinya.

Saya yang awalnya begitu khawatir dengan kondisi keluarga Pak Jumadi seketika menjadi tenang. Karena lihatlah; sekalipun pak Jumadi tak
punya pekerjaan yang jelas, ia tetap berusaha. Mengerahkan kemampuan terbaiknya
untuk bertanggung jawab menghidupi keluarga.

Sehingga dari Pak Jumadi, saya belajar, bahwa kehormatan
laki-laki bukan terletak pada pekerjaannya. Apakah lebih tinggi, lebih rendah,
atau sejajar dengan istri. Tapi pada kesungguhannya bertanggung jawab untuk keluarga.

Dalam hati saya berdoa, semoga kerja keras Pak Jumadi
bertanggung jawab menafkahi keluarga menjadi amal terbaik di sisi-Nya… juga untuk seluruh Bapak-bapak di dunia yang tulus ikhlas bekerja demi orang-orang yang dicintainya. Keluarganya.

Karena sesungguhnya keluarga adalah ladang amal yang seringkali kita lupa; betapa mulianya!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai