i. Go out. Even if you’re alone, go out and have fun. Go to places that you like. Visit the place that can be your escape.

ii. Surround yourself with people. Watch each one of them, how they laugh, how they talk. Notice how they can make things lighter than the usual. There are a lot of people around you, you just have to look at them.

iii. Sing a song. Sing what your heart feels. Sing a song that reminds you of someone, or a song that can best describe how you feel. Close your eyes and feel the lyrics and be on your own little world.

iv. Write everything in a paper. Write whatever you like. Write how you feel. Pour your heart in every word, write the things that bothers you, write how you feel. Write the things that you can’t utter.

v. Pray. Don’t forget to talk to God. Tell Him everything, your worries, your disappointments, your pain, your anger, your fears, everything. He will listen to you. He will always give you the answers to your prayers, maybe not in a way you expect it but in his own way. Never forget that God is always there for you.

If you will do these things, you will feel that you don’t need anyone for you to breathe. You’re not alone, you have yourself.

5 things you can do when you feel alone (via girlbehindthisblog)

But I’d like to put no.5 for the first

Petuah Dari Langit

ulynnuha:

kuebeludrumerah:

Nasihat itu tidak melulu dengan ucapan. Terkadang ia hadir dalam bentuk ujian, kadang dalam bentuk musibah, dan kadang pun dalam wujud manusia. Itu semua ada hanya untuk membuat kita kembali. Kembali pada jalan yang lurus.

Sebab, cara-cara yang sederhana dan biasa terkadang tidak pernah cukup untuk mengingatkan serta memberikan pemahaman akan suatu hal, bahkan tidak cukup kuat untuk mengembalikan kita pada jalan Allah. Sehingga sesekali kita mesti mendapat cubitan, bahkan bentakan yang cukup keras.

Ketika sebuah masalah singgah dalam kehidupan kita, terkadang kita lupa, begitu yakin kita bisa mengatasinya dengan segera. Dan saat masalah itu tiada habisnya hingga berubah menjadi musibah, kita menjerit-jerit, bahkan memaki-maki. Padahal, boleh jadi Allah justru sangat sayang dengan kita, boleh jadi tujuan terbesar Allah adalah agar kita bersabar, menjadi lebih kuat untuk masalah yang lebih besar nantinya. Dan mungkin juga musibah itu agar kita segera sadar telah melakukan kesalahan di masa silam.

Mari kita belajar melihat ujian dan masalah yang datang adalah bentuk nasihat yang positif, agar kita belajar, agar kita sadar, dan agar kita harus kembali karena sudah terlalu jauh dari Allah.

Orang yang bersyukur ketika bahagia itu tidak ada spesialnya sama sekali, tapi yang bersyukur saat sedang sedih itu baru istimewa. Orang yang bersemangat ketika berhasil itu biasa sekali, tapi yang tetap bersemangat menghadapi kegagalannya itu baru luar biasa. Orang yang berterima kasih ketika mendapat rezeki itu pun sudah biasa, tapi mereka yang berterima kasih saat diberi ujian, mereka tak terkalahkan. Semuanya hanya bagaimana kita menyadari kesalahan dan memetik hikmah dari peristiwa apapun itu. Apakah kita akan menjadi orang yang mengerti lalu kembali atau hanya menjadi orang yang tak sabar lalu berputus asa.

Hidup ini tidak seburuk manusia norak yang bertato tanpa narkoba.

Percayalah, meski kita kehilangan dunia beserta isinya, langit tidak akan berkurang birunya. Namun, ketika kita kehilangan cinta Allah, meski jutaan bintang terhampar di sudut malam, langit tetap tidak akan indah.

Bogor, 29 September 2016 | Seto Wibowo

Sukak ♥

ATUR ATUR

choqi-isyraqi:

“Kok kalau liat instagram lu, kayaknya hidup lu keren banget
deh.”

“Hehehe, yaaaa, gitu lah emang gue”

Tanpa disadari,
dengan adanya dunia sosial media sekarang, entah itu Instagram, path, facebook,
dan berbagai platform lainnya, ada sebuah perilaku baru yang menjadi kebiasaan
baru bagi penggunanya, yakni mengatur-ngatur kehidupannya.

Pernah suatu ketika,
saya menjalani hari yang menurut saya itu biasa saja, berjalan-jalan di sebuah
tempat yang biasa saja. lalu teman saya melambat, dan ia sibuk melakukan sebuah
pose untuk melakukan foto.

“Untuk apa foto
kayak begitu?”

“Buat di upload”

Beberapa waktu
berselang dari kejadian tersebut. Saya mengunjungi IG teman saya karena
penasaran dengan foto yang dilakukan sebelumnya.

Ketika saya
melihatnya, wow, ternyata memang berhasil. Teman saya berhasil membuat
kehidupan yang biasa-biasa, menjadi sesuatu yang seolah luar biasa di
sosmednya. Fotonya indah, dan ia juga menambahkan caption yang menunjukkan
betapa kerennya perjalananya, padahal, bagi saya yang menjalani, itu hanyalah
hal yang biasa saja. Dan foto tersebut mendapat banyak likes dan juga comment
dari orang-orang.

“Waaa, keren bro.” ,
“Kok seru banget sih”

Yups, dia berhasil,
membuat sesuatu yang biasa, menjadi nampak luar biasa. Dia berhasil membuat
image, dia berhasil mendoktrin orang-orang, dia berhasil menipu para followers
nya.

Ya, tanpa disadari,
perilaku ini sering kita temui. Kalau saya bilang, istilahnya adalah “Atur atur
sosmed”. Perilaku ketika kita mengatur ngatur tampilan, foto, tulisan di sosmed
kita dengan sedemikian rupa, untuk menunjukkan bahwa kita ini keren dan kita
ini superior dibanding dengan orang lain.

Hal ini, mungkin
tidak berbahaya bagi orang lain. Tapi hal ini, sungguh berbahaya bagi para
pelakunya. Dengan sendirinya, ia akan disibukkan dengan mencoba mencari
berbagai cara, agar para followersnya melihat bahwa kehidupannya begitu
sempurna.

Di satu sisi,
tatkala orang-orang ini sibuk untuk mengatur penampilan hidupnya di sosmednya,
ada orang-orang yang sedang sibuk memperbaiki serta mengatur kehidupannya di
dunia nyata.

Orang-orang yang
sibuk mencari ilmu, orang-orang yang sibuk melakukan kebaikan, orang-orang yang
sibuk merubah dirinya agar menuju kebaikan, ya, banyak pula orang yang seperti
ini. Sosmed, jangankan mencicipi, mendengar namanya saja mungkin tidak pernah.
Tapi kehidupan nyata, jelas-jelas mendapatkan manfaat dari perubahan
kehidupannya.

Tidak, saya bukan
sedang mengajak untuk meninggalkan sosmed. Tapi saya mengajak agar kita tidak
lupa, bahwa daripada sibuk mengatur-ngatur tampilan kehidupan kita di sosial
media, ada baiknya kita juga tidak lupa memperbaiki kehidupan kita pula yang
sesungguhnya. Sehingga, tatkala kita memposting kehidupan yang luar biasa, itu
bukanlah dibuat-buat, tapi karena memang itulah kehidupan kita, kehidupan yang
luar biasa.

Oia, dan
mengatur-ngatur tampilan kehidupan kita agar terlihat lebih unggul dari orang
lain, bisa termasuk sifat sombong loh.

Apakah kita termasuk
orang-orang yang seperti itu? Semoga tidak. Dan semoga kita sebagai pengguna
sosmed, bisa menyibukan diri untuk terus memerbaiki kehidupan kita
masing-masing.

ATUR ATUR

Bandung, 16 April 2017

How does Generation Z feel?

With all the stories about the pressures and anxieties faced by young people, we asked in-depth questions about their wellbeing. When asked, simply, whether they would describe themselves as happy, nearly seven out of ten (68%) did so. There was, however, large variation between countries. Surprisingly, the highest happiness levels tended to be in developing countries such as Indonesia (90%), Nigeria (78%) and India (72%), and were lowest in advanced economies such as France (57%), Australia (56%) and the UK (57%).

What Makes the Difference in Young People’s Live?

The largest obvious divide is on the significance of religion in the lives of young people. Less than half (42%) say religious faith is an important part of their lives and two-fifths claim religion is of no significance to them at all (39%). However, there is large variation, with young people in Africa most likely to say religious faith is ‘important in their life’ (77%), while high proportions in Japan (61%), Australasia (50%) and Europe (46%) say that religion is “of no significance to them at all”.

Generation Z Global Citizenship Survey by Varkey Foundation

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai