Setiap hari, kita beranjak dari satu keputusan ke keputusan lainnya untuk bertumbuh jadi pribadi yang lebih baik. Lebih cerdas, kuat dan tangkas dibanding sebelumnya. Semua terasa menyenangkan sebelum kita menemui perangkap yang berwujud halus, yakni ketika kita merasa lebih baik dibandingkan orang lain. Apa jadinya kalau niat baik yang kita rintis di awal maju beriringan dengan tumbuhnya benih ujub tanpa terasa?
Untuk itu, kita perlu mencurigai diri untuk setiap niat baik yang coba dirintis. Kita perlu menyeksamai proses berkebaikan dengan telaten agar kemanfaatan yang diniatkan dahsyat ke luar tidak berubah menjadi parasit yang juga merongrong hebat ke dalam. Kita perlu terus berlatih merendahkan hati dengan peka terhadap kelebihan pada diri orang lain sekaligus kekurangan pada diri sendiri.
Kita belum tentu sebaik kesan yang orang lain sematkan pada separuh diri kita yang terlihat. Di sisi lain, kita pun tidak pernah tahu persis daftar kebaikan yang orang lain sibukkan di luar dunia mayanya. Bahkan dalam upaya-upaya untuk menuliskan pesan pengingat yang diunggah seperti ini pun terselip rasa ujub yang mencurigakan ketika tanpa sadar si penulis meninggikan dirinya dengan merendahkan orang lain yang pemahamannya tak sejalan.
Dari hati yang terdalam, mohon dimaafkan kalau saya pernah menuliskan atau mengunggah hal-hal yang menyinggung perasaan kawan-kawan yang kebetulan berkunjung dan membaca halaman saya. Mohon ditegur kalau saya terlihat sok bijak, sok asyik atau malah menggurui teman-teman lewat tulisan yang lalu-lalu.
Kalau ada manfaat dari rilisan-rilisan saya, silahkan ditanggapi dan dibagikan jika dengannya ada kebaikan yang bertambah. Sebaliknya, kalau lebih banyak buruknya, mohon ingatkan dan nasihati saya dengan kebaikan ya. Terima kasih, teman-teman.
Apa jadinya kalau niat baik yang kita rintis di awal maju beriringan dengan tumbuhnya benih ujub tanpa terasa?
Tulisan ini bener banget. Tanpa sadar terkadang apa yang kita tuliskan itu dengan niat baik, jatuhnya bisa membuat diri menjadi ujub karena mungkin merasa tulisannya telah tersusun sangat baik dan pantas dibaca, karena mungkin merasa diri telah melakukan suatu hal baik dan dapat menjadi inspirasi, atau karena likes dan reblog yang menggunung…
Selain itu juga, tulisan yang awalnya kita buat dengan niat baik untuk membagi kebahagiaan kita misalnya, sebagai wujud syukur kita, tetapi bisa saja ketika dibaca orang lain mungkin terkesan pamer, atau terkesan seakan-akan kita yang paling baik. Jatuhnya malah membuat orang lain jadi ngerasani kita. Yang salah siapa? Yang salah ya yang nulis. Karena seluruh tanggung jawab ada pada penulis cerita, bukan pembaca.
Padahal hampir seluruh tulisan itu biasanya adalah bahan muhasabah atau refleksi diri kita sendiri, bahkan terkadang sang penulis juga belum mampu menerapkan seutuhnya dalam kehidupannya sendiri.
Pernah ngga sih setiap mau posting suatu tulisan yang isinya lumayan panjang dan bukan sekedar curhat belaka, pas mau klik tombol post, selalu ada pikiran “posting ngga ya posting ngga ya” ?
Saya sering dan memutuskan hal tersebut kadang membutuhkan waktu beberapa menit.
Atau juga ketika ada bahan postingan, misalkan tentang life event atau sekedar sharing materi kajian, juga sering berpikir “perlu ngga ya di tulis, kalau nanti di share jatuhnya ujub ngga ya?”
Astaughfirullah.
Tulisan ini menggambarkan isi hati banget, kak. Terimakasih, kak sat!
Lagi nunggu lift terbuka, kebetulan bertemu ibu Kepala Seksi. Ibu K: ummah darimana? Saya: dari ATM bu, bayar tiket Ibu K: tiket kapan? Saya: tanggal 11 Februari, mau pulang pas weekend Ibu K: kok tanggal 11, kan tanggal merahnya 16 ? Saya: ada acara bu di rumah Ibu K: lamaran ? Saya: @#$%^&*
Bahagia karena memang beginilah adanya kita
bukankah orang lain tidak benar-benar tau perjuangan yang telah kita lakukan, pun kita, tidak benar-benar tau perjuangan orang lain.
I’m about to spam your timeline with some scenic crater views.
Kawah Putih Ciwidey.
“
Are you a more difficult creation or is the heaven? Allah constructed it.
He raised its ceiling and proportioned it.
And He darkened its night and extracted its brightness.
And after that He spread the earth
He extracted from it its water and its pasture,
And the mountains He set firmly
As provision for you and your grazing livestock.
”
QS An-Nazi’at: 27-33
Jogjanese 🤘
Ibu adalah tempat dimana kabar bahagia selalu gagal aku sembunyikan, meski kabar sedih agaknya terkadang susah payah diupayakan agar tetap menenangkan.
Sebuah Catatan Seminar bersama Bunda Elly Risman, Psikolog
Oleh: Yulinda Ashari Bidang Pemuda ASA Indonesia Divisi Riset dan Kajian
Sebagai orang tua Muslim, kita seharusnya sudah memahami bahwa tugas utama kita dalam pengasuhan anak adalah bagaimana menjadikan anak sebaik-baik hamba yang taat beribadah kepada Allah swt. Konsep ibadah dan keimanan ini harus diajarkan sejak anak masih dini, agar kelak ketika beranjak dewasa mereka sudah terbiasa untuk beribadah tanpa harus disuruh lagi. Metode pengajaran beribadah kepada anak tentu berbeda dengan orang dewasa. Ibadah bagi anak-anak harus dibuat menyenangkan. Mengapa ibadah bagi anak harus menyenangkan? Karena targetnya anak-anak, maka metode harus disesuaikan dengan cara kerja otaknya. Bagian sinaps pada otak anak belum menyatu dengan sempurna sehingga ibadah harus dikemas secara menyenangkan. Orang tua tidak bisa memberikan pengasuhan dengan mengabaikan perkembangan otak anak.
Sebelum mengajarkan ibadah kepada anak, orang tua harus mengingat kembali bahwa hal ini merupakan perintah Allah yang harus diperjuangkan dengan bersungguh-sungguh, karena sejatinya tujuan penciptaan manusia di dunia adalah untuk beribadah dan mengagungkan keesaan Allah swt. Mari kita buka kembali QS. Ad-Dzariyat ayat 56-58, yang artinya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi Rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”
Salah satu tanggung jawab orang tua dalam hal beribadah ini adalah bagaimana cara membentuk kebiasaan yang baik serta meninggalkan kenangan yang baik pada anak. Ingatkah dahulu kala mungkin ada yang mendapat “ancaman” jika tidak salat? Barangkali hal itu dapat membentuk kebiasaan yang baik, namun kenangan yang tertinggal di ingatan adalah kenangan yang tidak baik, bukan? Kebiasaan baik dan kenangan yang baik. Ibadah harus dibuat menyenangkan agar anak tidak merasa terbebani, tidak menolak, dan tentu saja agar mereka merasa senang dan bahagia ketika beribadah. Jangan pernah tinggalkan kenangan buruk untuk anak ya Ayah Bunda!
“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah berbicara dengan tutur kata yang benar.“ (QS. An-Nisa ayat 9)
Tugas pengasuhan anak apalagi terkait ibadah ini memang bukanlah hal yang mudah. Namun ingatlah bahwa karakter anak apapun yang Allah anugerahkan kepada Ayah Bunda, tidak akan melampaui batas kesanggupan masing-masing orang tua. Selalu ingatlah bahwa anak kita sejatinya bukanlah milik kita. Anak hanyalah titipan Allah yang dapat diambil kapan saja. Anak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada pemilik-Nya. Mereka adalah kenikmatan, tantangan, sekaligus ujian, yang kemudian proses pengasuhannya membutuhkan perjuangan berupa pikiran, perasaan, jiwa, tenaga, serta biaya yang tidak sedikit. Bayangkan jika kita dititipi anak presiden, mungkinkah kita berani memukul, mencubit, atau berkata kasar padanya? Tentu saja tidak. Lalu bagaimana jika kita dititipi anak langsung oleh Sang Pemilik Kekuasaan? Masih beranikah kita mendidik anak tanpa ilmu dan bersikap sewenang-wenang pada mereka? Kira-kira sudah berapa banyak kita melanggar perintah Allah terkait pengasuhan anak ini?
Didiklah anak karena Allah. Jangan pernah mengharapkan kebaikan dari anak jika orang tua tidak mendidiknya dengan baik. Anak-anak kita bukanlah pilihan kita, mereka adalah takdir pilihan Allah untuk kita. Boleh memasukan anak ke sekolah-sekolah agama, namun bukan berarti kewajiban orang tua dalam mengajarkan agama menjadi gugur begitu saja. Tugas orang tua untuk mengajarkan agama harus dituntaskan terlebih dahulu sebelum memasukan anak ke pesantren. Di akhirat kelak, bukan guru-guru pesantren yang akan ditanya, tapi para orang tua masing-masing. Ayah dan Bunda, sudah siapkah mempertanggungjawabkan tugas pengasuhan ini?
Ada beberapa tantangan yang harus dihadapi para orang tua dalam mengajarkan anak beribadah yang menyenangkan, antara lain: 1. Tantangan dari dalam diri sendiri dan pasangan Tantangan utama dalam hal ini adalah terkait bagaimana masalah agama ini ditanamkan pada diri Ayah dan Bunda sendiri. Selalu lihatlah ke dalam diri sendiri sebelum menyalahkan lingkungan. Seberapa pentingkah agama dalam hati dan kehidupan kita? Mungkinkah berharap anak yang salih saat kitapun tidak berusaha menjadi orang tua yang salih? Mungkinkah menginginkan anak yang rajin salat sedangkan Ayah dan Bunda tidak salat? Jadilah teladan yang terbaik bagi anak-anak kita terkait ibadah ini. Pelajarilah ilmu agama lebih banyak. Tumbuhkan kesadaran bahwa tujuan utama mendidik anak adalah menjadikan mereka penyembah Allah. Bagi yang sedang dalam proses pencarian pasangan, sepakatilah di awal pernikahan dengan pasangan untuk bersama-sama mendidik anak menjadi hamba Allah jika telah terlahir ke dunia kelak.
Tahukah Ayah dan Bunda, dalam proses pengasuhan ini, penanggung jawab utamanya ternyata adalah Ayah! Keterlibatan ayah untuk membentuk kebiasaan beribadah anak SANGAT PENTING! Anak yang mendapat keterlibatan pengasuhan ayahnya yang baik akan tumbuh memiliki harga diri yang tinggi, prestasi akademik di atas rata-rata, lebih pandai bergaul, dan saat dewasa akan menjadi pribadi yang senang menghibur orang lain. Maka wahai para ayah, kembalilah! Tugas ayah bukanlah sekadar mencari nafkah, namun juga sebagai penanggung jawab utama pengasuhan anak. Jika ayah terlalu sibuk bekerja—dengan alasan untuk kebahagiaan istri dan anak—maka tanyakanlah kembali pada diri: apa yang sebenarnya sedang ayah kejar? Apa yang ayah sebut dengan kebahagiaan anak dan istri tersebut? Tidak takutkah kelak dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah mengenai hal ini?
2. Mengasuh generasi Alfa • Gen Y lahir pada rentang tahun 1980 – 1994. • Gen Z lahir pada rentang tahun 1994 – 2009. • Gen Alfa lahir pada rentang tahun 2010 – 2025. – Mereka hidup dengan internet (belajar, bikin PR, makan olahraga, tidur). – Semua serba cepat, instan, menantang dan menyenangkan. – Mereka terbiasa multiswitching (melalui gadget). – Mereka memiliki tata nilai yang berbeda. Generasi yang akan kita didik saat ini adalah para Alfa. Jika generasi Alfa ini tidak dididik dengan metode yang tepat sesuai zamannya, maka akan sulit memasuki dunia mereka, bukan? Karenanya, Ayah dan Bunda tidak boleh abai dengan tantangan dan perkembangan zaman ya!
3. Beban pelajaran yang berat • 70% anak masuk SD sebelum usia 7 tahun. • 46% anak di sekolah 6 – 7 jam sehari. • 25% sekolah masih memberi materi pelajaran formal setelah jam 12 siang. • 52% guru di sekolah masih memberikan 1 – 2 PR. • 18% anak mengikuti les mata pelajaran setelah pulang sekolah. • 25% anak mengikuti les 2 -3 hari dalam seminggu. • Standar kelulusan Indonesia tertinggi di dunia. Dengan beban pelajaran yang berat bagi anak, kegiatan beribadah seringkali menjadi tidak diutamakan. Para orang tua mendidik anak mereka menjadi orang yang pintar secara akademik, namun hampa secara keimanan. Tanamkanlah tekad dalam diri, “Anakku harus salih dulu, baru pintar”. Jangan salahkan pula jika kemudian anak menjadi mudah emosi karena terlalu lelah di sekolah. Jangan pernah abaikan perasaan mereka. Hindari menasihati mereka saat emosinya sedang tidak baik. Orang tua juga perlu menyelesaikan emosi dengan dirinya sendiri, jangan sampai emosi kita kemudian berimbas kepada anak dan pasangan. 4. Peer Pressure 5. Ancaman dari agama dan kepercayaan lain 6. Perubahan nilai dari masyarakat kita
Mulai dari mana?
Selesaikanlan urusan dengan diri sendiri dan pasangan terkait urusan ibadah ini. Semua kebiasaan beribadah ini bermula dari Ayah dan Bundanya, jadilah role model yang baik dan idola bagi anak kita sendiri. Orang tua juga perlu mengenali keunikan serta tahapan perkembangan otak anak, sehingga metode yang disampaikan dapat sesuai dan tepat sasaran. Kenalkan ibadah pada anak dengan cara yang menyenangkan. Biarlah jika pada awalnya mereka suka sekali bermain air saat berwudhu hingga bajunya basah dan haruss diganti berkali-kali. Biarlah jika gerakan salatnya masih semaunya, suka menarik-narik sajadah, atau menganggu ayah bundanya saat sedang salat. Jangan dimarahi. Biarkan anak senang dan bahagia terlebih dahulu dengan praktik ibadah ini. Masukan target “bahagia” dalam proses pengasuhan anak. Mendidik anak memang harus disertai kesabaran yang tanpa batas. Tidak apa-apa, didiklah anak dengan cinta karena Allah semata. Jika anak senang beribadah, ia akan mau beribadah, kemudian menjadi bisa beribadah, dan terakhir menjadi terbiasa beribadah tanpa harus disuruh dan merasa dipaksa.
Untuk mengajari anak ibadah yang menyenangkan diperlukan niat baik, kejujuran, keterbukaan, serta kerjasama yang baik dari kedua orang tuanya, tidak bisa hanya salah satunya saja. Setelahnya, kombinasikan semua tekad itu dengan mengenali kepribadian anak, sesuaikan dengan cara kerja otak, bakat, serta seluruh kemampuan anak. Setiap anak kita adalah unik, otak anak baru berhubungan sempurna ketika berusia 7 tahun, sedangkan hubungan anatara sistem limbik dan corteks cerebri di otak baru sempurna pada usia 19-21 tahun. Butuh sekitar 20 tahun bagi orang tua untuk mendidik anak dengan baik, maka bersabar dan bersungguh-sungguhlah, karena Allah menyukai orang yang bersungguh-sungguh. Jangan menuntut anak untuk dewasa sebelum waktunya. Anak perlu menjadi anak untuk dapat menjadi orang dewasa, hilangnya masa kanak-kanak akan mengakibatkan masyarakat yang kekanak-kanakan. Bantulah anak-anak kita untuki mekar sesuai dengan usia dan kemampuan serta keunikannya. Ayah dan Bunda harus membuat kesepakatan dan kerjasama di awal, siapa pengambil keputusan dalam hal A dan B, buat perencanaan-pelaksanaan-evaluasi, buat target per anak, pembagian kerjasama, kontrol, dan selalu bermusyawarah dalam setiap keputusan yang melibatkan seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak. Ubah paradigma dan cara pandang kita, bahwa anak bukan saja harus bisa beribadah, namun juga suka beribadah.
Landasan Psikologis Anak
Anak Usia 5 – 8 tahun Ibadah untuk anak usia ini bukanlah suatu kewajiban, tapi perkenalan, latihan, dan pembiasaan. Tidak ada kewajiban syar’i bagi anak untuk beribadah, namun ada kewajiban syar’i bagi orang tua untuk membentuk kebiasaan anak dengan cara yang menyenangkan. Didiklah anak dengan modal, misalnya belikan mukena yang disukai anak, membelikan baju koko baru agar anak rajin ke masjid, dan lain sebagainya. Jangan ragu mengeluarkan modal untuk keperluan beribadah kepada Allah swt. Jangan juga hilang kegembiraan anak usia 5 -8 tahun, masuki dunia anak dengan metode 3B: Bercerita/Berkisah, Bermain, dan Bernyanyi. Landasan Psikologis Anak Usia 5 – 8 tahun: • Mudah dibentuk. • Daya ingat yang kuat. • “Dunianya” terbatas. • Meniru: orang tua/ situasi. • Rasa persaudaraan sedunia.
Landasan Psikologis Anak Usia 9 – 14 tahun: • Otak sudah sempurna berhubungan. • Umumnya: Mukallaf. • Emosi sering kacau. • Tugas sekolah semakin berat (ditambah les). • Banyak aktivitas, termasuk bermain internet dan games. • Peer Pressure yang sangat kuat. • Hal yang perlu diperhatikan pada usia ini antara lain: – Fokus pada target tahun ini: tanggung jawab seorang yang sudah baligh. – Perlakuan dan komunikasi sebagai teman. – Bisa menjadi pendamping/ pembimbing adik-adiknya. – Diberi tanggung jawab sosial: mengantar makanan untuk berbuka puasa, membayar zakat, dan kerja sosial yang mudah sesuai usia. – Ajari anak untuk berwirausaha/ berdagang.
Landasan Psikologis Anak Usia 15 – 20 tahun: • Prefontal Corteks hampir sempurna berhubungan. • Dewasa muda. • Semakin banyak aktivitas, games dan internet. • Mulai mengenal pacaran dan pergaulan bebas. • Orientasi semakin di luar rumah. • Hal yang perlu diperhatikan pada usia ini antara lain: – Fokus pada target tahun ini: dewasa muda, ajarkan fiqih pernikahan. – Perlakuan dan komunikasi sebagai sesama orang dewasa. – Bisa menjadi motivator dan pembimbing adik-adiknya. – Jadikan ia penggerak/ koordinator kegiatan anak dan remaja masjid/mushala.
Setelah mengetahui landasan psikologis pada rentang umur anak, maka metode pembiasaan beribadah pada anak dapat disesuaikan dengan perkembangan dan cara kerja otaknya. Ayah dan Bunda harus terus belajar untuk bisa menjelaskan pertanyaan “mengapa?” dari anak, jelaskan apa yang saja yang menjadi perintah dan larangan Allah swt., serta manfaat dan ganjaran dari beribadah. Gunakan pendekatan kognitif secara ringkas serta contoh yang kongkrit pada anak, serta selalu gunakan Al-Qur’an dan Hadis sebagai referensi utama,. Teruslah bersabar dalam mendidik anak karena waktu persiapan setiap anak tidaklah sama, proses pengasuhan harus disesuaikan dengan usia, kemampuan, kondisi fisik, dan karakter anak.
Persiapkanlah diri Ayah dan Bunda untuk mengatasi setiap masalah yang terjadi dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Gunakanlah kata-kata yang memahami perasaan anak, lebih banyak mendengar aktif, hindari kata-kata yang menghambat komunikasi dengan anak, serta biasakanlah memberi kesempatan kepada anak untuk berpikir, memilih, dan mengambil keputusan. Jika saat ini anak kita dimanjakan oleh fasilitas: kamar pribadi, rumah yang luas, gadget, serta wifi dan akses internet yang tidak terbatas, jangan lupa ingatkan anak untuk menahan pandangan dan menjaga kemaluannya, ingatkan bahwa meski Ayah dan Bunda tidak berada di rumah atau di sekolah, ada Allah yang tetap mengawasi dimanapun mereka berada. Sampaikan tips sukses pada anak yang tidak hanya berupa kemampuan akademik, namun juga berupa salat tepat waktu, sayang pada ibu, puasa Senin dan Kamis, serta mengaji setiap pagi dan sore.
Akhirnya, selamat berjuang! Miliki kekuatan kehendak, bayangkan, dan doakan anak-anak menjadi penyembah Allah yang taat. Semoga Allah karuniakan kita anak-anak yang salih dan salihah.
Seperti bermain catur, orang bilang hidup ini harus dijalani dengan penuh strategi. Bagaimana untuk mencapai ini dan itu, bagaimana untuk menjadi ini dan itu, serta bagaimana untuk menjalani kondisi yang begini dan begitu, semua katanya penting untuk melibatkan strategi. Tapi, sebab persepsi setiap orang tak pernah sama soal strategi, pada akhirnya ada saja orang yang membenarkan atau bahkan menyalahkan strategi yang diambil oleh orang lain. Mereka berdebat kusir, sebab mungkin yang dipegangnya sebagai sumber penilaian dan pengambilan keputusan bukanlah sumber yang kekal.
Menyoal strategi, anak-anak muda yang beranjak dewasa seringkali memang menjadi sasaran empuk penilaian benar atau salahnya langkah yang diambil. Meski tak benar-benar tahu apa yang menjadi kisah hidup anak-anak muda ini, orang lain, yang ironisnya usianya pun tak jauh beda, dengan mudahnya berspekulasi,
“Dia aneh, masa kerja dulu baru kuliah? Nanti teman-temannya sudah S2 dia masih aja ngerjain skripsi. Hidupnya salah strategi.” | “Eh kok nikah dulu, sih? Terus beasiswanya dilepas gitu? Aduuuh, salah strategi banget deh. Padahal nanti aja kalau udah selesai sekolah.” | “Anak itu tuh gimana sih cara pikirnya? Orang mah siap-siap keberangkatan studi, apply beasiswa, atau sibuk konferensi di luar negeri, ini malah sibuk nulis buku yang kayak engga jelas gitu masa depannya. Ga ngerti strategi apa, ya?” | “Ini gimana sih strategi hidup dia, tahun ini mau nikah kok malah apply konferensi internasional kesana-sini?”
dan seterusnya. Melelahkan jika didengarkan? Tentu saja!
Bagaimana pun, kita tidak bisa benar-benar memahami apa yang menjadi dasar pengambilan keputusan seseorang. Pun dengan orang itu sendiri, seringkali ia juga tak paham mengapa sebuah peristiwa besar hasil dari pengambilan keputusan penting terjadi. Sebabnya satu: kita tidak pernah benar-benar memilih, tapi oleh-Nya kita dipilihkan jalan.
Jadi, mengapa kita harus memberikan penilaian-penilaian tak masuk akal pada jalan hidup orang lain sementara kita mengetahui bahwa apapun yang mereka jalani adalah bagian dari skenario Allah dalam bentuk ketetapan-ketetapan?
Perbedaan jalan hidup tak menakar perbedaan kemuliaan. Sebab satu-satunya penakar perbedaan kemuliaan hanyalah iman dalam genggaman. Maka boleh jadi, kita tidak perlu ribut beradu soal strategi, tapi begitu perlu saling menjaga agar apapun jalan hidup yang ditempuh, iman tak sampai pergi, apalagi berlari.
somehow tulisan mbak Novie sering banget nge-pas. Pas lagi ngalamin, pas butuh reminder, ataupun pas lagi down. Jazakillah mbak :’’