shafiranoorlatifah:

satriamaulana:

Setiap hari, kita beranjak dari satu keputusan ke keputusan lainnya untuk bertumbuh jadi pribadi yang lebih baik. Lebih cerdas, kuat dan tangkas dibanding sebelumnya. Semua terasa menyenangkan sebelum kita menemui perangkap yang berwujud halus, yakni ketika kita merasa lebih baik dibandingkan orang lain. Apa jadinya kalau niat baik yang kita rintis di awal maju beriringan dengan tumbuhnya benih ujub tanpa terasa?

Untuk itu, kita perlu mencurigai diri untuk setiap niat baik yang coba dirintis. Kita perlu menyeksamai proses berkebaikan dengan telaten agar kemanfaatan yang diniatkan dahsyat ke luar tidak berubah menjadi parasit yang juga merongrong hebat ke dalam. Kita perlu terus berlatih merendahkan hati dengan peka terhadap kelebihan pada diri orang lain sekaligus kekurangan pada diri sendiri.

Kita belum tentu sebaik kesan yang orang lain sematkan pada separuh diri kita yang terlihat. Di sisi lain, kita pun tidak pernah tahu persis daftar kebaikan yang orang lain sibukkan di luar dunia mayanya. Bahkan dalam upaya-upaya untuk menuliskan pesan pengingat yang diunggah seperti ini pun terselip rasa ujub yang mencurigakan ketika tanpa sadar si penulis meninggikan dirinya dengan merendahkan orang lain yang pemahamannya tak sejalan.

Dari hati yang terdalam, mohon dimaafkan kalau saya pernah menuliskan atau mengunggah hal-hal yang menyinggung perasaan kawan-kawan yang kebetulan berkunjung dan membaca halaman saya. Mohon ditegur kalau saya terlihat sok bijak, sok asyik atau malah menggurui teman-teman lewat tulisan yang lalu-lalu.

Kalau ada manfaat dari rilisan-rilisan saya, silahkan ditanggapi dan dibagikan jika dengannya ada kebaikan yang bertambah. Sebaliknya, kalau lebih banyak buruknya, mohon ingatkan dan nasihati saya dengan kebaikan ya. Terima kasih, teman-teman.

Apa jadinya kalau niat baik yang kita rintis di awal maju beriringan dengan tumbuhnya benih ujub tanpa terasa?

Tulisan ini bener banget. Tanpa sadar terkadang apa yang kita tuliskan itu dengan niat baik, jatuhnya bisa membuat diri menjadi ujub karena mungkin merasa tulisannya telah tersusun sangat baik dan pantas dibaca, karena mungkin merasa diri telah melakukan suatu hal baik dan dapat menjadi inspirasi, atau karena likes dan reblog yang menggunung…

Selain itu juga, tulisan yang awalnya kita buat dengan niat baik untuk membagi kebahagiaan kita misalnya, sebagai wujud syukur kita, tetapi bisa saja ketika dibaca orang lain mungkin terkesan pamer, atau terkesan seakan-akan kita yang paling baik. Jatuhnya malah membuat orang lain jadi ngerasani kita. Yang salah siapa? Yang salah ya yang nulis. Karena seluruh tanggung jawab ada pada penulis cerita, bukan pembaca.

Padahal hampir seluruh tulisan itu biasanya adalah bahan muhasabah atau refleksi diri kita sendiri, bahkan terkadang sang penulis juga belum mampu menerapkan seutuhnya dalam kehidupannya sendiri.

Pernah ngga sih setiap mau posting suatu tulisan yang isinya lumayan panjang dan bukan sekedar curhat belaka, pas mau klik tombol post, selalu ada pikiran “posting ngga ya posting ngga ya” ?

Saya sering dan memutuskan hal tersebut kadang membutuhkan waktu beberapa menit.

Atau juga ketika ada bahan postingan, misalkan tentang life event atau sekedar sharing materi kajian, juga sering berpikir “perlu ngga ya di tulis, kalau nanti di share jatuhnya ujub ngga ya?

Astaughfirullah.

Tulisan ini menggambarkan isi hati banget, kak. Terimakasih, kak sat!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai