Salah Strategi (?)

novieocktavia:

Seperti bermain catur, orang bilang hidup ini harus dijalani dengan penuh strategi. Bagaimana untuk mencapai ini dan itu, bagaimana untuk menjadi ini dan itu, serta bagaimana untuk menjalani kondisi yang begini dan begitu, semua katanya penting untuk melibatkan strategi. Tapi, sebab persepsi setiap orang tak pernah sama soal strategi, pada akhirnya ada saja orang yang membenarkan atau bahkan menyalahkan strategi yang diambil oleh orang lain. Mereka berdebat kusir, sebab mungkin yang dipegangnya sebagai sumber penilaian dan pengambilan keputusan bukanlah sumber yang kekal.

Menyoal strategi, anak-anak muda yang beranjak dewasa seringkali memang menjadi sasaran empuk penilaian benar atau salahnya langkah yang diambil. Meski tak benar-benar tahu apa yang menjadi kisah hidup anak-anak muda ini, orang lain, yang ironisnya usianya pun tak jauh beda, dengan mudahnya berspekulasi,

“Dia aneh, masa kerja dulu baru kuliah? Nanti teman-temannya sudah S2 dia masih aja ngerjain skripsi. Hidupnya salah strategi.”“Eh kok nikah dulu, sih? Terus beasiswanya dilepas gitu? Aduuuh, salah strategi banget deh. Padahal nanti aja kalau udah selesai sekolah.”“Anak itu tuh gimana sih cara pikirnya? Orang mah siap-siap keberangkatan studi, apply beasiswa, atau sibuk konferensi di luar negeri, ini malah sibuk nulis buku yang kayak engga jelas gitu masa depannya. Ga ngerti strategi apa, ya?” | “Ini gimana sih strategi hidup dia, tahun ini mau nikah kok malah apply konferensi internasional kesana-sini?”

dan seterusnya. Melelahkan jika didengarkan? Tentu saja!

Bagaimana pun, kita tidak bisa benar-benar memahami apa yang menjadi dasar pengambilan keputusan seseorang. Pun dengan orang itu sendiri, seringkali ia juga tak paham mengapa sebuah peristiwa besar hasil dari pengambilan keputusan penting terjadi. Sebabnya satu: kita tidak pernah benar-benar memilih, tapi oleh-Nya kita dipilihkan jalan.

Jadi, mengapa kita harus memberikan penilaian-penilaian tak masuk akal pada jalan hidup orang lain sementara kita mengetahui bahwa apapun yang mereka jalani adalah bagian dari skenario Allah dalam bentuk ketetapan-ketetapan?

Perbedaan jalan hidup tak menakar perbedaan kemuliaan. Sebab satu-satunya penakar perbedaan kemuliaan hanyalah iman dalam genggaman. Maka boleh jadi, kita tidak perlu ribut beradu soal strategi, tapi begitu perlu saling menjaga agar apapun jalan hidup yang ditempuh, iman tak sampai pergi, apalagi berlari.

somehow tulisan mbak Novie sering banget nge-pas. Pas lagi ngalamin, pas butuh reminder, ataupun pas lagi down. Jazakillah mbak :’’

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai