saya sudah sering membaca, mendengar, bahkan merasakan sendiri bahwa semangat dalam PhD itu naik turun.
dan hari itu, saya sedang sangat tidak bersemangat.
rasanya otak ini tidak bisa dipaksa untuk berpikir, mengoding, menulis, maupun sekedar membaca.
saya memilih untuk meninggalkan pekerjaan sejenak dan tidak memaksakan diri.
meski target pekerjaan belum tercapai hari itu, saya tidak mau semakin tidak produktif dengan duduk termangu di depan laptop tanpa melakukan apa-apa.
keesokan harinya saya bangun lebih pagi dari biasanya.
membaca al-qur’an lebih banyak dari biasanya, menyempatkan diri mendengarkan satu ceramah singkat, lalu segera ke kampus setelah shalat shubuh.
setelah supervisor datang, saya langsung ke ruangannya untuk diskusi.
dan ajaib!
setelah diskusi saya merasa jauh lebih berenergi dibanding hari sebelumnya.
akhirnya saya melakukan intropeksi kenapa saya kemarin turun dan hari ini bisa naik lagi.
setelah saya list, ternyata yang membuat saya turun adalah,
sedang tidak banyak yang dikerjakan
tidak tahu ujung dari semua ini apa
apa motivasi dari masalah yang sedang dipecahkan
kenapa saya harus mengerjakannya
apakah orang lain akan melihat hasil pekerjaan saya
apakah ide saya akan diterima
dan semua perasaan itu, semua ketakutan itu, membuat saya stress
sehingga semangat belajar saya turun
padahal sebagai seorang muslim, seharusnya saya yakin
bahwa Allah dan rasulNya melihat,
bahwa surgalah motivasi saya,
bahwa kebaikan yang akan menjadi ujung perjalanan ini,
bahwa keikhlasanlah yang menambahkan keberkahan atas pekerjaan saya.
“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah [9]: 105)
jadi,
saya seharusnya tidak perlu takut dengan penilaian manusia.
teringat pesan seorang senior untuk bekerja saja sebaik-baiknya.
tidak perlu risau dengan jumlah paper yang sudah ditulis.
kalau memang pekerjaannya baik, pasti banyak periset lain yang tertarik dengan pekerjaan kita.
meski mengejar target publikasi adalah baik,
tapi itu bukanlah tujuan utama seorang periset sejati.
tujuan seorang peneliti sejati tak lain adalah memberikan kebermanfaatan dengan hasil temuannya, yang dengan itu semoga tercatat sebagai amal jariyah.
selain itu, saya juga belajar bahwa energi saya sepanjang hari ditentukan dari seberapa bersemangat saya di waktu pagi.
bukankah Rasul telah berdoa agar Allah memberikan keberkahan untuk umatnya di pagi hari?
keseimbangan akal, jasmani, dan rohani tentu berpengaruh besar kepada performance kerja seseorang
“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Daud)
jadi yang perlu saya ingat ketika sedang turun adalah,
bekerjalah saja karena Allah pasti melihat,
jaga keseimbangan peran jasmani, ruhani, dan akal,
perbanyak berdoa dan istighfar agar Allah berikan jalan keluar dari arah yang tidak disangka-sangka,
dan selalu mengecek niat dan keikhlasan di hati
Allahlah yang akan meninggikan dan menguatkan, insya Allah
“Takkan surut walau selangkah
Takkan henti walau sejenak
Cita kami hidup mulia
Atau syahid mendapat surga”
Gelombang Keadilan – Shoutul Harakah