Kenapa kebun bunga tampak indah? Karena masing-masing bunga sibuk memekarkan kelopaknya. Tidak ada waktu bagi si aster memusingkan kenapa si mawar lebih digemari. Tidak terfikirkan bagi si matahari kenapa melati lebih wangi.
Mereka mensyukuri segala yang diciptakan atas dirinya dan menjadi indah dengan kodratnya masing-masing.
Berlawanan dengan sang bunga, seberapa seringkah kita melihat kehidupan orang lain yang terlihat bahagia, lalu membandingkan dengan kehidupan sendiri yang rasa-rasanya “kok gini banget sih.”
Padahal kita hanya melihat luarannya semata. Kalau orang-orang bisa berkata, mungkin mereka akan berkata begini
“I’m a queen, with a handsome king. In a big castle, perfect Heirs, servants, lots of money, food to eat. My life is heaven. If you look from the window. But if you look closer, my tiara is fake diamonds, the king is a robot and the castle is made of ice”
Ya, kita bisa iri karena hanya melihat yang tampak dari sudut pandang yang sempit. Lagi pula belum tentu apa yang dimiliki si A baik bagi kita, atau yang cocok di B pantas untuk kita. Bisa jadi, ketika kita diberikan itu, justru akan membuka pintu kelalaian, membuat terlena dan menjadi “orang yang duduk.”
Contoh sederhananya seperti ini, pernah tidak di toko baju, kamu melihat baju yang cantiiiik sekali? Warnanya adalah warna kesukaanmu, payet-payet pada kainnya nampak begitu indah. Kamu membayangkan, betapa cantiknya aku jika memakai baju itu!
Tapi setelah dicoba, kamu sadar baju itu tidak cocok untukmu. Entah karena terlalu membentuk lekuk tubuh, membuatmu terlihat gemuk, membuat skin tonemu terlihat lebih gelap, dsb.
Baju itu cantik saat dipajang di tubuh patung, tapi tidak saat kamu yang mengenakannya.
Dan perihal syukur itu, aku rasa, tidak efektif waktu jika hidup dihabiskan untuk mengamati hidup orang yang kita nilai sempurna bahagia hanya untuk sekedar mensyukuri nikmat di dalam diri. Maka, seperti bunga-bunga cantik di taman bunga, syukur lahirnya dari dalam diri. Tidak dengan membanding-bandingkan. Mereka bertumbuh dan merekah dengan mengenali potensi terbaik diri mereka. Mereka tidak protes pada kodrat dan memunculkan yang terindah dari padanya.
Maka, jadilah kita bunga. Dengan seindah-indahnya diri kita. Memanfaatkan sebaik-baiknya bekal dan rizki yang dititipkan Tuhan. Hingga nanti ketika pulang, kita telah menjelma jadi bunga cantik yang bisa berkata riang pada-Nya
“Aku mencintai-Mu dan takdir yang kau tetapkan untukku. Aku sudah menjalani sebaik-baiknya, dan aku bersyukur atas semua yang kau karuniakan”
Dan semoga dengan syukur itu, nikmat dan kelapangan hati kita makin berlebih-lebih. Sebab Rabb kita takkan ingkar janji. Dan cinta-Nya akan senantiasa terlimpahi bagi yang pandai berterima kasih.
One of the most beautiful book to read is “Die Empty” by Todd Henry.
The author was inspired and got this idea of writing this book while attending a business meeting.
When the director asked the audience: “Where is the richest land in the world?”
One of the audience answered: “Oil-rich Gulf states.”
Another added: “Diamond mines in Africa.”
Then the director said: “No it is the cemetery. Yes, it is the richest land in the world, because millions of people have departed, “they have died” and they carried many valuable ideas that did not come to light and benefited others. It is all in the cemetery where they are buried.“
Inspired by this answer, Todd Henry wrote his book "Die empty.” Where he did his best to motivate people to pour out their ideas and potential energies in their communities and turn them into something useful before it is too late.
The most beautiful of what he said in his book is: “Do not go to your grave and carry inside you the best that you have.
*always choose to die empty*
The TRUE meaning of this expression, is to die empty of all the goodness that is within you. Deliver it to the world, before you leave
If you have an idea perform it.
If you have a knowledge give it out.
If you have a goal achieve it.
Love, share and distribute, do not keep it inside.
Prophet Mohammad said (pbu): "If the Final Hour comes upon one of you while he has in his hand a sapling, then let him plant it.”
Shall we begin to give and remove and spread every atom of goodness inside us.
Start the race….
*Die Empty*
– kiriman dari Dosen paling keren yang pernah kujumpai, Prof Abuzar Asra
(die empty, not bringing anything but amalan sholihat)
Akan ada satu fase di mana kau harus merelakan semuanya. Melepaskan harapan-harapanmu, keinginanmu, dan segala hal yang telah kau upayakan dengan sekuat tenaga.
Kau tak bisa berbuat banyak. Kau hanya bisa diam menyaksikan seluruh perasaanmu hancur, berkeping-keping. Hingga yang tersisa di dalam dirimu, hanyalah kesedihan dan penyesalan yang tak kunjung henti.
Kau dihadapkan pada sebuah kenyataan yang memaksamu untuk belajar melapangkan hati, memasrahkan diri, dan menerima bahwa hidup terkadang berjalan tidak sesuai dengan apa yang kau perkirakan sebelumnya.
Maka berhentilah sejenak, di sana, saat kau menemui titik terendahmu. Sebab di sekelilingmu, masih banyak hal-hal kecil yang selama ini lepas kau perhatikan. Sesuatu yang barangkali dapat membuatmu melompat lebih tinggi.
Dan apa yang sudah kau lepaskan, bukanlah sesuatu yang pantas untuk terlalu lama kau tangisi.
Orang gagal sekalipun memiliki kepuasannya sendiri. Puas karena sudah berusaha. Puas karena sudah membuktikan bahwa dirinya bukanlah pemalas atau pemuda tanpa determinasi. Meski belum berhasil, setidaknya dia sudah satu tingkat di atas orang-orang yang enggan mencoba.