Apresiasi

makarimanaily:

Dear my dear self,

Enggak apa-apa. Silahkan sesenggukan dipojokan kamar
nggak apa-apa. Sudah sejauh ini melangkah. Kamu kini hanya perlu tau satu hal,
bahwa proses lebih berharga daripada hasil. Bukankah kamu sudah tahu bahwa
dunia kini memang seganas itu? Kamu sekarang sudah kuat, kan? Kamu sekarang
sudah paham betul kan cara menghadapinya? Setidaknya kamu sekarang sudah tak
banyak ngerepotin orang lain lagi. Sudah mau belajar mandiri dan berani. Sudah
mau mencoba berdiri diatas kaki sendiri. Sebab katanya mau tak mau, menjadi
kuat adalah tanggung jawab pribadi.

Bersyukurlah. Ini bisa menjadi cerita hebat dan
menarik untuk anak-anakmu kelak. Maka ketika mereka kamu ceritakan tentang
hal-hal seperti ini, mereka akan dengan bangga menjadikanmu sebagai guru
besarnya. Sebagai teladan terdekatnya. Sebagai cahaya didalam hatinya. Bahwa
kamu adalah perempuan hebat dan kuat untuk mereka.

Ini tentang sebuah apresiasi untukmu. Agar kamu tak
mudah lagi untuk mengeluh dan menyerah. Agar kamu tidak pesimis lagi dalam
mencoba suatu hal. Agar kamu tau bahwa kamu superhebat. Agar kamu bisa lebih
mudah memperbaiki masa lalumu yang sering sekali kamu permasalahkan. Dan kamu
besar-besarkan. Agar kamu memiliki banyak alasan bersyukur dan mengikhlaskan.
Menerima dan melepaskan.

Terimakasih. Terimakasih karena kamu sudah bersedia
mencoba berkali-kali dalam banyak hal. Terimakasih sudah memutuskan bangun lagi
dari jatuh. Terimakasih sudah mencoba bangkit dari rasa hampir menyerah. Terimakasih
sudah menghapus kata lelah untuk menghadapi semuanya. Pada setiap waktu, setiap
detik, setiap keadaan dan setiap musim.  Ah, ternyata kamu sekuat itu bukan?

Terimakasih sudah mau belajar sejak taman kanak-kanak
hingga diperguruan tinggi. Terimakasih sudah mau menjalaninya dengan sabar.
Meski terkadang masih suka ngeluh, sesekali putus asa. Tapi kamu hebat,
setidaknya hingga kini kamu tidak menyerah. Kamu masih ingin terus belajar.

Terimakasih sudah mau nurut orang tua dengan belajar
ilmu statistika. Dengan belajar ilmu yang menurutmu bukan passionmu. Sudah mau
memahami bahwa perkataan, saran dan nasihat dari seorang ibu adalah yang utama.
Meski kadang juga masih bertanya-tanya, kenapa harus belajar ini dan itu?

Terimakasih sudah berusaha ta’dzim, hormat dan
berakhlak baik kepada mamah bapak, kepada guru-guru, kyai, ustadz dan ustadzah.
Kepada orang-orang yang lebih tua darimu. Terimakasih sudah mau belajar
menyayangi kakak, menyayangi adik, menyayangi sepupu-sepupumu. Walaupun
terkadang masih suka ngerepotin.

Terimakasih sudah mau mencoba berteman dan berbuat
baik kepada teman. Semoga kamu hanya akan selalu mengingat kebaikan-kebaikannya
dan cepat melupakan keburukan-keburukannya dimatamu—kepadamu.

Terimakasih sudah mau nurut sama Allah, sudah
menjadikan Rosul sebagai panutan meski belum sepenuhnya, tapi setidaknya
sepenuhnya kamu telah mencoba. Terimakasih sudah mau belajar hidup sederhana
dipondok pesantren, semoga kamu selalu istiqomah dan tidak tenggelam dalam
kehidupan yang serba mewah dizaman milenial seperti ini. Terus dan seterusnya.

Terimakasih sudah mau mencoba menyelami, menghadapi
kemudian memaknai lingkungan yang serba heterogen seperti ini. Dimana warna
abu-abu selalu ada setiap saat. Dimana baik dan buruk bisa saja berkumpul dalam
satu badan. Meski kadang merasa tidak cocok, merasa risih, merasa takut dan merasa
tidak mampu, setidaknya kamu masih bertahan sampai sekarang, bukan?

Terimakasih telah memutuskan keputusan yang paling
besar di dunia ini. Terimakasih sudah dengan mantap dan yakin telah menceburkan
diri ke dalam dunia Al-Qur’an. Terimakasih untuk tetap bertahan hingga kini.
Meski kamu tau bahwa menghafal itu konsekuensinya sangat berat jika tidak
diperjuangkan hanya karena Dia. Meski jalannya terjal, curam dan berbatu. Tapi
kamu yakin, jalannya pasti lurus. Semoga kamu tetap bisa bertahan sampai 30
juz. Semoga teman-teman seperjuanganmupun bisa bertahan sampai selesai juga.
Dan bisa menjaganya dengan baik sampai nafas tak dikandung badan lagi.

Terimakasih sudah mau makan apapun asal halal. Tidak
memilih-milih. Ah, dunia memang restoran terbaik dengan menu apapun! Tapi
jangan banyak-banyak makan, ya. Nanti hatinya mati. Jadi ilmunya susah masuk.

Terimakasih sudah  bersyukur dilahirkan ditengah keluarga yang
sederhana dengan caranya sendiri seperti ini. Meski kadang tak cocok dengan
keputusan mamah, tak cocok dengan keputusan bapak. Tapi dengan kamu yang
mencoba meruntuhkan ego-ego diri, kamu telah berhasil patuh kepada keduanya. Katanya
anak boleh mikir, tapi orang tua lebih berpengalaman.

Terimakasih sudah mau bermimpi, memperjuangkan
mimpi-mimpi juga meladeni mimpi-mimpi. Diluar sana banyak yang tidak berani
bermimpi, banyak yang sudah menyerah dulu sebelum mencoba. Ingat, kamu memiliki
Tuhan yang hebat sejagad semesta. Yang menggenggam mimpi-mimpimu, lalu akan
dilepaskan pada saat yang tertepat. Tugasmu hanya berdo’a, berjuang dan butuh sedikit
menunggu lagi.

Terimakasih sudah mau membaca banyak buku. Meski
kadang tidak sepenuhnya paham, setidaknya kamu sudah sepenuhnya mau memahami.
Suatu saat kamu pasti akan dipahamkan oleh-Nya. Semoga hasil membaca-baca
sekarang tak hanya sekedar menjadi bacaan, tetapi akan bermanfaat dikemudian.

Terimakasih sudah mau menulis. Menuliskan cita-cita.
Menuliskan cinta. Menuliskan semuanya—menuliskan kehidupan. Semoga arah penamu
yang berisi jatuh-bangun, semangat-menyerah, senang-sedih, kecewa-bahagia, dan
pembijakan untuk diri sendiri bisa menjadi amal baik yang tak putus hingga ke
negeri akhirat kelak.

Terimakasih sudah bersedia patah hati, bersedia
menikam setiap rindu yang merasuk kedalam diri, bersedia menyimpan rasa-rasa
aneh yang terkadang menganggu pikiran. Terimakasih sudah  mempersiapkan diri menjadi perempuan yang
lebih baik untuk untuk kelak ditemukan dengan yang tertepat diwaktu yang paling
tepat.

Terimakasih sudah mencoba menjadi diri sendiri
disaat yang lain memakai bermacam-macam topeng pada wajah mereka. Terimakasih
sudah berusaha memaknai setiap kejadian, setiap peristiwa yang kamu alami dan
mengambil hikmahnya. Karena tak semua orang diberi ilmu hikmah.

Terimakasih sekali lagi. Ah, kamu ternyata sehebat
ini.

Sudah selesai sesenggukannya? Dihapus, ya, air
matanya. Yuk ah, bangkit lagi! Ngaji lagi!

Sudah disuruh senyum sama Allaaaah. Senyuuuuum. :))

(( terimakasih karena sudah nurut orang tua belajar statistika )) 😂😂

entering (still) my favourite month by collecting as much energy as I can. not because pretending to be happy needs much energy but because embracing works and keeping mind balance do need bunch of energy 😂

rabbi audzi’ni an asykuro ni’matakallati an’amta alayya wa’ala walidayya wa an a’malasholihan tardhohu wa adhilni birokhmatika fi’ibadikassholihin

march 2019

firassabilanurdini:

Perjalanan akan membawamu bertemu dengan seseorang yang sevisi denganmu.

Namun, bagaimana jadinya jika justru jalan terbelah menjadi dua? Seseorang yang kamu kira sevisi justru berjalan di jalan yang berbeda. Dan kamu justru harus berpisah dengannya?

Maka, sekali lagi percayalah, kawan. Allah akan mempertemukanmu dengan orang-orang yang sevisi denganmu. Bagaimanapun sakitmu kini, percayalah, bahwa semua jalan akan mempertemukan dan mengarahkan pada tujuan masing-masing. Kamu tentu akan menemukan orang itu lagi. Seseorang dengan visi yang sama denganmu. Siapapun orang itu, namun dengannya lah kamu akan melakukan perjalanan yang akan membawamu berlari dengan visi yang sama. InsyaAllah.

Sebuah surat singkat untuk seorang teman:)

Before The Start Until Its End

ceritanovieocktavia:

Dear, may I tell you something before all the things ahead?

People may have experienced a day which full of grey skies, crystallized hard rain, loneliness, and even isolation. Unfortunately, they just companioned by a cup of lukewarm tea of coffee. Or, in the opposites, they are surrounded by so many people around, but still, feel alone. Thus, getting married are not only for these reasons. Married isn’t only about seeking a friend for exploring the choppy waves of life ahead, or fulfilling your need of affiliation.

People have tendencies in a need of love and belongingness. These are the common fundamental things in life. But, there’s something that we have to know, that problems will not be resolved through the expression of love and tenderness only. Getting married is not only for this reason. Married isn’t only about seeking love and tenderness. Married isn’t like magic or a wand which can cure all of our troubles in a flash.

As a human being, every people have problems, they have bad experiences about something. But, getting married is not about escaping ourselves from trouble or something traumatic. Married isn’t only about solving our problem and seeking for protection. Can you imagine how our life would be if we are decided to be a person who just leaning our lives through others rather than have meaningful lives of our own? Thus, married isn’t only about breaking black clouds.

For you as a man, psychologically you will have more desire for power than women. You may feel and think that you must be a strong person so you can control and protect your wife. But, married is not only about showing power and seeking control to others. On the other side, married isn’t only about showing or giving your power of affiliation for your wife. Your wife may be your best comfortable place ever. She can give you caress or a warm hug whenever you want. She can whisper you her magical word which makes your spirit burned. She’s able to give you a cup of testable coffee which she makes by love. But, she is more than just it!

For me as a woman, psychologically I will have more desire to be listened, cared, and loved by others than man. I may think and feel that life is about togetherness with others, especially with a spouse who can save me from the silent hours when I stand alone. But, I deeply realized that marriage is not only about sharing a journey, showing stories, and being listened so that all the problem would be solved. A husband may be able to be the best listener ever and give his concern to everything I, as a wife, says. A husband may heal, but I think I shouldn’t place him just as a healer man who can give me a quite hug whenever I need. Husband is more than just it.

Another thing, people actually have a desire or a need for sexual fulfilment. Consciously or not, every people living in this world are seeking pleasurable things. But, married is not only about fulfilling our need for it. Married is not only about making sense something nonsense or making halal something haram.

So, what’s the motive behind the intention of getting married?

It’s a liar if we don’t seek those things above through marriage. We want to seek a friend, fulfilling the need of affiliation, seeking love and tenderness, solving problems and seeking protection, showing power for protecting, sharing the journey, showing your stories, being listened, and fulfilling needs about sexual desire. But, I have to say that these things are just poor intention (very poor, Subhanallah) that may destroy the journey before reaching its end in the hereafter.

Something important that we have to know is that we are a slave of Allah. Obedient and faithful to Him should be the very first reason why we do many things in our lives, including marriage. On the other word, we should put devotion at the very first reason for marriage. After that, we have to be clear about these questions,

How can we help our Deen with our marriage? How can we get the highest station in Jannah through our marriage? How can we serve ummah with our marriage? How can we, as a husband and wife, build each other up to be the best of the best slave for Him after this marriage, moreover after the end of the honeymoon phase?

Put all the emotion and human kinda things behind and we have to remember that, as mentioned in hadith of Bukhari and Muslim, deeds are depended on its intention. And, as Umar ibn Al-Khattab said, when one’s intention is sincere, Allah will suffice his needs, protect him, and guide him in his dealings with the people. InsyaAllah.

Do not be afraid. We should be happy because Allah is teaching us something big and important through all the things happening these days. Keep in faith and ask Him for the ultimate guidance.

“My heart is at ease knowing that what was meant for me will never miss me and that what misses me was never meant for me.” Umar ibn Al-Khattab

__

Picture: Pinterest

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai