Syukur Bagi Bunga

aisyahgis:

image

Kenapa kebun bunga tampak indah? Karena masing-masing bunga sibuk memekarkan kelopaknya. Tidak ada waktu bagi si aster memusingkan kenapa si mawar lebih digemari. Tidak terfikirkan bagi si matahari kenapa melati lebih wangi.

Mereka mensyukuri segala yang diciptakan atas dirinya dan menjadi indah dengan kodratnya masing-masing.

Berlawanan dengan sang bunga, seberapa seringkah kita melihat kehidupan orang lain yang terlihat bahagia, lalu membandingkan dengan kehidupan sendiri yang rasa-rasanya “kok gini banget sih.”

Padahal kita hanya melihat luarannya semata. Kalau orang-orang bisa berkata, mungkin mereka akan berkata begini

“I’m a queen, with a handsome king. In a big castle, perfect Heirs, servants, lots of money, food to eat. My life is heaven. If you look from the window. But if you look closer, my tiara is fake diamonds, the king is a robot and the castle is made of ice”

Ya, kita bisa iri karena hanya melihat yang tampak dari sudut pandang yang sempit. Lagi pula belum tentu apa yang dimiliki si A baik bagi kita, atau yang cocok di B pantas untuk kita. Bisa jadi, ketika kita diberikan itu, justru akan membuka pintu kelalaian, membuat terlena dan menjadi “orang yang duduk.” 

Contoh sederhananya seperti ini, pernah tidak di toko baju, kamu melihat baju yang cantiiiik sekali? Warnanya adalah warna kesukaanmu, payet-payet pada kainnya nampak begitu indah. Kamu membayangkan, betapa cantiknya aku jika memakai baju itu!

Tapi setelah dicoba, kamu sadar baju itu tidak cocok untukmu. Entah karena terlalu membentuk lekuk tubuh, membuatmu terlihat gemuk, membuat skin tonemu terlihat lebih gelap, dsb.

Baju itu cantik saat dipajang di tubuh patung, tapi tidak saat kamu yang mengenakannya. 

Dan perihal syukur itu, aku rasa, tidak efektif waktu jika hidup dihabiskan untuk mengamati hidup orang yang kita nilai sempurna bahagia hanya untuk sekedar mensyukuri nikmat di dalam diri. Maka, seperti bunga-bunga cantik di taman bunga, syukur lahirnya dari dalam diri. Tidak dengan membanding-bandingkan. Mereka bertumbuh dan merekah dengan mengenali potensi terbaik diri mereka. Mereka tidak protes pada kodrat dan memunculkan yang terindah dari padanya.

Maka, jadilah kita bunga. Dengan seindah-indahnya diri kita. Memanfaatkan sebaik-baiknya bekal dan rizki yang dititipkan Tuhan. Hingga nanti ketika pulang, kita telah menjelma jadi bunga cantik yang bisa berkata riang pada-Nya 

“Aku mencintai-Mu dan takdir yang kau tetapkan untukku. Aku sudah menjalani sebaik-baiknya, dan aku bersyukur atas semua yang kau karuniakan”

Dan semoga dengan syukur itu, nikmat dan kelapangan hati kita makin berlebih-lebih. Sebab Rabb kita takkan ingkar janji. Dan cinta-Nya akan senantiasa terlimpahi bagi yang pandai berterima kasih.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7).

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai