take a shower, wash off the day. drink a glass of water. make the room dark. lie down and close your eyes. notice the silence. notice your heart. still beating. still fighting. you made it, after all. you made it, another day. and you can make it one more. you’re doing just fine.

charlotte eriksson

bukan lu doang

colorious:

beberapa hari lalu, sepulang menghadiri pesta pernikahan salah satu teman kuliah kami, saya dan beberapa teman dekat sepakat untuk berkumpul dan berbincang di suatu tempat setelah sekian lama tidak saling duduk dan bertukar kabar. pertemuan kami tak pernah terasa canggung layaknya manusia yang lama tak bertemu. kami selalu bisa bicara apa saja; dari hal di masa lalu sampai sesuatu yang sedang dialami saat ini. mengalir begitu saja tanpa aturan.

singkat cerita, perbincangan kami pun sampai pada pembahasan yang agak deep; waktu indonesia bagian curhat. kami mulai saling menyediakan telinga. beberapa mulai bercerita tentang waktu-waktu sulit yang sudah atau sedang mereka alami baik secara langsung maupun tidak. ada yang tentang keluarga, studi, karir, lingkungan pekerjaan, pasangan hidup, dan lain-lain. cerita-cerita yang mengalir jujur dari mulut mereka berhasil membuat pikiran saya ikut berbicara dengan hati kecil saya sendiri.

***

beberapa bulan terakhir, sebelum saya berkesempatan bertemu dan berbincang dengan mereka, tidak jarang saya berpikir, “apakah hanya saya yang sedang diuji oleh Allah?” mengingat suatu hal yang menyebabkan saya merasa menjadi manusia paling tidak beruntung di dunia ini. betapa ‘kege-erannya’ saya mendapati diri yang merasa paling nelangsa di dunia hanya karena melihat kehidupan sahabat-sahabat saya yang (terlihat) baik-baik saja di laman sosial media. padahal kalau kita mau lihat lebih dalam, kita akan sama-sama mendapati bahwa diri kita ini sama-sama sedang diuji. hanya saja, bentuk ujiannya berbeda-beda sesuai dengan “lembar ceklis” yang ada pada-Nya.

kita akan diuji di titik terlemah kita. setiap manusia Allah ciptakan unik, termasuk ujiannya. setiap manusia itu unik, termasuk kelemahannya. kalau ada yang sama, pasti tetap ada perbedaannya. itulah kenapa kita gak pernah bisa benar-benar melihat ujian apa yang sedang dijalani orang di sekeliling kita satu-satu. karena ilmu kita ini terbatas, pandangan kita ini terbatas, sedangkan ilmu Allah Maha Luas dan kita gak akan bisa sampai kepada keluasan itu. karakter dan kelemahan setiap manusia beda-beda, maka perlakuan-Nya pun akan berbeda. karena pandangan manusia yang terbatas itulah, kita jadi hanya bisa melihat yang dekat dan paling dekat saja, salah satunya diri kita sendiri. fokus kita menjadi sempit yaitu hanya seputar diri sendiri. sehingga kita menjadi gampang menyimpulkan bahwa yang sedang Allah uji seakan-akan hanyalah kita seorang sendiri. bahwa dunia ini hanya tentang diri kita. padahal, “bukan lu doang, cuy!”

***

setelah pertemuan itu, saya lekas berkaca. kemudian malu kepada Allah juga kepada diri sendiri dan buru-buru memperbaiki sudut pandang. semoga setelah ini, tulisan saya ini, bisa menjadi pengingat saya kalau-kalau saya lupa bahwa hidupnya kita di dunia ini tidak lain ya memang untuk diuji; tidak ada manusia yang tidak diuji. sebab ujian itu adalah salah satu tanda betapa Maha Pengasih dan Penyayang-nya Dia kepada kita dan betapa spesialnya setiap diri kita di mata-Nya.

2019.02.06

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai