syuraik:

Silau

Dunia itu memang menyilaukan. Karenanya ambil seperlunya saja. Jika dikejar sudah pasti tak pernah akan ada habisnya. Apalagi kita sebagai Muslim. Maka Muslim yang cerdas dan berakal wajib menjauhkan diri dsri keterjatuhan ke dalam jerat-jerat dunia yang fana ini, sembari beramal untuk kehidupan akhirat yang kekal sekaligus kehidupan yang hakiki.

Syaddad bin Aus pernah menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya serta biasa beramal untuk bekal kehidupan setelah mati. Sebaliknya, orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya, sementara dia berangan-angan kepada Allah.” (HR. at-Tirmidzi, Ahmad, Ibn Majah, dan al-Hakim)

Terlebih saat ini kita sedang berada di bulan berkah nan mulia, Ramadan. Semoga Ramadan menjadi tempat bagi kita untuk muhasabah serta menjadi titik balik agar menjadi hamba yang lebih bertakwa dan bersungguh-sungguh mencari bekal akhirat.

Serta tidak berlebihan mencintai dunia dan tunduk terhadap hawa nafsu. Nauzubillah. Hal ini juga pernah disabdakan Rasulullah saw.:

“Dunia itu, dibandingkan dengan akhirat, adalah seperti salah seorang diantara kalian yang memasukkan telunjuknya ke dalam lautan. Perhatikanlah, apa yang tertinggal pada telunjuk tersebut?” (HR. Muslim, at-Tirmidzi, Ibn Majah, dan Ahmad)

Selamat berbenah!

Surabaya, 5 Ramadan 1440H

prawitamutia:

menjadi baik

hari ini kita melihat banyak orang berlomba-lomba dalam kebaikan. tapi sayang, tidak semua berada dalam lintasan lomba menjadi baik. ada bahkan banyak yang berlari-lari ingin memenangkan lomba terlihat baik.

padahal, kebaikan itu tidak pernah bisa dilihat dari apa yang ada di permukaan saja. ya, memang yang ada di dalam akan tercermin di luar. akan tetapi, tidak semua yang ada di luar adalah kebenaran.

hari ini ramai betul seruan dan ajakan untuk berhijrah. tapi sayang, sebagian dari kita menilai bahwa hijrah diukur dari hal-hal yang tampak–seperti apa yang dipakai, apa yang dilakukan, apa yang dikatakan atau diunggah di media sosial. orang-orang yang belum segolongan–yang belum memakai baju serupa, tidak melakukan hal yang sama, membicarakan hal selain seperti obrolan orang-orang “hijrah”–lantas disebut belum berhijrah.

padahal, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi kepada seseorang, apalagi apa yang ada di dalam hatinya. bisa jadi seseorang itu sedang berhijrah dari keterpurukan hati kepada hidup yang lebih bahagia. bisa jadi seseorang sedang berhijrah dari gaya hidup yang kurang sehat kepada gaya hidup yang sehat. atau berhijrah dari kemalasan kepada hidup yang lebih produktif.

setiap orang memiliki jalan hijrah–jalan bertumbuhnya masing-masing. kita tidak perlu ikut-ikutan melabeli apakah seseorang sudah berhijrah atau belum. sekali lagi, sejatinya semua orang berhijrah sendiri-sendiri. terutama, kita harus berhenti menghakimi atau menyindir orang-orang yang belum/tidak melakukan yang kita lakukan. berhenti karena itu bisa menyakitkan bagi yang menerima.

pula, tak perlulah kita menyindir orang yang sedang “berhijrah” meskipun itu hanya bercanda. kita tidak tahu bagaimana perjuangannya untuk bisa sampai pada titik itu. jangan sampai omongan kita malah membuatnya tidak termotivasi lagi untuk menjadi baik.

oh ya, dan apa yang baik menurut kita belum tentu benar, belum tentu baik untuk orang lain. tugas kita adalah menjadi sebaik-baik diri tanpa menjelek-jelekkan orang lain. tugas kita adalah menciptakan suasana yang nyaman bagi siapa saja yang ingin bertumbuh menjadi lebih baik.

mari kita berhijrah: dari berada pada lintasan lomba kebaikan “terlihat baik” kepada lintasan lomba kebaikan “menjadi baik”. ini adalah saat yang tepat untuk membuktikannya.

exactly:)

ilhamuttaqin:

“Terima kasih karena telah di sana. Untuk siapapun yang padanya belum diucapkan terima kasih atas senyum, bantuan, atau pengingatnya. Bahkan lebih dari itu, mungkin engkaulah yang membawa perubahan lebih baik dalam kehidupan ini. Atau mungkin, engkau yang telah menjadi contoh tentang bagaimana seorang manusia seharusnya. Kehadiranmu adalah berkah. Kenyataan bahwa diri tak dapat membalas kebaikanmu adalah musibah. Maka, semoga doa menjadi jembatannya.”

Terima kasih untuk orang-orang yang pernah hadir dan memberi saya perspektif baru

One ‘Turning Point’ Day

I had one ‘turning point’ day. Probably it will be one remarkable day in mylife. That day, Allah SWT saved me kindly. He saved me right when I thought I couldn’t survive. He saved me while knowing that I don’t have enough deed for the afterlife. I thought I would’ve met Him that day without enough goodness with me.

I just want to say that we really do not know when our time in this dunya will stop. We certainly have no clue when will we meet Him. Let us praise Allah, let us seek everything that just bring us closer to Jannah. InsyaAllah…

P.S. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah tahun ini masih ketemu Ramadhan

cwote:

Be proud of yourself for how hard you’re trying :))

Di-pm kasi provinsi kirain nanyain kerjaan dong, eeh ternyata bilang terima kasih karena udah nyelesein survei triwulanan. Sebuah apresiasi 🙂 beliau udah tau kalo di kabupaten kerjaannya sebanyak apa 🙂

Nanti kalo kamu jadi pimpinan, kayak gitu ya. Jangan ragu bilang makasih *ngomongsamadirisendiri dulu wkw

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai