yang sudah berani berjalan jauh hingga detik ini, baik kedalam samudera hatimu yang dalam, maupun keluar pergi ke dunia yang luas. Sebab tidak semua orang mampu melakukanya. kebanyakan dari mereka hanya berjalan tanpa mengetahui maknanya. Selamat sudah menjadi kokoh dan kuat di terjang angin.
Sejak awal kehidupan kita di dunia, kita terlahir dengan seluruh keunikan dan perbedaan yang kita miliki, yang tentu saja berbeda dengan keunikan dan perbedaan milik orang lain. Pun dengan ayah dan ibu kita, kita juga berbeda. Bagaimana tidak, kita terlahir dengan membawa 350.000 keunikan sifat ayah yang berkelindan dengan 350.000 keunikan sifat ibu, yang membuat kita menjadi pertemuan antara 700.000 sifat. Tidak bisa tidak, kita berbeda: pribadinya, sikapnya, sifatnya, warna kulitnya, bentuk matanya, proporsi tubuhnya, kecerdasannya, minat dan bakatnya, cara berpikirnya, dan seterusnya. Salah satu yang paling terlihat dari perbedaan ini, terutama di usia-usia emas di awal kehidupan, kita bertumbuh dalam waktu dan tahapan yang berbeda. Itulah individual differences.
Pernahkah kamu mendengar keluhan seorang ibu tentang mengapa anaknya belum tumbuh gigi sementara anak tetangganya sudah punya 2-4 gigi? Pernahkah kamu menangkap kekhawatiran seorang ibu yang anaknya sudah bisa bicara tapi belum bisa berjalan sementara anak tetangga sudah berjalan meski belum bicara? Pernahkah kamu melihat seorang ibu gusar karena anaknya masih selalu terjatuh saat duduk sementara anak tetangganya sudah bisa tegak dalam waktu yang cukup lama? Menurutmu, apakah ini terjadi karena yang satu terlambat dari yang lain? Apakah yang lebih cepat berarti hebat dan yang lebih lambat berarti salah? Tidak. Kembali lagi, setiap individu berbeda dalam tahapannya, setiap kita telah disediakan oleh-Nya waktu-waktu terbaiknya.
Sayangnya, saat kita mendewasa dan mulai berhadapan dengan tuntutan-tuntutan masyarakat, perbedaan tahapan dan perbedaan pertumbuhan yang kita miliki entah bagaimana menjadi lebih sering dihakimi, alih-alih diterima dan dilihat sebagai sesuatu yang apa adanya. Tanpa disadari, kita kemudian menyalahkan keputusan orang lain yang memilih sekolah daripada menikah dulu, memilih pergi kerja ke luar negeri daripada sekolah dulu, memilih menikah di usia muda daripada memiliki rumah dan kendaraan dulu, dan masih banyak lagi. Tidak hanya itu, kita pun tak jarang menjadi “korban” pertanyaan (atau mungkin lebih tepat jika dikatakan penghakiman) orang lain tentang mengapa kita belum lulus sarjana, belum menikah, belum punya anak, belum membeli rumah, belum punya kendaraan, belum melanjutkan sekolah, belum punya karya, belum ini, belum itu, dan seterusnya. Semua jadi seperti serba terlambat jika dibandingkan dengan orang lain!
Kita seolah-olah melupa bahwa, di balik sesuatu yang “belum” itu, kita mungkin tengah bertumbuh di jalan-jalan sunyi, belajar sesuatu, menjadi sesuatu, mencapai sesuatu, atau bahkan membuat sesuatu tanpa orang lain ketahui. Kita seolah-olah tidak mau tahu bahwa, perbedaan individual yang kita punya sejak terlahir ke dunia itu, masih tetap akan selalu ada.
Jika kita mau sedikit saja merendahkan hati, kita akan melihat bahwa perbedaan yang terjadi saat kita mendewasa sebenarnya tidak ada bedanya dengan perbedaan yang pernah kita alami waktu kecil dulu. Tidak ada yang salah, tidak ada yang terlambat; kita hanya sedang berbeda dalam tahapan dan pertumbuhan. Bagaimana pun, kita tetap tidak boleh memberikan ruang untuk menyalahkan diri sendiri, apalagi menyalahkan-Nya atas segala ketetapan. Sebab, tidak selamanya yang seolah-olah “cepat” itu baik dan tidak selamanya juga yang seolah-olah “lambat” itu buruk.
Satu hal penting, kita perlu menerima bahwa kita dan orang lain menjalani tahapan kehidupan yang berbeda dan bertumbuh dengan cara yang berbeda pula. Tidak ada yang salah sebab ketetapan Allah tidak pernah salah dan tidak pernah ada kata terlambat dalam kamus-Nya.
Doa; mengutarakan segala yang kelu untuk disampaikan, memeluk dari jauh, menjaga walau tidak bersama.
Allah Maha mendengar, Allah tau segala yang tidak bisa kita definisikan secara gamblang ke manusia.
Banyak-banyaklah mengadu kepadaNya akan hal yang tidak bisa kau jalani sendiri. Karena kasih sayangNya sangatlah luas, melebihi semua prasangka hambaNya.
Untuk jiwa-jiwa yang belum ditakdirkan bersama, untuk raga yang masih terpisah jauh, dan segala rasa yang masih ragu untuk diutarakan, mengadulah kepadaNya.
Karena Ia lebih besar dari segala harapan kita 🙂
Kairo, 27 Mei 2019 || 03.46 clt
In this disruptive world, tumblr is like a home. It is relieving to see other’s post. I don’t feel a bit jealousy.
For my friend who introduced tumblr to me seven years ago, thank you 🙂
She is nothing without her dreams. What keeps her alive is dreaming.
“Bila engkau ingin berdo’a, sementara waktu begitu sempit, padahal di dalam dadamu dipenuhi oleh begitu banyak hajat (kebutuhan), maka jadikan seluruh isi do’amu berupa permohonan maaf kepada Allah. Karena bila Dia memaafkanmu, maka semua keperluanmu akan dipenuhi oleh-Nya tanpa engkau memintanya.”
— Ibnul Qayyim rahimahullah
Maksimalkan minta ampunan sama Allaah Ta’ala, nggak usah minta apa-apa dulu. – ustadz Muhammad Nuzul Dzikri hafidzhahullah –