“Allah, sungguh aku tak berharap apapun dari perjuanganku. Pun tentang hasil akhirnya, sudah sejak awal kuserahkan kepada-Mu. Aku hanya berharap, semua yang kuusahakan, termasuk perjalanan panjang memperbaiki niat dan menggenapkan langkah-langkahnya, akan menjadi amal shalih yang kelak bersaksi di hadapan-Mu, bahwa telah kugadaikan keinginan dan keakuanku. Sebab, aku tahu, jika semua untuk-Mu, inginku sudah tak penting lagi. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.”
Kenikmatan akan semakin terasa setelah adanya perjuangan. Seperti adanya kesenangan setelah kesedihan. Seperti melaksanakan berbuka setelah berpuasa seharian.
Begitu juga dengan hidup yang kita jalani. Mungkin hari ini terasa berat untuk dialami. Tetapi percayalah bahwa esok hari, Allah SWT akan membalas semuanya dengan hal yang lebih baik lagi. Yakinlah akan janji Allah SWT, bahwa setiap kesulitan pasti akan ada kemudahan yang menyertai.
Semoga kita senantiasa selalu diberi kekuatan untuk terus berjuang. Agar lebih bersyukur ketika nikmat itu telah datang. Semoga Allah SWT senantiasa berikan kita keyakinan. Agar hati kita terus bertahan pada setiap ujian.
Makan setelah berjuang (berbuka) ternyata lebih nikmat daripada makan setelah tidur (sahur). Maka mari kita penuhi hidup ini dengan perjuangan agar ujungnya kelak disesaki kenikmatan. (Ustadz Salim A. Fillah)
Waktu bagai terkunci oleh gembok-gembok bernama sosial media, ia bagaikan sesuatu yang tak bisa terlepas dari keseharian kita. Setiap harinya, kita terlena dengan berbagai posts, likes, shares, comments, dan berbagai notifikasi lainnya. Dari sana pula muncul kebahagiaan-kebahagiaan semu, pengisi kosongnya ruang di dalam diri bernama hati.
Sosial media agaknya telah menjadi bak primadona. Orang-orang sekarang ini menjadi sangat bermudah-mudah dalam mempublikasikan kehidupannya di sosial media. Lihat saja apa yang terpampang setiap harinya, lini masa yang kita lihat menjadi penuh dengan berbagai informasi: foto keluarga(-keluargaan), sidang, kelulusan, pasangan halal, wisuda, lingkaran pertemanan yang hebat, kegiatan sosial, persiapan pernikahan, roadshow, diet dan makan sehat, keberangkatan ke luar negeri, kunjungan ke tempat-tempat ternama di penjuru negeri, kelahiran, postingan tidak berfaedah dan masih banyak lagi.
Kita bukan hanya sekedar sedang mengalami banjir informasi, tapi tsunami informasi! Hal ini didukung oleh temuan riset yang dilakukan oleh Wearesosial Hootsuite yang dirilis Januari 2019, faktanya pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Jumlah tersebut naik 20% dari survei sebelumnya. Sementara pengguna media sosial mobile (gadget) mencapai 130 juta atau sekitar 48% dari populasi. Dan, kita adalah salah satu diantaranya, bukan?
Di balik semua keriuhan di sosial media, penelitian justru memberikan informasi yang, mungkin tidak bisa diterima semua orang, bahwa kita adalah orang-orang yang cemas secara sosial. Yup, we are socially anxious people; extremely socially anxious. Tak usah jauh mencari fakta dan data. Kita bisa melihat diri kita dan sekitarnya. Apakah kita suka merasa minder ketika melihat postingan teman-teman di sosial media? Apakah kita suka stress karena merasa hidup kita tidak sesempurna kehidupan teman-teman yang kita lihat dari sosial media mereka? Apakah kita sering kesal melihat postingan yang tidak berfaedah berlalu-lalang di linimasa? Apakah kita merasa kehilangan diri sendiri dan melihat diri secara negatif karena merasa tidak sama dengan apa yang orang lain capai atau lakukan? Apakah kita pernah (atau seringkali) away dari sosial media karena merasa perlu “mengamankan” diri? Kalau sebagian besar jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini adalah ya, mungkin kecemasan itu diam-diam kita rasakan.
Hal yang paling sederhana untuk mengetahui kecemasan itu bisa kita lihat dari kalimat-kalimat yang diam-diam sering kita katakan ketika bersosial media,
“Enak banget sih jadi dia, hidupnya bahagia mulu! Am I the only one getting fool? Others are having so much fun; what’s wrong with me? If I share a post, no one will ‘Like’ it and I’ll look stupid. Oh, why?”
Memang, we are socially anxious people; extremely socially anxious. Tanpa disadari, kecemasan ini menimbulkan berbagai masalah yang mungkin saja kita alami. Menurut Dr. Sonya Heckler dan Danise L. Hughes dalam risetnya yang berjudul Relationship Between Social Media Use and Social Anxiety Among Emerging Adults,
“Aku introver atau ekstrover, ya? Terus, kalau misalnya aku bukan diantara keduanya, gimana?”
Dalam pandangan umum, ekstrover sering dipahami sebagai pribadi yang sociable dan akan mendapatkan banyak energi jika bersama-sama dengan banyak orang. Sebaliknya, introver sering dipahami sebagai pribadi yang senang tenggelam dalam pemikirannya sendiri dan baik-baik saja jika sendirian. Pembahasan yang dasarnya berawal dari teori milik Carl Gustav Jung ini memang menarik untuk ditelisik. Tapi, sebenarnya ada pembahasan yang berkaitan dengan hal ini yang rasanya tidak terlalu ramai dibicarakan, yaitu tentang ambivert: pribadi yang not totally introver tapi juga not totallyekstrover.
Think of introversion and extroversion as a spectrum, with ambiversion lying somewhere in the middle.
Nah tuh, adakah disini teman-teman yang merasa ambivert? Atau justru belum pernah dengar istilahnya? Sini sini saya mau cerita~
Dulu, saya mengira bahwa saya adalah seorang ekstrover karena saya senang sekali jika sedang bersama-sama dengan orang lain, berjejaring, bekerja dalam kelompok, dan bisa mendapatkan energi lewat banyak pertemuan dan obrolan. Tapi, lama-lama, terutama setelah saya beranjak dewasa (cailah hmm~), saya mulai menyadari bahwa saya tidak sepenuhnya demikian, ada waktu-waktu dimana saya menikmati sendirian, asik dengan pemikiran-pemikiran diri, tidak ingin bertemu banyak orang, atau bahkan tidak mau dihubungi via apapun; dan itu sering terjadi. Bukan karena sedang bermasalah, tapi karena memang ternyata itu menenangkan dan membahagiakan untuk dilakukan. Kamu, apakah juga seperti saya?
“It’s like they’re billingual.” begitulah kata Daniel Pink (2013) ketika menggambarkan ambivert dalam bukunya yang berjudul The Surprising Truth About Moving Others. Iya, ambivert itu semacam bisa shifting dari introver ke ekstrover, begitupun sebaliknya. Lebih lanjut, salah satu artikel di Forbes berjudul 9 Signs that You’re an Ambivertmenjelaskan,
“Ambiverts are those who fall somewhere between an introvert and an extrovert, meaning sometimes you are the life of the party and other times you just want to curl up with a book to recharge your batteries.”
Ah yaaa, saya lebih dari sepakat dengan penjelasan-penjelasan itu! Sejauh saya mengenal dan memahami diri sendiri, se-ambivert itulah saya. Lucunya, orang-orang sering mengira saya totally extrovert, mungkin karena mereka seringnya melihat saya diantara banyak orang, padahal itu tidak sepenuhnya benar. Meski setiap harinya saya berinteraksi aktif dengan orang lain baik secara online maupun offline, rasanya akan ada sebuah titik waktu dimana hal itu tidak begitu menyenangkan jika saya lakukan terus-menerus. Ada waktunya saya ingin sendirian sambil menulis, menonton, membaca buku, membuat lettering danbermain-main dengan cat air, menulis, diam saja, atau apapun yang bisa mengembalikan energi saya.
Selepas bertemu banyak orang, apalagi jika jumlahnya puluhan atau berbilang ratus saat mengisi workshop atau seminar, biasanya saya benar-benar ingin punya me-time. Bukan karena super exhaustedakibat merasa energinya terserap banyak orang, tapi lebih ke ingin mencari ketenangan dan atau berdialog dengan diri sendiri. Itulah mengapa biasanya orang-orang yang mengenal saya dengan baik akan bertanya dulu sebelum menghubungi atau bertemu, “Nov, kamu lagi available untuk diskusi dan ditemui engga?” dan jika saya sedang ingin sendirian, biasanya saya akan menjawab, “Tunggu sebentar, ya. Nanti aku berkabar.”
Saat masih sesekali suka “iseng” di Rumah Sakit, saya selalu jujur pada Psikolog senior untuk tidak memberi klien interview atau konseling yang jumlahnya lebih dari 20 orang dalam sehari.
Bukan lelah, tapi terus-menerus berbicara dengan orang yang berbeda-beda sepanjang hari secara bergantian, meski masing-masingnya hanya 30-45 menit, pada akhirnya bisa membuat saya merasa tidak nyaman dan tentunya jadi banyak kerjaan laporan kan kalau kayak gitu haha. Ketika pulang, saya sudah tidak ingin bertemu banyak orang lagi. Meski mungkin tak sama, adakah diantaramu yang merasakan hal-hal serupa?
Menariknya, hasil penelitian tentang fenomena kepribadian manusia yang dilakukan oleh seorang profesor bernama Adam Grant Wharton dari School of the University of Pennsylvania mengatakan bahwa,
dua per tiga manusia di dunia tidak dapat secara spesifik diidentifikasikan sebagai introver atau ekstrover; mereka adalah pribadi-pribadi ambivert, yang memiliki kecenderungan untuk bisa menjadi introver dan bisa juga menjadi ekstrover
What keeps me alive at work among the overwhelmed workload is writing. Writing, in a way more serious than telling a story through caption, sekalian latihan barangkali kalo nanti bisa kuliah lagi ya kan XD