Heal Yourself #11: Introvert, Extrovert, and Something in Between

ceritanovieocktavia:

image

“Aku introver atau ekstrover, ya? Terus, kalau misalnya aku bukan diantara keduanya, gimana?

Dalam pandangan umum, ekstrover sering dipahami sebagai pribadi yang sociable dan akan mendapatkan banyak energi jika bersama-sama dengan banyak orang. Sebaliknya, introver sering dipahami sebagai pribadi yang senang tenggelam dalam pemikirannya sendiri dan baik-baik saja jika sendirian. Pembahasan yang dasarnya berawal dari teori milik Carl Gustav Jung ini memang menarik untuk ditelisik. Tapi, sebenarnya ada pembahasan yang berkaitan dengan hal ini yang rasanya tidak terlalu ramai dibicarakan, yaitu tentang ambivert: pribadi yang not totally introver tapi juga not totallyekstrover.

Think of introversion and extroversion as a spectrum, with ambiversion lying somewhere in the middle.

Nah tuh, adakah disini teman-teman yang merasa ambivert? Atau justru belum pernah dengar istilahnya? Sini sini saya mau cerita~

Dulu, saya mengira bahwa saya adalah seorang ekstrover karena saya senang sekali jika sedang bersama-sama dengan orang lain, berjejaring, bekerja dalam kelompok, dan bisa mendapatkan energi lewat banyak pertemuan dan obrolan. Tapi, lama-lama, terutama setelah saya beranjak dewasa (cailah hmm~), saya mulai menyadari bahwa saya tidak sepenuhnya demikian, ada waktu-waktu dimana saya menikmati sendirian, asik dengan pemikiran-pemikiran diri, tidak ingin bertemu banyak orang, atau bahkan tidak mau dihubungi via apapun; dan itu sering terjadi. Bukan karena sedang bermasalah, tapi karena memang ternyata itu menenangkan dan membahagiakan untuk dilakukan. Kamu, apakah juga seperti saya?

“It’s like they’re billingual.” begitulah kata Daniel Pink (2013) ketika menggambarkan ambivert dalam bukunya yang berjudul The Surprising Truth About Moving Others. Iya, ambivert itu semacam bisa shifting dari introver ke ekstrover, begitupun sebaliknya. Lebih lanjut, salah satu artikel di Forbes berjudul 9 Signs that You’re an Ambivertmenjelaskan,

“Ambiverts are those who fall somewhere between an introvert and an extrovert, meaning sometimes you are the life of the party and other times you just want to curl up with a book to recharge your batteries.

Ah yaaa, saya lebih dari sepakat dengan penjelasan-penjelasan itu! Sejauh saya mengenal dan memahami diri sendiri, se-ambivert itulah saya. Lucunya, orang-orang sering mengira saya totally extrovert, mungkin karena mereka seringnya melihat saya diantara banyak orang, padahal itu tidak sepenuhnya benar. Meski setiap harinya saya berinteraksi aktif dengan orang lain baik secara online maupun offline, rasanya akan ada sebuah titik waktu dimana hal itu tidak begitu menyenangkan jika saya lakukan terus-menerus. Ada waktunya saya ingin sendirian sambil menulis, menonton, membaca buku, membuat lettering dan bermain-main dengan cat air, menulis, diam saja, atau apapun yang bisa mengembalikan energi saya.

Selepas bertemu banyak orang, apalagi jika jumlahnya puluhan atau berbilang ratus saat mengisi workshop atau seminar, biasanya saya benar-benar ingin punya me-time. Bukan karena super exhaustedakibat merasa energinya terserap banyak orang, tapi lebih ke ingin mencari ketenangan dan atau berdialog dengan diri sendiri. Itulah mengapa biasanya orang-orang yang mengenal saya dengan baik akan bertanya dulu sebelum menghubungi atau bertemu, “Nov, kamu lagi available untuk diskusi dan ditemui engga?” dan jika saya sedang ingin sendirian, biasanya saya akan menjawab, “Tunggu sebentar, ya. Nanti aku berkabar.”

Saat masih sesekali suka “iseng” di Rumah Sakit, saya selalu jujur pada Psikolog senior untuk tidak memberi klien interview atau konseling yang jumlahnya lebih dari 20 orang dalam sehari.

Bukan lelah, tapi terus-menerus berbicara dengan orang yang berbeda-beda sepanjang hari secara bergantian, meski masing-masingnya hanya 30-45 menit, pada akhirnya bisa membuat saya merasa tidak nyaman dan tentunya jadi banyak kerjaan laporan kan kalau kayak gitu haha. Ketika pulang, saya sudah tidak ingin bertemu banyak orang lagi. Meski mungkin tak sama, adakah diantaramu yang merasakan hal-hal serupa?

Menariknya, hasil penelitian tentang fenomena kepribadian manusia yang dilakukan oleh seorang profesor bernama Adam Grant Wharton dari School of the University of Pennsylvania mengatakan bahwa,

dua per tiga manusia di dunia tidak dapat secara spesifik diidentifikasikan sebagai introver atau ekstrover; mereka adalah pribadi-pribadi ambivert, yang memiliki kecenderungan untuk bisa menjadi introver dan bisa juga menjadi ekstrover

Bagaimana ciri-ciri ambivert?

Keep reading

Ambivert? i’m in! Wkwk

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai