Suatu kali, pernah saya tanpa sengaja membaca pesan whatsapp budhe saya ke mama. Kebetulan waktu itu handphone mama sedang saya pinjam untuk transfer beberapa foto. Isi pesannya cukup panjang intinya budhe saya curhat tentang hubungannya dengan menantunya yang kurang cocok. Anak budhe laki-laki, baru saja menikah 3 bulan. Alasan-alasan seperti tidak pernah masuk dapur, bangun siang, tidak pernah bantu bersih-bersih, hingga ketidak cocokan sikap dan sifat dengan menantunya diceritakan budhe di pesan itu. “Heran saya, cantik tapi kok kayak gak ada etikanya, gak peka blas” – penggalan kalimat terakhirnya. Saya membacanya tertegun lama, tiba-tiba timbul ketakutan dalam diri saya. Apakah nanti ketika menikah saya akan diterima dengan hangat oleh mertua, seperti nenek saya ke mama, atau justru akan membuat para ibu khawatir anaknya menikahi perempuan seperti saya?
Saya menemui mama dan menunjukan pesan budhe kepadanya. Kalau tidak salah saat itu mama baru selesai sholat ashar. “Aku jadi takut nikah ma” ucapku saat itu. Mama tertawa kecil bertanya kenapa aku takut “kalau ternyata orangtuanya ga suka sama aku gimana ? Kalau ternyata ga cocok, ga sepaham?”
Mama menggenggam tanganku saat itu sambil berkata “kalau mbak sifatnya kayak mantunya budhe, ya pasti orangtua manapun bakalan jengkel sama mbak” aku tertunduk lesu. “Makanya dari dulu mama ngajarin, mau dari keluarga berada atau biasa aja, harus tau unggah-ungguh di rumah. Harus tetep bantu dan aware sama kondisi rumah meskipun udah ada bibik. Harus masuk dapur minimal bantuin ngulek sama ngupas bawang. Sopan sama yang tua tanpa pandang statusnya” aku mengangguk menyadari ajaran-ajaran mama selama ini.
“Laki-laki itu mudah dibuat jatuh cinta, tapi butuh usaha keras untuk meyakinkan orang tuanya, keluarganya, kalau kita pantas”. Lagi-lagi aku tertegun. “ kalau kitanya udah cukup pantas tapi keluarganya masih belum nerima karena alasan lain gimana ma ? Karena background keluarga/ status/ suku gitu” tanyaku beruntun.
“Ingat pesan mama, nanti ketika menentukan pasangan hidup, pastikan keluarganya bisa mencintai kamu sebanyak cinta yang kamu dapat di rumah. Kamu anak mama papa dibesarkan untuk dihargai, ingat ya mbak” . Aku mengangguk mantap, ketakutan perlahan hilang tergantikan dengan perasaan semangat untuk memperbaiki diri.
“Ketika kamu menikah, kamu tidak hanya menikahi suami kamu, namun juga keluarganya. Masa-masa sekarang adalah kesempatan untuk belajar memperbaiki diri sekalian mengenal calon keluarga pasangan kamu, kalau udah ada yaa ” jawab mama sambil tertawa di ujung nasihatnya. Aku menghela nafas panjang sambil mengaminkan dalam hati, segera ya.
“She’s like a second chance for me. I was widowed very young. My husband died in a car crash. Our daughter was only six at the time, and I barely got to see her because I was always working. She was mainly raised by my mother. I remember on the weekends she always wanted to go to the cinema, but I’d suggest other activities because it was our only chance to talk. But things are different with my granddaughter. I have all the time in the world. I can focus on her completely. She lives in another town, but she visits once a week and we spend the whole day together. I look forward to it all week. I prepare her favorite foods, mostly cheeseburgers because she loves cheeseburgers. We go on walks. And we sit in the park. And we paint a lot. And we read books. This morning we played hide-and-seek in the apartment. Her head was always sticking out, but I pretended not to notice.” (Barcelona, Spain)
Tawadhu yang sebenarnya adalah saat dimana kamu mampu merasakan dan menganggap setiap orang yang bertemu denganmu adalah orang yang lebih baik darimu, lebih dahulu masuk surga darimu, dan amalnya lebih banyak darimu. Hingga kamu malu jika harus merendahkannya, hingga kamu malu jika harus membicarakannya dari belakang, dan hingga kamu malu jika harus merasa bahwa kamu adalah orang yang lebih baik darinya, tersebab gelar yang tersemat padamu atau semua pencapaianmu.
Dan jika tawadhu itu ada padamu, seharusnya bisa menjadikanmu lebih bisa menjaga lisan dan hati dari prasangka buruk dan mudahnya merendahkan orang lain. Ampunanmu ya Rabb.
Setelah Ramadan ini, harusnya tawadhu itu ada padamu, padaku, dan pada setiap yang berjumpa dengan Ramadan.
Aku, yang ingin kembali fitri tanpa harus mengulang kesalahan yang sama lagi.
(banyak sekali revisinya, saya bingung mulai dari mana mbaaakk , daan sebenernya lagi pengen santai² di rumah setelah kerjaan 3 bulan terakhir yang bikin sesek napas)
* my heart swings back and forth between the urge to run (produktif nulis) and the need for routine (rehat)