Masing-masing dari kita punya perjalanan yang mungkin akan kita rindukan. Selamat melanjutkan!

P.s. Foto diambil dalam perjalanan menuju Pantai Sepanjang lewat jalan Imogiri. Salah satu jalan dengan pemandangan terbaik di sepanjang perjalanan (pemandangan dari atas bukit). Fotonya kurang mewakili. Allah SWT memberikan kita mata yang bisa mengabadikan pemandangan jauuuh lebih indah dari lensa kamera.

What You Don’t Know Doesn’t Kill You!

novieocktavia:

Pengetahuan kita terbatas untuk bisa mengetahui seluruh yang ingin kita tahu. Beberapa tersembunyi dibalik tanya-tanya kita yang belum terjawab, beberapa yang lain masih dipeluk waktu dan bahkan ada juga yang memang sengaja dirahasiakan-Nya hingga kita tidak dapat mencuri informasi apapun tentang rahasia itu. Dampaknya, kita mencoba untuk bertanya, menerka dan mencari-cari jawaban atas segala sesuatu yang ingin kita tahu. Padahal, kita tak pernah tahu bahwa ternyata ada hal-hal yang memang lebih baik kita tidak mengetahuinya. Misalnya tentang masa depan dan apapun yang menyertainya, segaja dirahasiakan-Nya agar kita bisa selalu berusaha baik, berprasangka baik dan berdoa yang terbaik.

Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah kalimat di media sosial, katanya “What you don’t know doesn’t kill you!”  See? Tidak semua hal menjadi baik untuk kita ketahui sekarang, karena ternyata ada hal lain, yang dengan ketidaktahuan kita menjadikan kita terjaga : terjaga untuk tetap berpikir baik, berprasangka baik, berperilaku baik dan berdoa mengharapkan yang terbaik.

Atas segala hal yang belum atau tidak kita tahu, Allah menjaga kita dengan cara-Nya. Mungkin saja jika kita tahu sekarang maka kita belum siap untuk mendengar dan mengetahuinya. Mungkin saja jika kita tahu sekarang maka kita akan kesulitan untuk bersikap dan mengendalikannya. Mungkin saja jika kita tahu sekarang kita belum mampu untuk melihat sisi baik yang menyertainya. Sekali lagi, tidak semua hal menjadi baik untuk kita ketahui sekarang. Segala hal ada baik dan buruknya. Don’t be tempered, because what you don’t know doesn’t kill you!


What doesn’t kill you
Makes you stronger

Kita punya masalah yang sama ya, sama-sama masih belajar bersyukur dan bersabar.
Masih jauh, tapi terus berproses. Tentang ikhlas juga, kita juga masih “newbie”
Saat Allah belum mengabulkan doa masing-masing dari kita pasti ada alasannya. Bukankah kita sepakat untuk terus yakin? Entah bukan yang terbaik, entah belum sampai waktu terbaik.

Kuy semangat!
ps : sebenarnya sedang butuh bahan bakar (re:semangat, motivasi)

Hai. Semangat! ((:

Anak-anak yang Bersyukur

novieocktavia:

Orangtua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika engkau ingin maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah ia.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Semoga kita senantiasa menjadi anak-anak yang bersyukur, yaitu yang menerima dengan ikhlas dan lapang siapa yang menjadi orangtua kita. Sebab perihal orangtua, kita tidak memilih, tapi dipilihkan oleh-Nya. Bagaimanapun keadaan mereka, mereka adalah sosok-sosok istimewa yang darahnya mengalir di tubuh kita, yang hatinya terpaut dengan kita dan yang telah memilih untuk mendedikasikan hidupnya untuk kita.

Semoga kita senantiasa menjadi anak-anak yang bersyukur, yaitu yang tidak sampai hati untuk membandingkan pola pengasuhan orangtua kita dengan apa yang kita ketahui sekarang melalui ilmu dan buku-buku yang baru saja kita baca. Sebab, bagaimanapun juga, pengasuhan mereka kepada kita adalah pengasuhan yang terbaik yang bisa mereka berikan, yang tentu tidak bisa dibandingkan dengan dangkalnya ilmu dan pemahaman kita.

Semoga kita senantiasa menjadi anak-anak yang bersyukur, yaitu yang mudah menangkap setiap kebaikan kecil yang dilakukan orangtua terhadap kita, lalu mudah memaafkan setiap kesalahan kecil mereka. Sebab, mereka bukanlah orangtua yang tanpa cela, sebagaimana kita yang juga bukan tanpa cela. Meski lahir dan mendewasa di zaman yang berbeda, semoga kita selalu bisa bertukar makna dengan orangtua kita.

Semoga kita senantiasa menjadi anak-anak yang bersyukur dengan sebaik-baik syukur. Sebab, sebagaimana dijelaskan oleh ustadz Oemar Mita dalam salah satu kajiannya, belumlah bisa kita dikatakan bersyukur kepada Allah atas semua nikmat-Nya jika ternyata masih ada tangis sedih orangtua yang menetes karena kita. Allah, mudahkanlah kami agar senantiasa menjadi anak-anak yang bersyukur, yang menjadikan bakti kepada kedua orangtua sebagai jalan menuju syurga.

Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran.

Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah serta ibuku, kasihanilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil.

Tentang Ayah (2)

Sedih kalo liat ayah yang semakin hari semakin terlihat tua. Kalo nyetir nggak ada yang ngegantiin. Anak-anaknya di belakang pada tidur sama ngemil doang 😦

Maaf ya, Yah, anakmu ini susah diajarin nyetir mobil. Udah 5 kali latihan di lapangan tapi masih berkutat di ‘balikin gigi 2 ke 1’. Wkwk. Kata ayah aku masih belom lulus buat nyoba di jalan raya. Mungkin ayah takut juga sih mobilnya kenapa-napa :v

Emang akunya juga susah belajar kalo soal ‘kinestetik’. Dulu belajar naik motor juga lama. Kelas satu SMP belajar, abis itu jatuh dan ‘nyungsep’. Wkwk bagian itu malu-maluin kalo diinget. Akhirnya baru bisa bawa motor pas SMA. Sekarang udah liburan lagi. Cus belajar lagi. Btw, liburan semester lalu udah niat belajar sampe bisa, eh tapi ternyata perkembangannya nggak signifikan 😦


23 Desember 2016
Dalam perjalanan menuju rumah ❤

Tentang Ayah (1)

Sedih kalo liat ayah yang semakin hari semakin terlihat tua. Kini bahu ayah sudah tak sekekar dulu.

Ayah itu sosok pekerja keras. Dulu pas saya masih kecil, ayah punya beberapa ladang sawah yang diolah sendiri. Disela-sela ngantor, ayah ke sawah tiap sore dan tiap libur.

Selain bertani, ayah juga pernah beternak. Segala macam hewan ternak pernah dicoba. Dari peternakan ayam puyuh pas saya SD. Abis itu, ayah pernah pelihara ikan lele, bebek, ayam, kambing, dan sapi. Beternaknya ganti-gantian gitu.

Dulu pernah punya sapi 10 di rumah. Bayangin gimana repotnya ayah ngurusin sendiri. Saking banyaknya kotoran sapi, sampe dibikin biogas di rumah. Jadi di belakang kandang sapinya dibuat bak penampungan sangat besar buat nampung kotoran, terus gasnya disalurin ke kompor lewat pipa. I was so excited that time. Wkwk.

Pernah juga dulu pas punya kambing, kambingnya lahiran, di rumah. Lucu banget anak kambingnya. Muehehe. Tapi sekarang ayah udah nggak punya hewan peliharaan lagi. Sawahnya juga udah lama diurus sama orang. Selain ngantor, ayah menghabiskan waktu dengan ngurus anak-anaknya sambil beberapa hari sekali liat kondisi sawah dan kebun sengon. Duh yah, anakmu ini rindu sekali. Sehat selalu, yah.

kuntawiaji:

Konon kabarnya, banyak orang India yang pintar, tetapi ia tidak bekerja membangun India. Hal yang sama, fenomena brain drain ini, juga mengancam Indonesia. Dengan kondisi dalam negeri yang tidak mendukung dan tawaran di luar negeri yang begitu memikat, masihkah ada alasan untuk membangun Indonesia?

Kemaren abis ngobrol via facebook sama kakak tingkat alumni STIS asli Gunung Kidul yang sekarang kerja di Harvard Ash Center for Democratic Governance and Innovation dan tinggal sama suaminya di Massachussets. Kesimpulannya, ‘research skill does matter’. #tamparanbuatdirisendirinih.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai