Pembebasan Lahan untuk Penghafal Al-Qur’an

unihanii:

Dapatkah Anda bayangkan seorang manusia yang paru-paru kirinya sudah tidak berfungsi, dan paru-paru kanannya hanya tinggal 30 persen saja yang masih berfungsi? Seperti itulah kondisi Ustadz Fadlyl, pendiri Pesantren Rumah Quran yang berpusat di Depok, dan kini punya cabang di beberapa tempat, termasuk Jakarta dan Bogor.

Secara medis, dokter berkata bahwa Ustadz Fadlyl sudah tak mungkin bisa bertahan hidup. Bahkan banyak teman beliau yangs setiap kali bertemu selalu bertanya, “Lho, kok Anda masih hidup?”

Namun ternyata Keajaiban Allah terjadi pada beliau. Selama belasan tahun, Ustadz Fadlyl tetap bisa bertahan hidup, bahkan sanggup mengelola Pesantren Rumah Quran yang memiliki beberapa cabang di sejumlah kota.

Berikut adalah gedung pesantren Rumah Quran di dekat kampur IPB Bogor, yang statusnya masih ngontrak.

Pesantren yang beliau dirikan pun cukup unik. Beda dari yang lain.

“Segmen kami adalah para mahasiswi dan karyawati. Kami sediakan rumah yang sekaligus menjadi tempat tinggal mereka (pengganti rumah kos). Dan rumah tersebut berfungsi sebagai pesantren tempat mereka menghafal Al Quran. Mereka tetap bisa beraktivitas seperti kuliah atau bekerja di luar sana. Setelah itu mereka kembali belajar menghafal Al Quran di luar sana,” ujar Ustadz Fadlyl menjelaskan.

Mungkin kuatnya ibadah, dan keikhlasan beliau dalam berjuang membela Al Quran yang menyebabkan datangnya pertolongan dari Allah, berupa keajaiban yang rasanya tidak bisa diterima oleh akal manusia.

Ustad Fadlyl memulai perjuangannya dalam mendirikan Rumah Quran pada 28 November 2008. Awalnya beliau menyewa sebuah rumah sederhana di lorong gang sempit di daerah Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dengan jumlah awal 4 santri takhosus. Kemudian bertambah menjadi 15 santri takhosus dan beberapa mahasiswi LIPIA Jakarta.

Setelah berjalan hampir 2 tahun, Rumah Quran mewisuda 14 santri yang sudah selesai setoran 30 juz. Waktu itu, wisudanya di masjid Agung At-Tin TMII dengan disaksikan oleh 5000 an jamaah.

Setelah wisuda perdana itu, banyak permintaan dari kampus-kampus sekitar JABODETABEK untuk dibukakan Rumah Quran, termasuk dari mahasiswi IPB.

Setelah Rumah Quran Mahasiswi IPB dimulai pada awal tahun 2011 hingga sekarang, banyak sekali mahasiswi yang berminat untuk bergabung belajar di sana.

Namun, saat ini kondisi gedung Rumah Quran di Bogor sudah tak mampu lagi menampung jumlah santri mahasiswi di sana. Para santri terpaksa berdesak-desakan dalam satu kamar yang sangat sederhana.

Untuk mengatasi kendala tersebut, Ustad Fadlyl memiliki keinginan untuk membangun gedung Rumah Quran yang baru, di atas sebidang tanah, masih di dekat kampus IPB.

Kebetulan, di daerah tersebut ada sebidang tanah kosong yang sedang dijual. Ustad Fadlyl ingin sekali membelinya, agar bisa membangun gedung pesantren milik sendiri di atasnya.

Oleh karena itu, kami mengajak teman-teman sekalian untuk membantu Rumah Quran ini agar memiliki gedung baru. Semoga dengan adanya gedung baru ini, semakin banyak santri yang bisa ditampung dan mendapatkan fasilitas yang lebih memadai untuk dibimbing menjadi penghafal Quran. Aamiin…
.
.
.
Menjaga Al-Qur’an adalah tugas Allah melalui para penghafal Al-Qur’an. Siapapun yang mengemban tugas mulia ini akan menjadi keluarganya Allah.

Dan siapa saja yang menyediakan fasilitas untuk keluarganya Allah dialah para Tentara Allah, dan dia akan mendapatkan pahala kebaikan sebagaimana yang didapatkan oleh para Penghafal Al-Qur’an, karena Nabi Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam mengatakan dalam Hadist Riwayat Muslim, “Maka bagi dia pahala kebaikan orang yang mengerjakan kebajikan tersebut”.

Yuk, kita berlomba-lomba dalam kebaikan 😊
cc : @quranid @quraners @mehmetfath @fauziaazzahra @salmanfariis @fadhlanihsan @urfa-qurrota-ainy @creativemuslim @shofaaka @aisyisik26 @andinafisyah @aisyahadisya @atikahhsh @fitriyatulaini

@faith2rahman @goresankecilku @octaraisa

Pembebasan Lahan untuk Penghafal Al-Qur’an

Tulisan : Perempuan Setelah Menikah

kurniawangunadi:

Barangkali dulu, ketika masih gadis. Di usianya yang telah memasuki kepala dua dan usia pernikahan, salah satu kekhawatirannya adalah tentang pasangan hidup. Entah bentuk khawatir seperti; apakah ada laki-laki yang mau menikahinya? atau apakah ia cukup siap untuk menjadi seorang istri? dan lain sebagainya. Dan kekhawatiran itu pun tumbuh subur seiring usianya yang merangkak naik, seiring banyaknya laki-laki yang datang silih berganti tapi tak satupun menarik hatinya.

Di bayangnya, kehidupan pasca menikah, apalagi menikah dengan laki-laki yang dicintainya adalah kehidupan yang segalanya indah. Padahal tidak demikian. Kata siapa bahwa selepas menikah, kekhawatiran perempuan akan sirna begitu saja? Justru sebaliknya, kekhawatiranya bertambah, semakin banyak. Dan ini menjadi sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terbayangkan sebelumnya.

Khawatir ketika sudah menikah tapi belum juga hamil. Apalagi ketika melihat teman-temannya yang lain memperbarui halaman sosial medianya dengan berita kehamilan atau kelahiran. Lebih khawatir ketika ditanya oleh keluarga. Dan ini menjadi pembelajaran berharga bagi siapapun, bahwa barangkali ungkapan kebahagiaan kita di sosial media bisa menjadi sebab ketidakbersyukuran seseorang yang melihatnya. Juga ini akan menjadi pelajaran berharga bagi semua perempuan yang menikah nantinya dan belum segera dikaruniai anak, ia akan menjadi lebih memahami dan lebih empati kepada perempuan yang lainnya.

Kekhawatiran ketika suami atau anaknya sakit. Apalagi ketika melihat mereka tidak bisa tidur tenang, tidak bisa makan masakan yang dibuatnya dengan susah payah.

Kekhawatiran ketika belum bisa memasak. Meski kita tahu bahwa memasak bukanlah sebuah hal paling penting dari kesiapan menikah seorang perempuan. Tapi bagi perempuan itu sendiri, memasak untuk keluarga, apalagi melihat keluarganya memakan apa yang ia buat dengan susah payah adalah kebahagiaan yang entah bagaimana menjelaskannya. Khawatir ketika suami tidak mau memakan masakannya, khawatir kalau masakannya tidak enak. Meski, sang suami berusaha untuk menganggapnya bukan sesuatu yang penting. Tapi tetap saja itu penting bagi istrinya.

Kekhawatiran tentang bagaimana ia bisa berbaur dan bergaul dengan keluarga suami. Entah tentang bagaimana ia bisa membuka pembicaraan dan mertua. Bagaimana ia bisa menjadi menyenangkan untuk saudara-saudara suami. Dan memang selama ini tidak ada panduan tentang bagaimana membangun hubungan antara istri dan mertuanya. Dan itu selalu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi perempuan yang akan dan baru menikah.

Ada begitu banyak kekhawatiran yang semakin hari semakin bertambah. Dan perempuan yang perasa, membuat kekhawatiran itu kadang tumbuh tak terkendali. Dan tugas laki-laki yang menjadi seorang suaminya nanti sebenarnya sederhana yaitu; jangan menambah kekhawatirannya. Jadilah laki-laki yang baik.

©kurniawangunadi | 10 Februari 2017

Jakarta, sedemikian kuatnya

⁠⁠⁠Jakarta sedemikian kuatnya, sehingga siapa pun yang pernah bersentuhan dengannya tidak akan pernah jadi orang yang sama lagi. Jakarta membuat semua yang ada di dalamnya harus mendefinisikan semua tentang diri mereka sendiri. Mendefinisikan makna rumah, makna keluarga, hubungan, makna waktu. Redefining what matters and what doesn’t.


Tanya Laetitia Baskoro

Akhirnya saya setuju sama kata-kata Mrs. Risjad itu.

Satu bulan terakhir ini, saya -tiga hari dalam sepekan- terjebak dalam pusaran jam pulang kantor orang Jakarta which is sangat macet, membuat saya sadar kalo Jakarta punya beragam makna untuk tiap orang yang menggantungkan hidupnya di sini. Kota yang saya bilang sih kejam -buat orang-orang kecil- sekaligus kota yang serve well -buat 1% penduduk terkaya yang masalahnya tak lagi ‘makan apa esok hari’-.

Saat jam macet-macetnya ini, kadang saya naik ojek online kalau lagi capek sama Jakarta, tapi seringnya sih naik angkot, bersama pekerja kantoran yang pulang kantor dengan masker setia mereka. Ada berbagai warna diantara macetnya jalanan tiap petang dengan backsound suara klakson itu. CEO yang naik mobil isinya cuman satu orang alias dia sendiri, pekerja kantoran yang masih single mengadu nasib buat modal nikah, seorang ibu yang sudah dinanti anaknya di rumah, hingga pengamen jalanan, anak kecil dengan suara merdu dan musiknya yang enak didengar, harmonisasi yang sejenak melupakan penat terjebak di kemacetan seperti ini.

Kalo kata Pak Venom, pegawai bea cukai Cirebon yang duduk di samping saya pas perjalanan kereta Wates – Jatinegara. Kerja di daerah (selain Jakarta) itu lebih enak. Beliau bersyukur sekali pas dipindah dari Jakarta ke Cirebon. Setidaknya beliau bisa lepas dari hiruk pikuk kemacetan Jakarta. Kata beliau, orang kerja di Jakarta itu menghabiskan waktunya di kemacetan kalo ditotal dalam setahun sampe 2 bulan. Bayangin aja seperti 2 bulan berdiri di tengah jalan. Itu kalo dihitung tiap berangkat ke kantor kena macet 2 jam.

Wih dalem ya tulisan saya kali ini. Hahaha. Intinya tetep sih, SYUKUR HARUS NOMER SATU. Karena cukup itu datangnya dari hati, bukan semata materi.

Tempat dan Dirimu

kurniawangunadi:

Tempat yang kamu kunjungi tidak akan menjadikanmu lebih bijaksana kalau kamu hanya datang kemudian pergi, sekedar menikmati. Tempat yang kamu kunjungi pun tidak akan membuatmu menjadi lebih berarti dari orang lain. Sebab di tempat yang sedang kamu kunjungi, banyak sekali orang di sana yang merasa tempat itu biasa saja karena mereka tinggal di sana. Dan kamu hanya pendatang, tanpa memberikan dampak apapun ke masyarakat di sana selain dari uang yang kamu belanjakan.

Kita pernah menemukan, ketika seseorang merasa dirinya berbeda dan lebih hanya karena ia telah mengunjungi lebih banyak tempat dari kita, mendaki lebih banyak gunung dari kita, kemudian mengarungi lebih banyak laut dari kita.

Seolah-olah segala ilmu alam semesta bisa diserap hanya dengan mendatanginya, seolah kebijaksaan hidup pasti menghinggapi orang-orang yang bepergian.

Di sini, di sebuah tempat yang jauh dari keramaian kota. Di ujung sebuah kabupaten kecil yang tidak dikenal. Di tengah hamparan padang persawahan. Banyak sekali orang yang tidak pernah pergi jauh, tidak pernah melihat laut, bahkan mungkin belum pernah naik pesawat. Hanya bisa menyaksikannya melintas di atasnya saat berada di tengah sawah.

Orang-orang yang begitu rendah hati. Orang tua yang begitu paham tentang hakikat hidup. Anak-anak yang paham tentang berbudi pekerti. Mereka tidak pernah pergi lebih jauh dari kita. Tapi mereka paham bagaimana harus bahagia dan menjalani hidup dengan ikhlas.

Sementara kita tengah sibuk mengukur-ukur penjuru dunia. Seluruh tempat ingin kita kunjungi, seolah kebahagiaan hanya bisa diraih bila pergi ke sana. Seolah-olah kita akan menjadi berbeda dan bahagia bila telah ke sana. Dan kita lupa, untuk bersyukur.

©kurniawangunadi | yogyakarta, 14 maret 2017

surut

satriamaulana:

“Time flies over us, but leaves its shadow behind”

Penghitungan waktu jadi bagian yang enggak terpisahkan dari pertandingan sepakbola di layar kaca. Makin dekat dengan injury time, pemain yang berlaga di lapangan makin gesit memaksimalkan peluang. Ekspresi sesal sering tertangkap kamera saat operan-operan ciamik harus berakhir nihil karena sebuah keteledoran. Pemain, pelatih, tim ofisial hingga penonton bergulat dengan rasa tegang sejak enggak ada yang tau dalam kondisi apa pertandingan berakhir. Suka atau duka?

Andai setiap orang tau kapan injury time di hidup mereka, enggak akan ada satu peluang pun yang dibuang percuma. Berbanding terbalik dengan pertandingan di layar kaca, kita yang makin dekat dengan injury time masing-masing belum termotivasi untuk selalu menyegerakan perbuatan baik. Mungkinkah kita masih menjadi bagian dari mereka yang menikmati pengurangan waktu dan terburu-buru mengejar ketertinggalan di akhir?

Sementara hitungan mundur terus berjalan, kita berlalu pada linimasa usia menuju titik surut. Sementara hitungan mundur terus berjalan, kita mengabaikan kelapangan di masa kini untuk mencemaskan masa depan yang belum tentu datang dan meratapi masa lalu yang enggak bisa diraih lagi.

Ada dalih-dalih yang terucap saat kita menunda perbuatan baik semisal, “Santai, masih ada besok” atau “Nantilah, kalau sempet”. Padahal, sepotong hikmah dari Hasan Al-Bashri berbunyi, “Manusia adalah kumpulan hari-hari. Kalau satu hari kamu bepergian hingga mentari tenggelam di ufuk barat, maka sebagian dari dirimu telah pergi. Tinggal menanti dimana pada suatu saat, hari-hari milikmu tinggal sedikit”.

Guru saya pernah bercerita tentang ponakannya yang baru beranjak dewasa dan beberapa kali diajak mengaji. Bujukan, “Ngaji yuk” selalu berbalas “Nanti, kang. Kalau udah punya motor”. Hingga kemudian motor berhasil dimiliki, ajakan yang sama digulirkan kembali. Responnya berubah, “Nanti, kang. Kalau udah beres ngelamar calon. Dua bulan lagi ya”. Sebulan berlalu, selepas lembur dari tempat kerjanya, laki-laki muda itu merasa kepalanya pusing sekali. Beberapa saat sehabis menelan sebutir obat pereda, ia pun tidak sadarkan diri – selamanya. Sayang, ajalnya tak tertunda dengan ucapan “Nanti, kang”.

Kalau inget cerita itu, saya nyesel pernah bersukacita melepas perginya waktu lewat perayaan-perayaan yang enggak penting beberapa taun ke belakang. Seolah momen-momen temporer itu sepadan dengan hilangnya begitu banyak waktu. Bukankah berlalunya hari demi hari jadi pengingat paling sederhana bahwa kita makin dekat dengan injury time? Bukankah sewajarnya kita lebih sering bersedu atas kepergian sebagian dari diri kita yang enggak bisa kembali lagi?

Kita masih terlena dengan keberlimpahan waktu hingga ia terasa tak istimewa lagi. Suatu hari kita akan tersadar bahwa dari apa yang tengah dinikmati saat ini, ada prinsip trade off di dalamnya. Saat muda, kita punya banyak waktu. Namun banyak yang dibuang percuma. Di masa dewasa, kita punya sedikit waktu untuk terlalu banyak urusan. Di masa tua, kita punya keleluasaan tapi sisa waktu enggak banyak lagi.

Imam Syafi’i pernah mendapatkan nasihat dari seorang sufi, “Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia”

Dengan begitu ringannya ungkapan klasik “Time flies, ya” selalu terucap dari lisan kita, ada baiknya kita melongok sejenak ke belakang untuk mencermati jejak-jejak yang kita pijakkan di masa lalu. Jejak apa yang ditinggalkan selepas “pertandingan” kita berakhir nanti? Akankah kita bersukacita atau berdukacita karenanya?

nggak apa-apa

hampir setiap diceritakan masalah eorang teman, aku selalu bilang “nggak apa, namanya juga belajar”. entah kenapa. katanya, orang lain kadang hanya butuh telinga yang mendengarkan, kan? sekadar berbagi cerita. bahkan ada satu orang yang setiap berkeluh kesah justru mengeluh (lagi) jika tak mendapatkan respons “nggak apa-apa. kan masih belajar. besok lagi jangan diulang ya.”

justru aku yang baru tahu bahwa ternyata sesederhana “nggak apa” itu memang melegakan.

nggak apa, go, nggak apa.

(via legosekars)

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai