surut

satriamaulana:

“Time flies over us, but leaves its shadow behind”

Penghitungan waktu jadi bagian yang enggak terpisahkan dari pertandingan sepakbola di layar kaca. Makin dekat dengan injury time, pemain yang berlaga di lapangan makin gesit memaksimalkan peluang. Ekspresi sesal sering tertangkap kamera saat operan-operan ciamik harus berakhir nihil karena sebuah keteledoran. Pemain, pelatih, tim ofisial hingga penonton bergulat dengan rasa tegang sejak enggak ada yang tau dalam kondisi apa pertandingan berakhir. Suka atau duka?

Andai setiap orang tau kapan injury time di hidup mereka, enggak akan ada satu peluang pun yang dibuang percuma. Berbanding terbalik dengan pertandingan di layar kaca, kita yang makin dekat dengan injury time masing-masing belum termotivasi untuk selalu menyegerakan perbuatan baik. Mungkinkah kita masih menjadi bagian dari mereka yang menikmati pengurangan waktu dan terburu-buru mengejar ketertinggalan di akhir?

Sementara hitungan mundur terus berjalan, kita berlalu pada linimasa usia menuju titik surut. Sementara hitungan mundur terus berjalan, kita mengabaikan kelapangan di masa kini untuk mencemaskan masa depan yang belum tentu datang dan meratapi masa lalu yang enggak bisa diraih lagi.

Ada dalih-dalih yang terucap saat kita menunda perbuatan baik semisal, “Santai, masih ada besok” atau “Nantilah, kalau sempet”. Padahal, sepotong hikmah dari Hasan Al-Bashri berbunyi, “Manusia adalah kumpulan hari-hari. Kalau satu hari kamu bepergian hingga mentari tenggelam di ufuk barat, maka sebagian dari dirimu telah pergi. Tinggal menanti dimana pada suatu saat, hari-hari milikmu tinggal sedikit”.

Guru saya pernah bercerita tentang ponakannya yang baru beranjak dewasa dan beberapa kali diajak mengaji. Bujukan, “Ngaji yuk” selalu berbalas “Nanti, kang. Kalau udah punya motor”. Hingga kemudian motor berhasil dimiliki, ajakan yang sama digulirkan kembali. Responnya berubah, “Nanti, kang. Kalau udah beres ngelamar calon. Dua bulan lagi ya”. Sebulan berlalu, selepas lembur dari tempat kerjanya, laki-laki muda itu merasa kepalanya pusing sekali. Beberapa saat sehabis menelan sebutir obat pereda, ia pun tidak sadarkan diri – selamanya. Sayang, ajalnya tak tertunda dengan ucapan “Nanti, kang”.

Kalau inget cerita itu, saya nyesel pernah bersukacita melepas perginya waktu lewat perayaan-perayaan yang enggak penting beberapa taun ke belakang. Seolah momen-momen temporer itu sepadan dengan hilangnya begitu banyak waktu. Bukankah berlalunya hari demi hari jadi pengingat paling sederhana bahwa kita makin dekat dengan injury time? Bukankah sewajarnya kita lebih sering bersedu atas kepergian sebagian dari diri kita yang enggak bisa kembali lagi?

Kita masih terlena dengan keberlimpahan waktu hingga ia terasa tak istimewa lagi. Suatu hari kita akan tersadar bahwa dari apa yang tengah dinikmati saat ini, ada prinsip trade off di dalamnya. Saat muda, kita punya banyak waktu. Namun banyak yang dibuang percuma. Di masa dewasa, kita punya sedikit waktu untuk terlalu banyak urusan. Di masa tua, kita punya keleluasaan tapi sisa waktu enggak banyak lagi.

Imam Syafi’i pernah mendapatkan nasihat dari seorang sufi, “Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia”

Dengan begitu ringannya ungkapan klasik “Time flies, ya” selalu terucap dari lisan kita, ada baiknya kita melongok sejenak ke belakang untuk mencermati jejak-jejak yang kita pijakkan di masa lalu. Jejak apa yang ditinggalkan selepas “pertandingan” kita berakhir nanti? Akankah kita bersukacita atau berdukacita karenanya?

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai