Jakarta sedemikian kuatnya, sehingga siapa pun yang pernah bersentuhan dengannya tidak akan pernah jadi orang yang sama lagi. Jakarta membuat semua yang ada di dalamnya harus mendefinisikan semua tentang diri mereka sendiri. Mendefinisikan makna rumah, makna keluarga, hubungan, makna waktu. Redefining what matters and what doesn’t.
–
Tanya Laetitia Baskoro
Akhirnya saya setuju sama kata-kata Mrs. Risjad itu.
Satu bulan terakhir ini, saya -tiga hari dalam sepekan- terjebak dalam pusaran jam pulang kantor orang Jakarta which is sangat macet, membuat saya sadar kalo Jakarta punya beragam makna untuk tiap orang yang menggantungkan hidupnya di sini. Kota yang saya bilang sih kejam -buat orang-orang kecil- sekaligus kota yang serve well -buat 1% penduduk terkaya yang masalahnya tak lagi ‘makan apa esok hari’-.
Saat jam macet-macetnya ini, kadang saya naik ojek online kalau lagi capek sama Jakarta, tapi seringnya sih naik angkot, bersama pekerja kantoran yang pulang kantor dengan masker setia mereka. Ada berbagai warna diantara macetnya jalanan tiap petang dengan backsound suara klakson itu. CEO yang naik mobil isinya cuman satu orang alias dia sendiri, pekerja kantoran yang masih single mengadu nasib buat modal nikah, seorang ibu yang sudah dinanti anaknya di rumah, hingga pengamen jalanan, anak kecil dengan suara merdu dan musiknya yang enak didengar, harmonisasi yang sejenak melupakan penat terjebak di kemacetan seperti ini.
Kalo kata Pak Venom, pegawai bea cukai Cirebon yang duduk di samping saya pas perjalanan kereta Wates – Jatinegara. Kerja di daerah (selain Jakarta) itu lebih enak. Beliau bersyukur sekali pas dipindah dari Jakarta ke Cirebon. Setidaknya beliau bisa lepas dari hiruk pikuk kemacetan Jakarta. Kata beliau, orang kerja di Jakarta itu menghabiskan waktunya di kemacetan kalo ditotal dalam setahun sampe 2 bulan. Bayangin aja seperti 2 bulan berdiri di tengah jalan. Itu kalo dihitung tiap berangkat ke kantor kena macet 2 jam.
Wih dalem ya tulisan saya kali ini. Hahaha. Intinya tetep sih, SYUKUR HARUS NOMER SATU. Karena cukup itu datangnya dari hati, bukan semata materi.