novieocktavia:

BENAR PRODUKTIF ATAU TERNYATA HANYA MERASA PRODUKTIF?

Sepekan yang lalu, saya merasa banyak hal terkait waktu di keseharian saya sedang berantakan. Indikasinya? Mudah saja, beberapa yang bisa saya ceritakan misalnya saya lebih sering pulang malam dari kantor, kurang punya banyak waktu untuk menulis, snooze alarm beberapa kali di dini hari, makan semua dimasakin Ibu, dan beberapa kali merasa kejar-kejaran dengan deadline pengumpulan tugas harian di jam 23.59 malam. Menyadari semua itu, saya merasa perlu melakukan sesuatu, hingga saya pun menyusun ulang apa saja yang menjadi amanah saya dalam sepekan dan mencoba memanfaatkan waktu-waktu senggang untuk bisa mengerjakan to do list harian.

Allah Maha Tahu kalau semua itu belum cukup mendongkrak saya, hingga atas seizin-Nya dua buah undangan mengisi acara pun saya terima. Tak tanggung-tanggung, temanya adalah tentang produktivitas. Saya jadi curiga, jangan-jangan inilah cara Allah membuat saya belajar dengan cara yang lain, yaitu dengan mendengarkan diri saya sendiri berbicara perihal produktivitas agar saya kembali ingat apa yang perlu saya lakukan. Maa syaa Allah, Tabaarakallahu, kegiatan ini membuat saya semangat lagi! Saya ingin bercerita di dashboard biru dongker ini juga tentang itu semua. Disimak, ya!

Produktif? Apa Sih Artinya?

Berbicara tentang produktif dan produktivitas, kiranya kita perlu berhati-hati nih, jangan-jangan selama ini kita hanya merasa produktif tapi ternyata belum benar-benar produktif karena salah mendefinisikan produktif itu sendiri. Kalau begitu, yuk samakan dulu frekuensi kita tentang arti produktif!

Merujuk
pada KBBI, produktif berarti (1) bersifat atau mampu menghasilkan; (2)
mendatangkan hasil, manfaat, dan keuntungan; (3) mampu menghasilkan terus, dst. Tapi, sederhananya,
bagi saya,

produktif berarti terus bergerak. Bukan berarti gerak-gerak tanpa
arah, tapi gerak-gerak ibadah kepada Allah yang dapat diwujudkan melalui apa
saja
, seperti misalnya belajar, bekerja, berkarya, berbagi, mengabdi, dan juga
kegiatan lain apapun yang ada dalam koridor kebenaran dan kebaikan.

Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa, instead
of productive, be afraid that you may be just busy
. Ya, sibuk sama sekali
berbeda dengan produktif meski mungkin terlihat sama.
Sibuk adalah
kegiatannya banyak, pekerjaannya banyak, deadlinenya menumpuk, janji temunya
berjejer, dan seterusnya, tapi semua hanya dilakukan untuk dunianya saja tanpa
ada kontribusi sedikitpun untuk kehidupan akhirat karena tidak diniatkan untuk
beribadah kepada Allah. Sebaliknya, produktif adalah mengerjakan segala
sesuatunya untuk Allah, berharap segala sesuatu itu akan menjadi penolong kelak
di akhirat.
(Pelajari lebih lanjut tentang ini dengan menonton sebuah video di Youtube dengan judul Run to be Eternal pada link berikut ini)

Kalau Muslim(ah) yang Produktif, Itu Kayak Gimana?

Menurut sebuah
artikel yang ditulis oleh muslimdaily.com, muslim(ah) produktif adalah ia yang
menggunakan seluruh sumber daya yang ia miliki dan yang ada di sekitarnya untuk
berjuang dan bekerja sekuat tenaga agar dapat mencapai posisi yang tinggi kelak
di surga. Maka, dari penjelasan tersebut kita dapat mengambil makna bahwa
muslim(ah) produktif adalah ia yang hidupnya senantiasa berisi kebaikan dan
ibadah-ibadah kepada-Nya yang diwujudkan melalui apa saja sebab misinya adalah
tentang bagaimana menjadikan dunia ini sebagai ladang amal
yang akan dipanen di
akhirat. 

Memangnya, apa sih yang membuat kita perlu menjadi seorang muslim(ah) yang produktif? 

Pertama, sebagai anak
muda, kita semua memiliki energi untuk bergerak yang sangat besar, sayang
sekali jika energi tersebut digunakan untuk lebih banyak diam, galau, dan
mengurusi hal-hal yang tidak penting seperti cinta dan perasaan yang tidak
karuan. Sebaliknya, energi yang besar itu sangat lebih dari cukup untuk membuat
kita produktif bergerak dalam mengupayakan kebermanfaatan.

Kedua, we
are not only live once
. Kita tidak hidup sekali, sebab di akhirat nanti kita
akan dihidupkan kembali untuk menghadap Allah dan mempertanggungjawabkan setiap
yang kita lakukan di dunia. Jika kita mengisi hidup dengan lebih banyak
membuang-buang waktu, galau, dan tidak menjadi hamba yang produktif dalam
kebermanfaatan, bagaimana kita kelak akan mempertanggungjawabkan semuanya? Oleh karena itu,cseorang muslim(ah) yang menggenggam iman di dalam hatinya akan memahami bahwa dalam setiap gerak-geriknya di dunia ada Allah yang selalu mengawasi, maka ia akan paham bahwa setiap detik akan dipertanggungjawabkan.

Bagaimana Caranya Supaya Bisa Jadi Produktif?

Pertama, milikilah niat yang lurus
dan wujudkanlah dengan serius
.

Mengapa harus berniat lurus? Sebab niat ini
adalah penentu, yang saking pentingnya sampai Allah ingatkan kita dalam
Al-Qur’an surat Al-Furqan ayar 23,

“Dan Kami tampakkan apa yang dahulu telah
mereka kerjakan lalu Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.”

Nah lho?!
Ternyata ada lho amalan-amalan yang kelak akan berakhir menjadi bagaikan debu yang
beterbangan, yaitu sia-sia dan tidak mendapat pahala karena tidak dilakukan
dengan ikhlas karena Allah
.

Kedua, ambilah kesempatan dan proaktif dalam berbuat baik. Tidak perlu menunggu
ajakan teman, tapi jadilah yang mengajak. Tidak perlu menunggu kolaborasi, tapi
ciptakanlah kolaborasi. Tidak perlu menunggu disuruh, tapi lakukanlah dengan
inisiatif yang tinggi. Terus kalau sendirian kan engga ada teman, gimana, dong? Mulai dulu saja setulus hatimu, sebab menjadi
produktif secara tidak langsung berarti bahwa kita memancarkan radar
produktivitas yang menarik orang-orang dalam frekuensi yang sama, sehingga entah
bagaimana akan Allah pertemukan
dengan orang-orang yang bahagia melakukan
kebaikan dalam hidupnya

Ketiga, belajar, belajar, dan terus belajar. Jangan salah, belajar ini dapat dilakukan melalui apa saja, tidak harus selalu di dalam kotak-kotak
persegi empat ruang kelas atau berlembar-lembar buku, sebab semua hal berpotensi
menjadi pembelajaran bagi kita.

Keempat, fokus
dan sungguh-sungguhlah dalam melakukan kebaikan
dan jangan biarkan ada banyak ruang yang tersisa untuk mengurusi hal-hal recehan. Ini tentu tidak mudah, karena ternyata ada banyak sekali hal kecil di sekitar kita yang berpotensi menjadi distraksi, terutama yang menggoyangkan fokus kita dari fokus menjalankan tugas ibadah kepada Allah. Contoh paling umumnya adalah godaan lawan jenis! Nah lho?!

Kelima, sadari
potensi diri dan pikirkanlah kebaikan apa saja yang bisa dilakukan dengan
potensi itu.
Mengapa? Karena potensi diri ini bagaimana pun adalah titipan dari Allah, yang kelak pasti akan menuntut pertanggungjawaban. Lalu, bagaimana kelak kita akan menjawab tanya Allah tentang untuk apakah potensi diri ini digunakan?

Tips dan Tools Productivity

Untuk
menghadirkan atmosfer positif dan produktif, sebagai anak muda milenials kita bisa juga menggunakan tools
productivity
yang dapat kita download di smartphone, seperti misalnya Trello untuk to do list pekerjaan/tugas harian atau Yawme untuk checklist amalan harian. Atau, kalau lebih nyaman menggunakan tulisan tangan, common-place book adalah solusi yang juga bisa digunakan.

Okay, clear, ya? 

Selamat mengakhiri akhir pekan! Besok Senin, semoga kita dimudahkan-Nya untuk bertransformasi menjadi seseorang yang dalam setiap gerak di kesehariannya, baik itu belajar,
bekerja, berkarya, berbagi, mengabdi, dan juga kegiatan lain apapun, selalu
menjadikan Allah sebagai alasan utamanya :”)

_____

Picture Source: Pexels

well said mba’. Jazakillah 😍

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai