Perlu saya akui, kerap muncul perasaan inferior ketika berada di tengah kumpulan orang-orang dari etnis tertentu atau juga ras tertentu, yang terkenal dengan stereotip tajir tujuh turunan, konglomerat, borju, eksklusif, dan pinter. Ya tentu itu semua cuma stereotip yang bisa jadi salah. Tapi perasaan bahwa diri ini ‘kalah’ dari mereka di berbagai sisi, terutama ekonomi dan pendidikan, sering sulit untuk dihindari.
Kadang bentuk-bentuk sederhana seperti gaya berpakaian, merk tas, sudah bisa dipersepsikan sebagai bentuk intimidasi terhadap status sosial.
Sebenarnya ini sifat alami manusia. Senang membandingkan, senang menghubung-hubungkan. Ya kan?
Tapi beruntunglah sebagai Muslim, saya diajarkan agar tidak merasa lemah di hadapan manusia.
Turunnya agama Islam sendiri adalah simbol kesejajaran manusia di hadapan Allah Swt. Misalnya saja, hadirnya Islam berhasil secara bertahap menghilangkan perbudakan pada saat itu, juga menghilangkan kesewenang-wenangan pada kaum perempuan.
Misalnya bagaimana Bilal bin Rabah, seorang budak dari golongan ras tertentu yang kerap didiskriminasi, menjadi sama derajatnya dengan manusia-manusia lain, bahkan menjadi jauh lebih mulia manakala hatinya telah disinari cahaya keimanan pada Allah dan Rasulullah. Juga bayi-bayi perempuan yang tadinya dikubur hidup-hidup, jadi dimuliakan dalam Islam.
Berjalan lebih jauh, kita juga tahu kisah perjuangan seorang muslim bernama Malcolm X untuk membumikan kesejajaran kulit hitam dengan kulit putih.
Sebab, dalam Islam, ketundukan mutlak hanyalah kepada Allah Swt, lalu kepada Rasul-Nya, lalu pada kitab-Nya. Di hadapan Allah Swt kita wajib merasa lemah. Tapi, di hadapan manusia, jangan sekali-kali merasa lemah, rendah diri, atau tersisih.
Amat masyhur hadits ini di telinga kita,
“Allah tidak memandang rupa dan hartamu, tetapi memandang hati dan amalmu.”
(Diriwayatkan Muslim)
Juga ayat yang menggetarkan ini,
“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman.”
-Surat Ali ‘Imran, Ayat 139
Di Barat, kita mengenal berbagai deklarasi HAM yang asasnya juga adalah kesejajaran manusia. Namun, bagi saya, kesejajaran dalam Islam berbeda.
Kesejajaran, kesetaraan, atau apapun itu namanya, yang saya pahami dalam ajaran saya, adalah bentuk penghargaan Allah kepada ummat manusia. Allah yang menghidupkan kita menjadi manusia yang berbeda-beda. Meski demikian, semuanya diberi kesempatan yang sejajar untuk menjadi sebaik-baik hamba.
Lalu Allah meminta kita agar taat dan bertakwa pada-Nya, yang jika itu kita penuhi, maka latar belakang kita yang berbeda-beda itu tidak jadi masalah.
Dia ingin kita berkompetisi, berlomba, tapi bukan dengan dasar apa gender kita, ras kita, etnis kita, atau bangsa apa kita, tapi hanya dalam soal ketaatan dan amal kita. Berlomba-lomba dalam kebaikan.
Ras mana pun kita, etnis mana pun kita, baik laki-laki maupun perempuan, kita sudah sejajar. Semua diberi kesempatan yang sejajar untuk beribadah, untuk menjadi mulia, untuk disayangi Allah. Ukurannya bukan cuma dunia: gaji, kerja, dsb, tapi ukuran akhirat. Dan sejajar tidak melulu berarti sama.
Misalnya, konsep istri yang lebih baik ‘hanya’ di rumah, suami yang bekerja, mungkin tampak tidak adil. Tapi kalau kita melihat dengan kacamata Islam, keduanya tetap sejajar dan punya kesempatan yang sama untuk menjadi mulia. Istri dengan kesepenuhan hatinya, kesabarannya, kasih sayangnya, ketaatannya pada suami, bisa menciptakan surga baginya. Begitu pun suami bisa menciptakan surga untuknya melalui jalan ‘jihad’ mencari nafkah. Tentu konteks di sini bukan sedang berbicara apakah para istri boleh bekerja di luar rumah. Ini hanya contoh.
Intiya, kita tidak bisa melepaskan posisi kita sebagai manusia, dengan posisi Allah sebagai Tuhan kita.
Hal tersebut berbeda dengan HAM ala Barat yang mengagungkan kesejajaran berdasarkan kebebasan individu. Tuhan tidak dilibatkan di dalamnya sehingga tujuan hidup seolah menjadi kabur. Kesejajaran itu ada untuk menjamin kesejahteraan manusia, lalu apa? Hak asasi itu diupayakan untuk menjamin hak-hak dasar dan kemerdekaan manusia, lalu apa? Tak jarang HAM akhirnya hanya dijadikan tameng untuk berlindung dari larangan-larangan Allah.
Seringkali kita lebih mengutamakan hak asasi kita sebagai manusia, tapi melupakan hak asasi Allah sebagai Pencipta kita.
Kembali lagi…
Suami saya, untung bagi saya, adalah orang yang pantang merasa lemah di depan manusia, Presiden sekali pun. Dari dia, saya pun mendapat banyak penguatan untuk menyejajarkan diri di hadapan semua manusia. Meski kita berbeda secara ras, etnis, suku, bangsa, atau budaya.
Ia kerap berkata begini, “Dari luar, semua orang terlihat lebih dari kita. Tapi coba kalau kita lihat dari dekat, mereka manusia yang sama kok dengan kita. Jadi ngga perlu merasa rendah.”
Ibu saya pun senantiasa mengingatkan agar percaya diri di depan manusia. Definisi percaya diri di sini adalah tetap berpendirian sebagai diri sendiri, tidak meninggikan diri sendiri, tidak pula merendahkan diri sendiri, tak peduli orang seperti apa yang kita hadapi.
Dalam contoh sederhananya, kalau makan di restoran bintang 5, dikelilingi orang-orang kaya, konglomerat, tidak perlu merasa rendah di hadapan mereka, tak perlu juga merasa tinggi pada mereka yang makan di kaki lima. Pun sebaliknya, saat makan di kaki lima, dikelilingi para petani dan supir becak, tidak perlu merasa lebih tinggi dari mereka, tidak perlu juga merasa rendah dari orang yang makan di restoran bintang 5. Ya biasa saja. Sama saja.
Dan alasannya sangat sederhana: karena Allah tidak memandang rupa atau harta atau jabatan kita, apalagi melihat jumlah followers Tumblr atau foto-foto hits Instagram kita, tetapi memandang keimanan dan amalan kita. Itu saja cukup untuk kita tidak merasa lemah, inferior (maupun superior) di hadapan siapapun.
Infografis dalam bahasa Inggris dikenal dengan infographic. Menurut Oxford Dictionary, infographic (n): A visual representation of information or data, e.g. as a chart or diagram. Kehadiran infografis memang lebih menarik perhatian pembaca, apalagi bila melihat data berupa angka-angka. Inilah yang dimanfaatkan BPS dalam menyajikan data kepada masyarakat. Kini BPS merilis publikasi
Statistik Indonesia dalam Infografis 2017. Publikasi ini menyajikan visualisasi data yang dikemas
guna memudahkan pengguna data memahami data. Apa aja sih yang ada di sana, yuk intip publikasinya di sini !
Pagi ini, Umi liqo saya membagikan ini :
Artikel yang cocok dibaca pas liburan dan buat Sahabat-sahabat yang hobi traveling
😊
✳TRAVELING, SALAH SATU PERINTAH ALLAH ✳
Dalam Islam, rihlah atau traveling adalah bagian penting dari proses pembelajaran. Bahkan, perintah untuk melakukannya secara tegas tercantum dalam Al-Qur’an.
Di masa awal penyebaran Islam, bepergian adalah salah satu anasir yang menyebabkan Islam tersebar luas. Makam Saad bin Abi Waqqas yang terdapat di Cina adalah salah satu contoh giatnya para sahabat berpergian untuk menyebarkan Islam.
Pada masa-masa selanjutnya, kegiatan bepergian juga menjadi kunci majunya ilmu pengetahuan Islam. Lihatlah bagaimana proses pembuatan kitab “Sahih Bukhari”, Imam Bukhari kerap melakukan perjalanan yang sangat jauh ‘hanya’ untuk memverifikasi satu hadist pendek. Padahal kitab tersebut memuat ribuan hadits. Tak terbayangkan berapa orang yang ia jumpai dan berapa jauh perjalanan yang ia lakukan. Sampai-sampai Imam Khatib Al Baghdadi, seorang ulama salafusshalih, menyusun kitab yang khusus membahas ‘perjalanan’ hadits-hadits tersebut, yaitu
Al Rihlah Fii Thalabil Hadits (Perjalanan Mencari Hadits).
Bahkan, jauh sebelum Saad bin Abi Waqqas pergi ke Cina, dan Imam Bukhari keliling dunia memverifikasi hadits, Rasulullah saw juga telah melakukan berbagai perjalanan jauh untuk berdagang. Kisah-kisah ini adalah bukti bahwa seorang Muslim sudah seharusnya memiliki wawasan global.
PERINTAH ALLAH
Sebuah pertanyaan muncul setelah kita membaca kisah-kisah di atas, apa sebenarnya yang membuat Rasul, para sahabat, dan para tabi’in begitu gemar melakukan perjalanan? Jawabnya sederhana, karena itu adalah perintah Allah.
“Ada banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menginspirasi para pendahulu kita melakukan perjalanan jauh, contohnya ayat 15 surat Al-Mulk,” ujar Ustadz
Ahmad Sahal Hasan, Lc.
“ Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”
Jelas sekali, Allah memerintahkan umat Islam untuk menjelajahi Bumi.
Ayat di atas adalah salah satu ayat yang menjadi acuan keutamaan bepergian secara umum. Dalam hal yang lebih khusus, dapat kita jumpai di surat Al-Jumu’ah ayat 10 yang berbunyi,
“ Setelah didirikan shalat (Jum’at) maka bertebaranlah kamu di muka Bumi dan carilah sebagian dari karunia Allah. Dan berbanyaklah berzikir kepada Allah agar kamu beruntung.”
Menurut Sahal, ayat ini adalah petunjuk bahwa Allah mendorong kita untuk berusaha semaksimal mungkin dalam bekerja. “Allah tidak membatasi kita dalam mencari penghasilan. Silakan melakukan perjalanan sejauh mungkin untuk mencari penghidupan, berbisnis.”
RAIH KEUTAMAAN
Tiadalah Allah memerintahkan sesuatu bila tanpa keutamaan di dalamnya, termasuk dalam perintah melakukan perjalanan.
Apa saja keutamaan bepergian? “Ada banyak keutamaan,” kata Sahal, “di antaranya, bertambah ilmu dan wawasan, menambah silaturahim, menambah rezeki, dan banyak lagi. Selain itu jika dilakukan secara kolektif, bepergian bersama akan mempererat ikatan ukhuwah,” paparnya.
Bahkan berdasarkan beberapa hadits Nabi saw, dari tujuh golongan manusia yang doa mereka mustajab di sisi Allah, di antaranya adalah doa seorang musafir sampai ia kembali dari perjalanannya. Namun, keutamaan-keutamaan itu tidak akan kita raih bila kita tidak berpegang pada adab-adab bepergian yang diajarkan Islam.
Sahal mengungkapkan lima adab bepergian dalam Islam, yaitu niat, tidak melakukan maksiat, doa dan sabar, membuat wasiat, serta membayar utang. Niat karena mencari ridha dan karunia Allah adalah landasan pertama dan utama dalam aktivitas seorang Muslim.
Menurutnya, motivasi untuk berdakwah adalah motivasi paling utama dalam melakukan perjalanan. Setelah itu, motivasi untuk menuntut ilmu. “Menuntut ilmu ini bukan hanya dalam bentuk kuliah ke luar negeri, tapi dalam semua bentuk yang mungkin, seperti ikut seminar, menulis buku, dan sebagainya,” papar pengajar di STIU Al Hikmah, Jakarta ini.
Doa dan sabar pun diperlukan, karena saat bepergian itu kita berada di lingkungan asing. Yang menarik, dan mungkin tidak begitu sering kita lakukan bila ingin bepergian dalam jarak yang jauh adalah membuat wasiat dan melunasi utang. “Membuat wasiat ini penting karena tidak ada yang menjamin bahwa kita bisa kembali pulang,” jelas Sahal. Sedangkan melunasi utang, imbuhnya, agar bila terjadi apa-apa kita tidak mempunyai tanggung jawab—terkait utang—yang harus kita tanggung di hadapan Allah.
Hal yang juga harus diperhatikan dalam bepergian jauh adalah bila kita belum menunaikan ibadah haji. Tidak ada niat bepergian jauh yang lebih baik daripada niat untuk menunaikan haji. Dalam hadits disebutkan, tidak ada kebaikan pada bepergian jauh, dalam konteks ibadah, selain pergi ke tiga tempat, yaitu ke baitullah Makkah, ke Kota Madinah, dan ke Masjid Al Aqsha.
Namun, ke mana pun kita pergi, niat untuk melakukan perjalanan sebagai sebuah ibadah tentu harus terus kita sertakan. Dengan begitu, saat mengelilingi bumi Allah ini kita selalu mawas, betapa Mahabesarnya Allah, dan betapa kecilnya kita.
IBNU BATUTAH, BACKPACKER SEJATI
Bernama lengkap Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim at-Tanji, Ibnu Batutah lahir di Tanger, Maroko pada 1304 M. Ibnu Batutah muda memulai perjalanannya melalui jalur darat dan laut dari Makkah menuju negara-negara sekitar, menempuh jarak 120.000 kilometer dan menyinggahi 44 negara, selama kurang lebih 30 tahun.
Menurut George Sarton, sejarawan Barat, Ibnu Batutah adalah pelopor penjelajah terbesar di dunia pada abad 14 yang telah melakukan perjalanan sejauh 75.000 mil melalui daratan dan lautan, melebih jarak yang ditempuh Marcopolo.
“Aku ingin tumbuh di musim hujan. Meski harus terguyur dan menggigil kedinginan, aku akan tetap memilih untuk melebur bersama jutaan rintikan. Aku ingin belajar tentang ketenangan dari gemericiknya, belajar menghalau ketakutan dari kilat dan petirnya, juga belajar membahagikan orang lain dari pelangi yang datang setelahnya. Selanjutnya, aku ingin tumbuh di setiap musim, pada setiap suasana hati, dalam berbagai situasi.“
Sepenggal tulisan dalam naskah kolaborasi.
_____
Picture: Pinterest
apakah doa kita di langit juga seriuh ombak di laut?
we may not a perfect family but you are my favorite life harmony
Karena kita mulai membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain.
Kita membandingkan apa yang mereka punya, sementara kita tidak. Kita iri dengan jalan mereka yang lurus, sedang jalan kita berputar-putar. Kita menginginkan perjuangan mereka yang mudah, sedang perjuangan kita begitu sulit.
Membandingkan adalah aktivitas tanpa akhir.
Ramadhan dua tahun lalu, saya buka puasa bareng sahabat lama saya, @anjasbiki. Anjas teman saya sejak di pesantren, dan lanjut kuliah bareng di universitas dan fakultas yang sama.
Waktu itu masing-masing kita sudah bekerja dan punya penghasilan, dan kami makan di warteg langganan di depan kosan. Saya pesan makanan langganan sejak kuliah: nasi + usus + telur dadar. Ceritanya mau nostalgia.
Dulu rasanya makan dengan menu itu rasanya super enak. Super mewah, pokoknya setiap pulang kuliah dan kelaparan, makan dengan menu itu rasanya luar biasa.
Saya duduk bareng Anjas dan mulai makan. Lalu satu dua suap pertama, kok saya merasakan hal yang aneh. Saya kunyah lagi, dan otomatis saya menoleh ke Anjas.
Ternyata rasa nasi wartegnya ga seenak yang saya kira.
Saya dan Anjas langsung tertawa, karena kita langsung paham alasannya kenapa. Selama kuliah, nasi warteg ini jadi makanan termewah yang biasa kita konsumsi setiap hari, saat itu. Setelah punya referensi dan kemampuan membeli makanan yang lebih baik, makan di warteg ini rasanya jadi hambar.
Ternyata karena membandingkan, nasi yang dulu saya anggap paling enak, sekarang jadi kurang sedap.
Lalu obrolan kami berlanjut jadi lebih filosofis.
“Itulah kenapa, kaya itu bukan soal uangnya”, kata Anjas sambil menyeruput es teh manis. “Tapi soal seberapa bisa kita berterima kasih dengan apa yang ada”.
Semakin punya uang, saya semakin bisa merasakan bahwa kaya memang hanya soal pikiran. Karena jika rasa kaya diukur dari apa yang bisa kita punya, rasanya tidak akan ada habisnya.
Waktu dulu belum punya handphone apapun, punya nokia saja rasanya sudah bahagia. Sekarang punya smartphone Asus Zenfone, inginnya punya iPhone.
Dulu waktu belum punya kamera, bisa megang Canon pocket aja senangnya luar biasa. Sekarang punya kamera Prosumer, pengen juga punya GoPro dan Mirrorless.
Dulu waktu kemana-mana masih naik kendaraan umum, punya motor aja sudah gaya. Sekarang punya motor, kepengen punya mobil. Nanti punya mobil, pengen punya helikopter. Punya helikopter, pengen punya jet pribadi. Dan begitu seterusnya sampai mati.
Peace comes from within, don’t seek it without.
Kebahagiaan harus selalu dicari ke dalam, bukan ke luar. Terbang ke atas tidak akan pernah membuat kita sampai, karena langit tak pernah punya ujung untuk digapai.
Tapi berenang ke dalam, akan selalu membahagiakan.
Karena saat hati kita berhasil menyentuh dasarnya, kita akan tahu: kita sudah punya semuanya.
What’s the point in worrying about the future? Who says there will even be a future? What happens if you die tomorrow and all you ever did was sit in math classes and play the clarinet and moan about your family? What good is the future to you then?