edgarhamas:

Mengapa Al Quds Sangat Penting Bagi Umat Islam? #1

Apa kira-kira yang terlintas di benak sahabat semuanya ketika mendengar kata “Al Quds”? Tentu banyak sekali jawaban tentangnya, sebab kita telah terbiasa membelanya walaupun belum pernah menapaki keindahannya. Moga Allah karuniakan kesempatan itu suatu hari nanti.

Namun diantara banyak jawaban itu, kita meyakini satu jawaban terbanyak yang ada di setiap benak muslim. Al Quds; adalah kiblat pertama umat Islam sebelum berpindah ke Ka’bah di Makkah. Tahukah kamu bahwa umat Islam shalat menghadap ke Al Quds -Masjid Al Aqsha lebih tepatnya- sejak 3 tahun sebelum hijrah ke Madinah, sampai 16 bulan pertama setelah momentum hijrah yang fenomenal. Hingga akhirnya turun perintah untuk shalat menuju Ka’bah (QS Al Baqarah 150)

Apa buktinya umat Islam pernah shalat menghadap ke Al Aqsha?

Jika sahabat suatu saat berkesempatan ke kota Madinah Al Munawwarah, sahabat akan menziarahi Masjid Al Qiblatain, “Masjid Dua Kiblat” yang jadi bukti nyata bahwa umat Islam di masjid itu pernah shalat menghadap Al Aqsha, seketika seseorang datang menyerukan pada mereka bahwa kiblat telah berpindah ke Ka’bah, sejurus kemudian tanpa banyak tanya, jama’ah shalat itu langsung berbalik 180° menuju Ka’bah. Sungguh ketaatan nan luarbiasa.

Nah, apakah pahala umat Islam saat itu hilang karena selama beberapa belas bulan shalat menghadap Al Aqsha? Tidak. Bahkan Allah berfirman, “Dan Allah tidak menghendaki untuk menghilangkan iman kalian.”

Sekarang, kiblat shalat kita telah berpindah menuju Ka’bah atas perintah Allah. Lalu, apakah kemudian umat agung ini akan meninggalkan Al Aqsha? Izinkan kalimat Syaikh Ali Muqbil menutup paragraf ini,

“Al Aqsha memanglah bukan lagi kiblat shalat Umat Muslimin, namun kini ia tetap menjadi kiblat jihad pertama dan utama muslim sedunia.”

Referensi :

1. Al Quds Qadhiyyatu Kulli Muslim

2. Filisthîn; Tarikh Mushawwar, DR Tariq Suwaidan

3. Al Bu’du Al Islâmiyyu lil Qadhiyah Al Filistîniyah, DR Ishaq Ahmad Farhan

Share jika bermanfaat 😀

(Admin : @edgarhamas)

Kalau Saja Tahu

dannydzulfikri:

Kalau saja tahu kapan akan diberi, kita pasti akan mau jika hanya diminta untuk menunggu.
Kalau saja tahu seberapa besar sabar akan dibayar, kita pasti akan menerima apa saja yang diberi sekarang.

Tapi sayang kita lupa, kalau bukan seperti itu cara-Nya bekerja. Kita justru tergesa-gesa saat Dia perintahkan untuk bersabar.

Tapi memang begitulah adanya kita, setidaknya untuk saat ini saja.
Jangan seterusnya, jangan sampai selamanya.

– Danny Dzul Fikri

quraners:

Cinta laki-laki itu sederhana. Lihatlah pada upaya yang dilakukannya.

Seperti halnya ketika ia mencintaimu, maka ia akan selalu mengupayakanmu. Dengan menjagamu lewat doa-doanya. Dengan mencukupimu lewat kerja kerasnya. Dengan merawatmu lewat upayanya.

Seperti ayah yang mencintai putrinya. Bekerja keras demi kecukupan putrinya. Belajar keras demi pemahaman yang baik untuk putri tercintanya. Tegar demi kebahagiaan putrinya. Kuat demi terlihat baik-baik saja. Sesederhana itu cinta ayah, dan sebesar itu upayanya.

Pada bagian ini kita akan memahami, bahwasannya kesungguhan seseorang. Lihatlah pada upaya ia memperjuangkan dan menjaganya..

– Ibn Syams

Inilah Peristiwa Penting yang Pernah Terjadi di Palestina (2)

edgarhamas:

Pembebasan
Baitul Maqdis Punya Banyak kesamaan dengan Fathu Makkah

Ketika Umar bin
Khattab membebaskan Baitul Maqdis di Palestina, beliau merasakan seperti sedang
membuka gerbang Makkah Al-Mukarramah. Pada tahun 637, setelah pengepungan yang
lama terhadap Yerusalem, pasukan Islam akhirnya mengambil alih kota tersebut.
Umar ra diberikan kunci untuk memasuki kota oleh pendeta Sophronius dan
diundang untuk salat di dalam gereja (Church of the Holy Sepulchre). Umar ra
memilih untuk salat ditempat lain agar tidak membahayakan gereja tersebut. 55
tahun kemudian, Masjid Umar didirikan ditempat ia shalat.

Ketika kaum
Muslimin mengadakan pengepungan terhadap kota Baitul Maqdis selama 4 bulan,
penduduk kota itu rela untuk mengadakan perdamaian dengan kaum Muslimin dan
mereka bersedia mengadakan perdamaian dengan kaum Muslimin dan mereka bersedia
menyerahkan kota suci itu dengan syarat kaum Muslimin harus mendatangkan
Khalifah Umar bin Al-Khatab ra untuk menerima kota suci itu. Penguasa Nasrani
kota itu adalah bernama pnedeta Sophronius.

Beliau mau
menyerahkan kota suci itu dengan syarat Umar ra sendiri yang harus hadir untuk
menerima penyerahannya. Untuk memenuhi kehendak rakyat Baitul Maqdis itu
panglima yang ketika itu Abu Ubaidah Ibnul Jarrah menulis surat kepada Umar ra
dan meminta kehadirannya untuk menerima penyerahan kota tersebut.

Permintaan itu
diterima oleh khalifah Umar al-Khattab ra dengan senang hati. Kemudian beliau
dengan ditemani seorang budaknya datang dengan mengendarai seekor unta
bergantian dengan budaknya. Kehadirannya secara sederhana itu membuat takjub
hati rakyat Baitul Maqdis. Beliau memasuki kota itu dengan penuh tawadhu kepada
Allah yang telah membukakan kota suci itu kepada kaum Muslimin dengan secara
damai. Beliau masuk kota suci itu dengan didampingi oleh pendeta Sophronius.

Berdasarkan perjanjian Aelia itulah Khalifah Umar ra menjamin keamanan
nyawa dan harta benda segenap penduduk Yerusalem, juga keselamatan gereja, dan
tempat-tempat suci lainnya. Penduduk Yerusalem juga diwajibkan membayar jizyah
bagi yang non-Muslim. Barang siapa yang tidak setuju, dipersilakan meninggalkan
kota dengan membawa harta-benda mereka dengan damai.

Dalam perjanjian itu ada butir yang merupakan pesanan khusus dari pemimpin
Kristen yang berisi dilarangnya kaum Yahudi berada di Yerusalem. Ketentuan
khusus ini berangsur-angsur dihapuskan begitu Yerusalem berubah dari kota
Kristen jadi kota Muslim.

Perang Hittin pimpinan
Shalahuddin menang atas 60 ribu pasukan salib di Palestina

Tiga bulan
setelah pertempuran Hattin, dan pada hari yang tepat sama ketika Nabi Muhammad
SAW diperjalankan dari Mekah ke Yerusalem untuk perjalanan mikrajnya ke langit,
Salahuddin memasuki Yerusalem dan membebaskannya dari 88 tahun pendudukan
tentara Perang Salib. Sebaliknya dengan “pembebasan” tentara Perang
Salib, Salahuddin tidak menyentuh seorang Nasrani pun di kota tersebut,
sehingga menyingkirkan rasa takut mereka bahwa mereka semua akan dibantai. la
hanya memerintahkan semua umat Nasrani Latin (Katolik) untuk meninggalkan
Yerusalem. Umat Nasrani Ortodoks, yang bukan tentara Perang Salib, dibiarkan
tinggal dan beribadah menurut yang mereka pilih.

Pada tanggal 2
Oktober 1187, Salahuddin dan tentaranya memasuki Yerusalem sebagai penakluk dan
selama 800 tahun berikutnya Yerusalem tetap menjadi kota Muslim. Salahuddin
menepati janjinya, dan menaklukkan kota tersebut menurut ajaran Islam yang
murni dan paling tinggi. Dia tidak berdendam untuk membalas pembantaian tahun
1099, seperti yang AI-Qur’an anjurkan (16:127), dan sekarang, karena permusuhan
dihentikan, ia menghentikan pembunuhan (2:193-194).

Tak ada satu
orang Kristen pun yang dibunuh dan tidak ada perampasan. Jumlah tebusan pun
disengaja sangat rendah …. Salahuddin menangis tersedu-sedu karena keadaan
mengenaskan keluarga-keluarga yang hancur terpecah-belah dan ia membebaskan
banyak dari mereka, sesuai imbauan AI-Qur’an, meskipun menyebabkan keputus
asaan bendaharawan negaranya yang telah lama menderita. Pendeknya, Salahuddin
dan tentaranya memperlakukan orang-orang Nasrani dengan kasih sayang dan
keadilan yang agung, dan menunjukkan kepada mereka kasih sayang yang lebih
dibanding yang diperlihatkan oleh pemimpin mereka.

Quthuz
memukul mundur serangan Mongol di Ain Jalut, Palestina

Sebelum
menyerang Mesir, Hulagu Khan mengirim surat kepada penguasa Mesir, Muzhaffar
Saifuddin “Quthuz” bin Abdillah Al-Muiz yang berasal dari keturunan
para sultan Al-Khawarizmi di Asia Tengah, yang sebelumnya telah dibumi hagus
oleh Kaisar Jengis Khan, kakek Hulagu Khan. Dalam suratnya Hulagu Khan meminta
Saifuddin Quthuz untuk menyerah. Ketakutanpun menghantui warga mesir, hingga
akhirnya Saifuddin Quthuz menyerukan semangat jihad, atas nasehat Al-Imam
Izzuddin bin Abdis Salam.

Ramadlan
658 H, bersama 40.000 tentara, Saifuddin Quthuz bergerak menuju Shalihiyah,
lalu mengobarkan semangat jihad di sana, kemudian mengangkar Ruknuddin Baibars
untuk memimpin Pasukan menuju Gaza. Sementara itu Hulagu Khan memerintahkan
Kitbugha Noen panglima Tartar yang kristen, menggantikan kedudukannya,
sedangkan dia sendiri pulang ke Cina untuk ikut serta dalam pemilihan Khan
penguasa Mongol, setelah kematian penguasa sebelumnya, yaitu Mongke Khan, kakak
Hulagu Khan.

Akhirnya pasukan Islam dapat mengalahkan pasukan Tartar Mongol
di bawah kepemimpinan Saifuddin Quthuz. Kitbugha Noen tewas diantara tumpukan
mayat tentara Tartar. Saifuddin Quthuz bersujud dan berkata: “Sekarang aku
dapat tidur dengan tenang!”.

Selanjutnya Baibars, bergerak menuju Damaskus dan dan Aleppo
membersihkan sisa-sisa pasukan Tartar, membebaskan tawanan-tawanan muslim dan
menghukum para pengkhianat nasrani yang membantu pasukan Tartar menghancurkan
Damaskus.

Pasukan
Hulagu yang dikirim untuk membalas kekalahan dari bani Mamluk sebagian dihadang
oleh pasukan Berke Khan, Khan Mongol yang menguasai wilayah Rusia dan Kaukasus
yang sudah memeluk agama Islam dan bersekutu dengan bani Mamluk dalam
menghadapi serbuan balasan ini. Terjadilah perang saudara, yang terkenal dengan
sebutan perang Berke-Hulagu yang berakhir dengan kekalahan telak dari pasukan
Hulagu. Sebagian pasukan Hulagu lainnya yang berhasil sampai di Syria bertempur
dengan pasukan muslim dari bani Mamluk pimpinan Baibars dan berhasil
dihancurkan juga.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai