Pagi ini, Umi liqo saya membagikan ini :

Artikel yang cocok dibaca pas liburan dan buat Sahabat-sahabat yang hobi traveling

😊

✳TRAVELING, SALAH SATU PERINTAH ALLAH ✳

Dalam Islam, rihlah atau traveling adalah bagian penting dari proses pembelajaran. Bahkan, perintah untuk melakukannya secara tegas tercantum dalam Al-Qur’an.

Di masa awal penyebaran Islam, bepergian adalah salah satu anasir yang menyebabkan Islam tersebar luas. Makam Saad bin Abi Waqqas yang terdapat di Cina adalah salah satu contoh giatnya para sahabat berpergian untuk menyebarkan Islam.

Pada masa-masa selanjutnya, kegiatan bepergian juga menjadi kunci majunya ilmu pengetahuan Islam. Lihatlah bagaimana proses pembuatan kitab ā€œSahih Bukhariā€, Imam Bukhari kerap melakukan perjalanan yang sangat jauh ‘hanya’ untuk memverifikasi satu hadist pendek. Padahal kitab tersebut memuat ribuan hadits. Tak terbayangkan berapa orang yang ia jumpai dan berapa jauh perjalanan yang ia lakukan. Sampai-sampai Imam Khatib Al Baghdadi, seorang ulama salafusshalih, menyusun kitab yang khusus membahas ‘perjalanan’ hadits-hadits tersebut, yaitu

Al Rihlah Fii Thalabil Hadits (Perjalanan Mencari Hadits).

Bahkan, jauh sebelum Saad bin Abi Waqqas pergi ke Cina, dan Imam Bukhari keliling dunia memverifikasi hadits, Rasulullah saw juga telah melakukan berbagai perjalanan jauh untuk berdagang. Kisah-kisah ini adalah bukti bahwa seorang Muslim sudah seharusnya memiliki wawasan global.

PERINTAH ALLAH

Sebuah pertanyaan muncul setelah kita membaca kisah-kisah di atas, apa sebenarnya yang membuat Rasul, para sahabat, dan para tabi’in begitu gemar melakukan perjalanan? Jawabnya sederhana, karena itu adalah perintah Allah.

ā€œAda banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menginspirasi para pendahulu kita melakukan perjalanan jauh, contohnya ayat 15 surat Al-Mulk,ā€ ujar Ustadz

Ahmad Sahal Hasan, Lc.

ā€œ Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.ā€

Jelas sekali, Allah memerintahkan umat Islam untuk menjelajahi Bumi.

Ayat di atas adalah salah satu ayat yang menjadi acuan keutamaan bepergian secara umum. Dalam hal yang lebih khusus, dapat kita jumpai di surat Al-Jumu’ah ayat 10 yang berbunyi,

ā€œ Setelah didirikan shalat (Jum’at) maka bertebaranlah kamu di muka Bumi dan carilah sebagian dari karunia Allah. Dan berbanyaklah berzikir kepada Allah agar kamu beruntung.ā€

Menurut Sahal, ayat ini adalah petunjuk bahwa Allah mendorong kita untuk berusaha semaksimal mungkin dalam bekerja. ā€œAllah tidak membatasi kita dalam mencari penghasilan. Silakan melakukan perjalanan sejauh mungkin untuk mencari penghidupan, berbisnis.ā€

RAIH KEUTAMAAN

Tiadalah Allah memerintahkan sesuatu bila tanpa keutamaan di dalamnya, termasuk dalam perintah melakukan perjalanan.

Apa saja keutamaan bepergian? ā€œAda banyak keutamaan,ā€ kata Sahal, ā€œdi antaranya, bertambah ilmu dan wawasan, menambah silaturahim, menambah rezeki, dan banyak lagi. Selain itu jika dilakukan secara kolektif, bepergian bersama akan mempererat ikatan ukhuwah,ā€ paparnya.

Bahkan berdasarkan beberapa hadits Nabi saw, dari tujuh golongan manusia yang doa mereka mustajab di sisi Allah, di antaranya adalah doa seorang musafir sampai ia kembali dari perjalanannya. Namun, keutamaan-keutamaan itu tidak akan kita raih bila kita tidak berpegang pada adab-adab bepergian yang diajarkan Islam.

Sahal mengungkapkan lima adab bepergian dalam Islam, yaitu niat, tidak melakukan maksiat, doa dan sabar, membuat wasiat, serta membayar utang. Niat karena mencari ridha dan karunia Allah adalah landasan pertama dan utama dalam aktivitas seorang Muslim.

Menurutnya, motivasi untuk berdakwah adalah motivasi paling utama dalam melakukan perjalanan. Setelah itu, motivasi untuk menuntut ilmu. ā€œMenuntut ilmu ini bukan hanya dalam bentuk kuliah ke luar negeri, tapi dalam semua bentuk yang mungkin, seperti ikut seminar, menulis buku, dan sebagainya,ā€ papar pengajar di STIU Al Hikmah, Jakarta ini.

Doa dan sabar pun diperlukan, karena saat bepergian itu kita berada di lingkungan asing. Yang menarik, dan mungkin tidak begitu sering kita lakukan bila ingin bepergian dalam jarak yang jauh adalah membuat wasiat dan melunasi utang. ā€œMembuat wasiat ini penting karena tidak ada yang menjamin bahwa kita bisa kembali pulang,ā€ jelas Sahal. Sedangkan melunasi utang, imbuhnya, agar bila terjadi apa-apa kita tidak mempunyai tanggung jawab—terkait utang—yang harus kita tanggung di hadapan Allah.

Hal yang juga harus diperhatikan dalam bepergian jauh adalah bila kita belum menunaikan ibadah haji. Tidak ada niat bepergian jauh yang lebih baik daripada niat untuk menunaikan haji. Dalam hadits disebutkan, tidak ada kebaikan pada bepergian jauh, dalam konteks ibadah, selain pergi ke tiga tempat, yaitu ke baitullah Makkah, ke Kota Madinah, dan ke Masjid Al Aqsha.

Namun, ke mana pun kita pergi, niat untuk melakukan perjalanan sebagai sebuah ibadah tentu harus terus kita sertakan. Dengan begitu, saat mengelilingi bumi Allah ini kita selalu mawas, betapa Mahabesarnya Allah, dan betapa kecilnya kita.

IBNU BATUTAH, BACKPACKER SEJATI

Bernama lengkap Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim at-Tanji, Ibnu Batutah lahir di Tanger, Maroko pada 1304 M. Ibnu Batutah muda memulai perjalanannya melalui jalur darat dan laut dari Makkah menuju negara-negara sekitar, menempuh jarak 120.000 kilometer dan menyinggahi 44 negara, selama kurang lebih 30 tahun.

Menurut George Sarton, sejarawan Barat, Ibnu Batutah adalah pelopor penjelajah terbesar di dunia pada abad 14 yang telah melakukan perjalanan sejauh 75.000 mil melalui daratan dan lautan, melebih jarak yang ditempuh Marcopolo.

-Didi Muardi-

Referensi :

http://www.ummi-online.com/traveling-salah-satu-perintah-allah.html

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai