New Yogyakarta International Airport (NYIA)

It is (InsyaAllah) approximately 20 minutes from home. Yaap, bandara ini baru mulai dibangun di Kulon Progo mulai Januari ini. Targetnya selesai Maret-Juni 2019. Bandara ini digadang-gadang akan menjadi bandara utama Yogyakarta. Landasan pacunya (runaway) diklaim akan menjadi yang terpanjang keempat di Indonesia setelah bandara di Batam, Medan, dan Soetta.

Sejujurnya, kawasan yang dibangun bandara ini boleh dibilang masih pedesaan, jadi pro kontra saat akan dibangun bandara ini cukup panjang. Pertentangan dari warga menyisakan proses pembebasan lahan yang alot. But, here it is now, bulan Januari lalu sudah dilakukan peletakan batu pertama oleh Pak Jokowi. Semoga pembangunannya lancar dan selesai tepat waktu.

Well, karena pembangunan bandara ini, prospek ekonomi dan pembangunan Kulon Progo secara keseluruhan cukup menggiurkan.

Pic’s source: www.jogja.co

Syauq.

ayuprissa:

Pemuda itu namanya Hudzaifah, umurnya 24 tahun, dan tinggal di Jerman.
Ia pulang ke Indonesia karena ayahnya sakit dan dirawat di rumah sakit sejak 21 Januari lalu. Ia ingin melakukan sesuatu untuk membantu kesembuhan ayahnya.

Kemarin malam, dia pun menjalani operasi untuk persiapan transplantasi hati. Beberapa bagian dari hatinya akan dipotong dan dipindahkan untuk mengganti hati ayahnya yang rusak karena penyakit liver. Dunia medis memang memungkinkan transplantasi hati sebagian antar individu dengan genetika yang sama.

Ternyata sebelum transplantasi, sang ayah diketahui juga mengalami infeksi usus. Proses transplantasi hati pun ditunda, dan dada Hudzaifah yang sudah dibedah harus dijahit kembali. Hudzaifah harus menunggu.

Namun, Allah berkehendak lain. Dini hari tadi sekitar pukul 01.05, sang ayah, Ust Taufiq Ridho, berpulang di RSCM. Jenazahnya dimakamkan di lingkungan sekolah yang ia bina di Karawang. Hudzaifah ingin melihat ayahnya untuk terakhir kali, ia pun ikut ke pemakaman dengan luka jahitan yang belum kering di dadanya. Ia tidak jadi menyerahkan sebagian hatinya kepada ayahnya, tapi ia telah menunjukkan bakti sebagaimana seorang anak kepada ayahnya.

Tahun 2015 lalu, ada kisah yang mirip di Makassar, dalam bentuk sebaliknya. Saya membacanya di akun FB kawan saya, Ahmad Amiruddin Taroada.

(cerita lengkapnya ada di sini=> https://www.facebook.com/ahmadamiruddin/posts/10207026332992189)

Ahmad bercerita tentang seorang ayah bernama Fahrie Haris, yang menyerahkan satu ginjalnya untuk menyelamatkan putranya Rizki yang menderita kelainan ginjal. Fahrie Haris sendiri adalah seorang dokter, dan dia tahu risiko bahwa ginjalnya mungkin terlalu besar untuk putranya yang berumur 12 tahun. Tapi tetap ia jalani operasi itu. Ia mengambil risiko apa pun untuk menyelamatkan putranya. Operasi cangkok ginjal berjalan dengan baik, namun Allah menakdirkan Rizki tak bisa bertahan lama. Desember 2016, sekitar setahun setelah mendapatkan ginjal dari ayahnya, Rizki wafat.

Nak, di ranah filsuf Barat, sering kita mendengar “platonis” disebut untuk menggambarkan cinta yang tanpa syarat. Sementara menurut Ibnu Qayyim Al-Jauzy, kecintaan semacam ini disebut Syauq. Maqamnya ada di lapis ketiga setelah Tatayyum dan ‘Isyk.
Tapi seringkali kita tidak punya cukup kata untuk memaknai kisah-kisah seperti ini. Tentang bagaimana sebuah dorongan bisa menggerakkan seseorang hingga batas sejauh-jauhnya. Mengubah kuadran di dirinya sendiri untuk memberikan keleluasaan bagi kuadran orang yang dicintainya.

Ada riwayat dalam hadits qudsi, yang menyebutkan bahwa dari seratus rahmat dalam bentuk kasih sayang yang diciptakan oleh Allah, hanya satu yang Dia turunkan ke alam semesta. Dan yang satu itu sudah cukup untuk menanamkan kecintaan di hati seluruh mahluk, di hati para orangtua kepada anak-anaknya, sehingga seekor kuda akan mengangkat kakinya agar tak menginjak anaknya, dan seekor ayam mengembangkan sayapnya agar anak-anaknya bisa berlindung di bawahnya. (Versi lain diriwayatkan oleh Bukhari -Muslim)

Dari satu yang diturunkan Allah itu, kita pun mendengar kisah-kisah ujian cinta seperti Hudzaifah dan dr. Fahri. Sehingga bisa kau bayangkan, betapa besarnya 99 yang tersisa yang tidak diturunkan Allah itu.

Banyak dari kita yang merasa beruntung karena diberi ujian cinta yang ringan-ringan saja. Barangkali hanya berupa tidur yang terjeda di malam hari karena anak balita kita minta minum, atau orangtua kita yang semakin sepuh dan semakin sering berganti popok.
Dan sering ketika sampai di titik lelah tertentu, kita merasa bahwa satu rahmat yang diturunkan Allah itu tidak lagi cukup. Kita pun mulai berebut dan bertanya di mana sisanya.

Kita membuat induk kuda akhirnya menurunkan kakinya, dan anak ayam meleleh bulu-bulunya di bawah terik matahari.

disalin dari halaman facebook Fauzan Mukrim.

Siapa yang ingin kau buat terkesan?

Orang asing di luar sana kah? Dirimu sendiri kah?
Coba ingat kembali siapa yang seharusnya selalu menjadi tujuan.

He is The One, Allah SWT. Remember that we actually should please Allah, not human.

Truely, I remind myself.
#butperhapsyoutoo

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai