
mom you don’t have to worry💕💕💕

mom you don’t have to worry💕💕💕

Sejak Magradikaa!
Buka bersama keempat kami sejak tingkat satu. Artinya sudah hampir empat tahun kami di sini. Mereka (survei contoh) adalah keluarga pertama saat menginjakkan kaki di kampus Otista.
Alhamdulillah masih nggak bisa nggak ketawa kalo sama mereka. Sesekali cerita flashback pas jaman ospek (we call it Magradika) yang pasti nggak jauh-jauh dari kekonyolan kami ber-20. Almost complete, bukber di semester akhir ini alhamdulillah 17/20 yang masih bisa kumpul.
Get up. Jump high. Be everything you want to be! Selamat melangkah!

Mungkin kita perlu berhenti sejenak, duduk dengan tenang, memejam, merasakan bumi yang kita pijak serta udara yang kita hirup dalam satu tarikan napas.
~Happiness Laboratory
P.s I miss this high place, beach, and of course you

Melihat ke atas untuk belajar
Melihat ke bawah untuk bersyukur
Melihat lurus ke depan untuk terus berjalan
This heart yearns to please You.
I hope that life treats you well, and when it doesn’t, I hope that you treat yourself well.

ada perasaan yang menyejukkan hati, yang entah bagaimana hanya bisa merasakannya dalam heningnya diam saat melangitkan doa doa.
Sebagai anak
yang terlahir dari keluarga dengan tingkat ekonomi biasa-biasa saja, waktu
kecil dulu saya pernah membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang kaya:
mungkin hidupnya sangat bahagia, mainan apapun bisa dibeli, liburan kemanapun
bisa dilakoni, dan apapun yang menjadi keinginan pasti akan terpenuhi.
Entahlah, persepsi itu mungkin hadir dari kisah-kisah orang kaya dalam cerita
atau film yang saya tonton dari sebuah TV tua milik keluarga. Saat itu, dalam
pandangan saya yang sempit, saya selalu menyandingkan kata kaya dengan kepemilikan
harta dan benda, sehingga saya menganggap bahwa orang kaya adalah ia yang
memiliki banyak uang, kendaraan, rumah bertingkat, dan baju-baju mewah yang
tentunya tak sama dengan apa yang saya punya-yang hanya berasal dari pasar yang
letaknya di pinggiran kota.Singkat cerita,
masa-masa remaja mengantarkan saya pada satu takdir dimana saya bisa mencicipi
hidup berkecukupan. Di sebuah tempat dimana saya tinggal jauh dari orangtua,
saat itu saya merasa kehidupan saya begitu berbalik. Tiba-tiba saja saya
tinggal di rumah mewah, pergi ke sekolah dengan diantar-jemput mobil dan
seorang supir, makan makanan yang entah bagaimana saya perlu menjelaskan
rasanya, selalu ada anggaran untuk membeli buku atau jajan, dan bahkan liburan
mahal sekali pun adalah sesuatu yang mudah kala itu. Hmm, ternyata begini
rasanya jadi orang kaya! Tapi ternyata, semua itu tidak lantas membuat saya
bahagia, dan bahkan mengantarkan saya untuk mengalami pergolakan hidup yang entah bagaimana saya perlu
menceritakannya. Intinya, takdir tersebut membuat saya belajar memahami bahwa
kebahagiaan sama sekali tidak pernah terletak pada kekayaan, harta, maupun
benda.Banyak hal
pernah terjadi dalam hidup saya. Dari tinggal di kawasan elite sampai di
kampung. Dari naik mobil mewah sampai jalan kaki. Dari makan di restoran
bintang lima sampai hanya bertabur garam. Dari selalu punya uang sampai dompet
tak berisi apa-apa. Begitulah, hidup memang berganti-ganti cerita, tentunya
supaya kita bisa mengambil makna. Dari situ saya menjadi paham, bahwa
ketenangan dan kebahagiaan hidup hadir dari kesederhanaan, bukan dari
mengada-adakan sesuatu yang mewah dalam pandangan orang. Alhamdulillah,
Tabaarakallahu, saya merasa lebih bahagia hidup dalam kesederhanaan. Saya jadi
paham mengapa sederhana adalah kata yang begitu melekat dalam sikap hidup ayah,
sebab ternyata ini begitu menenangkan!Dulu saya pernah
malu bergaul dengan orang kaya, tapi, sejak saya memahami bahwa harta bukanlah
segala-galanya, saya merasa semua orang, baik kaya ataupun miskin, sama-sama
bisa menjadi teman tanpa harus memandang apa yang mereka punya. Dulu saya
pernah minder dengan teman-teman yang hidupnya berada, tapi, sejak saya
memahami bahwa tak ada yang benar-benar dimiliki oleh manusia di dunia, saya
merasa lebih bebas bergaul dengan siapa saja tanpa harus malu atau merasa
rendah diri seperti sebelumnya.Sahabatku, jika kita
memang bukan orang kaya, terus kenapa? Apa yang salah jika kita memang tidak
menyandarkan hidup pada harta? Ah harta, bukankah kemuliaan manusia sejatinya
memang tak pernah terletak disana?Tadi pagi, saya
berdiskusi dengan seorang senior yang saat ini semakin sering mendapat undangan
untuk mengisi berbagai acara, yang kalau saja ia mau, sebenarnya ia bisa saja
menabung harta dari hal itu, tapi ia tidak melakukannya. Tanpa diduga, sambil
bercanda ia menyampaikan sebuah kalimat yang, sejujurnya lucu bagi saya, tapi
memang benar adanya,“Kalem we euy, emangna rek kamana sih meuni rarusuh
pisan ngumpulkeun harta? Harta mah moal dibabawa ka akherat. (Tenang aja,
memangnya mau kemana sih buru-buru banget ngumpulin harta? Harta kan engga akan
dibawa ke akhirat).”Hmm, saya
sepenuhnya sepakat! Dalam menjalani kehidupan ini, kita memang sudah selayaknya
bijak memaknai harta. Buat apa dikumpulkan sampai menggunung jika itu hanya
untuk membuat orang lain menyadari eksistensi kita? Buat apa dicari terus
sampai ke puncak lelah jika itu hanya untuk kepuasan pribadi? Buat apa
dibangga-banggakan, disombongkan, dielu-elukan kepada orang lain, padahal
semuanya sementara? Kalau kita memang bukan orang kaya yang memiliki banyak
harta, memangnya mengapa?Selamat
berdialog dengan hati, selamat memaknai bahwa iman adalah sebaik-baik harta. Semoga Allah memudahkan kita untuk memahami bahwa kemuliaan seorang manusia memang tidak pernah terletak pada harta, tapi terletak pada taqwa yang semoga kita memang sedang berupaya memperjuangkannya. Baarakallahu fiikum!

Betapa pun banyak hal yang membuat kita pantas berprasangka buruk, pasti ada satu prasangka baik. Berpihak pada prasangka baik selalu jauh lebih baik dan berpahala daripada berpihak pada prasangka buruk.
– Happiness Laboratory –