Melihat diri sendiri

ibnufir:

Lihat kehidupan orang lain, “kok asyik ya”.
Lihat kerjaan orang lain, “kok enak ya”. Lihat pasangan orang lain, “kok romantis ya”. Lihat harta orang lain, “kok berlimpah ya”. Lihat medsos orang lain, “kok bahagia ya”.

Kita kerap kali membanding-bandingkan kehidupan kita. Apalagi di zaman media sosial seperti sekarang ini. Kita tidak pernah alpa melewatkan satu haripun tanpa melihat kehidupan orang lain.

Tanpa parameter yang jelas kemudian kita menarik satu kesimpulan, bahwa ukuran kehidupan kita hanya soal siapa yang beruntung dan siapa yang tidak beruntung. Kita tidak peduli meski yang tengah kita usahakan bukan sesuatu hal yang sama.

Unggahan-unggahan kita di media sosial, baik soal penampilan, pekerjaan, pasangan, kepemilikan harta benda semuanya kita sesuaikan semenarik mungkin. Termasuk untuk sebuah kebaikan, beribadah, beramal, membantu sesama, semuanya harus diakui dan disukai orang lain.

Sehingga bagi siapapun yang melihat, kita dihargai sebagai golongan orang-orang yang lebih baik taraf hidupnya. Termasuk golongan orang-orang yang lebih beruntung dibandingkan yang lain.

Kita lupa bahwa ada sebuah nasib yang sedang bekerja dalam campur tangan Tuhan. Ada roda yang sedang berputar. Ada waktu-waktu yang diciptakan dalam rentang kecepatan yang berbeda bagi setiap orang. Ada usaha-usaha yang melintas dalam satu garis yang berlawanan.

Semestinya pertanyaannya bukan lagi soal siapa yang beruntung dan yang tidak beruntung. Tetapi sudah sejauh mana kita melihat ke dalam diri kita sendiri. Sudah sejauh mana kita mensyukuri apa yang sudah ada dan yang sedang kita upayakan.

Sudahkah kita hidup benar-benar sesuai dengan apa yang kita inginkan. Atau jangan-jangan kita sedang kelelahan menyamakan standar hidup kita dengan standar hidup milik orang lain, yang jelas-jelas bukan tujuan kita yang sebenarnya.

—ibnufir

Mencari kesempurnaan

ibnufir:

Seorang murid bertanya kepada gurunya. “Guru, bagaimana saya memilih yang terbaik, yang paling sempurna diantara yang lain?”.
Kemudian sang guru menjawab “Sekarang, kamu masuklah ke dalam sebuah taman bunga yang luas itu, dan di ujung perjalanan sana kamu hanya boleh membawa satu bunga yang paling menarik menurutmu”.

“Dengan syarat, kamu tidak boleh kembali, dan mengambil bunga lain yang telah kamu buang atau kamu lewatkan”. Kemudian sang murid mulai berjalan memasuki pintu gerbang taman bunga. Ia melihat satu dua tanaman yang ada di hadapannya, lalu mengabaikannya sambil berpikir perjalananku menemukan masih jauh.

Di tengah perjalan lalu ia menemukan satu bunga yang menurutnya paling cantik. Kemudian ia memetiknya. Sambil berjalan kemudian ia menemukan lagi bunga lain yang lebih cantik. “Sepertinya yang ini saja, yang tadi dibuang saja” ucapnya dalam hati. Lalu ia memetik dan membawanya dengan riang. Di perjalanan pandangannya teralihkan oleh bunga lain yang lebih cantik.

Kemudian ia melepaskannya lagi, ia memetik bunga baru yang lebih segar dan tangkainya lebih muda. Menuju akhir perjalanan ia teringat bunga pertama yang membuatnya jatuh cinta untuk pertamakali. Bunga itu begitu sulit untuk ia lupakan. Lalu ia membuang lagi bunga yang dipegangnya, sambil berharap ia dapat menemukan bunga yang paling mirip dengan cinta pertamanya.

Namun sampai di ujung perjalanan ia tak menemukan apapun yang menarik perhatiannya. Lalu sang guru bertanya “kenapa tidak membawa apa-apa? Sang murid menjawab “aku bingung guru, semua terlihat cantik saat pertamakali aku mendapatkannya, lalu ketika melihat yang lain perhatianku kepadanya menjadi teralihkan”

“Begitulah nak” ucap sang guru. “Hidup ini tidak ada yang sempurna. Ketika kamu mencari yang paling sempurna, selalu saja ada yang lebih sempurna, yang lebih indah, dan lebih dari segalanya. Nak, akan selalu ada yang kamu sesali dari setiap yang kamu lepaskan. Tetapi setiap yang sudah tidak lagi ada di genggamanmu, belum tentu bisa kembali untuk kamu miliki”.

“Lalu aku harus bagaimana guru?” Ucap sang murid. “Pilih satu yang paling mungkin kamu percaya, yang paling mungkin kamu rawat, dan yang paling menenangkan perasaanmu. Tak perlu lagi bandingkan dengan yang sudah lalu. Tak perlu lagi kamu bandingkan dengan yang lebih menarik”.

“Petiklah, dan biarkan ia tumbuh menjadi sesuatu yang paling istimewa di dalam rasa cukupmu”.

—ibnufir

Kalimat terakhir 💕

taufikaulia:

Jika hatimu tak lagi dikuasai dunia dan akhirat lebih utama, maka perkataan dan perilaku orang sekasar apapun, atau ujian seberat apapun, tak lagi mampu menghancurkanmu. Sebab kamu mengerti bahwa menjadi ridha dengan apapun ketetapan-Nya adalah satu-satunya jalan menggapai ridha-Nya.

— Taufik Aulia

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai