Kalau Bukan Sama Allah, Mau Jujur Sama Siapa?

novieocktavia:

Pernahkah kamu bertemu dan mengenal seseorang, lalu diam-diam di hatimu terbersit keinginan untuk menanyakan satu hal penting tentang hidup kepadanya?

Suatu hari, saya dan seorang teman pergi ke luar untuk makan siang. Di perjalanan berjalan kaki menuju ke tempat makan, saya tiba-tiba saja teringat sebuah pertanyaan yang sejujurnya sudah sangat ingin saya tanyakan tapi belum juga menemukan kesempatan. Pasalnya, beberapa bulan terakhir kami berada di atap yang sama saat jam kerja, lalu sedikit banyak saya mengobservasi bagaimana perilakunya dalam keseharian, terutama di waktu-waktu selepas shalat berjamaah.

Jika adzan sudah berkumandang, biasanya kami saling panggil satu sama lain untuk sama-sama pergi ke masjid yang letaknya tidak jauh dari kantor. Setelah shalat dan menggenapkannya dengan doa, dzikir, dan shalat rawatib, satu per satu diantara kami dan teman-teman yang lain pun keluar dari masjid, kecuali seseorang ini yang biasanya masih khusyu berdoa, entah apa yang diceritakannya kepada Allah. Bukan sekali dua kali, tapi ini hampir terjadi setiap hari sehingga saya diam-diam jadi bertanya-tanya, “Apa ya yang dia lakukan? Doa apa yang dia panjatkan? Cerita apa yang sedang dia ceritakan?”

Lalu, siang itu saya memberanikan diri, randomly bertanya dengan satu kalimat pertanyaan yang ternyata membuat deep talk selanjutnya terjadi sampai satu jam kemudian,

“Teh, aku sejujurnya ingin banget nanya ini dari lama, tapi belum ketemu aja kesempatannya, dan kayaknya sekarang tepat. Kalau aku perhatikan, setiap selesai shalat teteh selalu khusyu banget berdoanya. Sebenarnya, apa sih yang teteh doakan? Teteh cerita apa sama Allah?”

Pertanyaan ini mungkin terdengar tidak biasa, sehingga ada sedikit kaget tertangkap dari raut wajahnya, “Hahaha, teh Nov, anaknya teh suka tiba-tiba nanya pertanyaan aneh. Aku yakin nih bentar lagi pertanyaan yang sama bakal teteh tanyain juga ke pak R.” Saya tersenyum dan mengangguk. Jauh di dalam hati, saya memang berencana menanyakan pertanyaan serupa pada seorang senior di lingkaran kami. Kemudian dia pun menjawab,

“Sejujurnya aku bingung gimana harus jawab pertanyaan ini. Bismillah, semoga jadi kebaikan ya. Jadi gini, teh, sebenarnya setiap manusia itu pada dasarnya membutuhkan Allah. Dan itulah yang selama ini sedang aku coba hadirkan terus: perasaan membutuhkan Allah. Jadi, setelah shalat dan dzikir, aku banyak cerita dengan jujur sama Allah tentang apapun yang ingin aku ceritakan. Sesimple aku merasa engga enakan sama orang, kesel sama orang, bahagia karena hal kecil, ingin minta sesuatu, lagi merasakan sesuatu, pokoknya apapun aku ceritain ke Allah. 

“Aku juga lagi membiasakan diri untuk engga lupa meninggikan Allah dan merendahkan aku di hadapan-Nya. Kayak ngobrol gitu aja, teh, pokoknya jujur atas apapun. Kayak misalnya nih ya mengakui kalau hati kita lemah menahan godaan kalau engga ditolong Allah. Atau misalnya kalau masih melakukan sesuatu tapi belum tulus ikhlas karena Allah, ya bilang aja begitu sama Allah, supaya lebih tenang, lega, dan merasa didengar.”

Dia bicara perlahan, membuat saya menahan-nahan agar air mata tidak jatuh dan merubuhkan benteng pertahanan. Tapi, diam-diam saya meng-highlight sesuatu, tentang jujur kepada Allah. Aha! Inilah yang seringkali sulit untuk dilakukan, entah apa penyebabnya. Apakah kamu juga merasakannya? Kemudian, saya pun menanggapi,

“Tapi kenapa, ya, kok kadang jujur sama Allah itu rasanya berat dan malu? Kadang juga aku malah malu karena merasa doa dan cerita yang aku utarakan kok ya begitu-begitu aja dan receh banget? Orang lain mungkin engga ada kali ya yang doa dan ceritanya sereceh aku?”

Sambil menghabiskan makan siang kami, lawan bicara saya itu menjawab,

Teh, apa sih yang membuat teteh merasa doa teteh receh sementara Allah itu suka kalau kita meminta? Kenapa teteh harus merasa begitu? Teteh bayangin deh orang yang udah deket sama orang lain, yang receh sekalipun diminta kan? Yang receh juga diceritakan, kan? Nah, kalau malu-malu gengsi-gengsi sama Allah, berarti apa? Emangnya kalau engga jujur sama Allah, teteh mau jujurnya sama siapa? Manusia kan sumber kecewa.

Deg! Ada banyak anak panah yang tepat jatuh di hati saya. Tidak bisa ditahan lagi, akhirnya menangis juga, sadar betapa selama ini masih suka malu-malu untuk jujur sama Allah, padahal Allah paling tahu bagaimana isi hati manusia, bukan? Iya Nooov, terus kenapa engga jujur aja sih, toh jujur engga jujur Allah udah paham banget gimana pikiran dan perasaan kamu~

Obrolan siang itu membuat saya belajar memperbaiki bagaimana berdoa dan bercerita kepada-Nya. Ternyata, jujur kepada Allah sambil menceritakan banyak hal kepada-Nya dengan tulus itu benar-benar melegakan, terutama di hening sepertiga malam. Rasa leganya melebihi kelegaan setelah bercerita pada ibu (dan seseorang yang sudah saya anggap sebagai ibu), sahabat, atau mengungkapkan buah perasaan dan pemikiran melalui tulisan.

Kamu, kapan terakhir kali jujur dan mengungkapkan banyak cerita kepada Allah?

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai