Bapak bukan dari keluarga kaya. Dari keluarganya, beliau yang paling semangat sekolah. Padahal buat sekolah ga pernah dikasih uang jajan, ongkos aja belum tentu ada.
Sementara aku, ketika SMP aku pernah ngeluh. Aku merasa belajar IPA tuh ga relevan dengan cita-citaku untuk jadi psikolog. Terus Bapak membalas “Kalau belajar jangan lihat kontennya aja, lihat juga esensinya. Seengganya, kamu belajar menyelesaikan masalah, belajar ngejalanin hal yang kamu ga suka, belajar sabar.”
Iya ya, kadang orang nganggep belajar ilmu di sekolah itu sebatas hal duniawi aja. Padahal ilmu kan cuma alat, tergantung apakah ilmu itu digunakan sebagai dasar melatih diri pada level spiritual, mengembangkan daya pikir, menyayangi orang lain, atau bahkan meningkatkan kecintaan kepada Yang Maha Menciptakan.
Salah satu pengalaman yang lucu adalah aku merasa salah satu ilmu yang paling membuat aku merenungkan kebesaran Tuhan itu justru ketika belajar sistem saraf dan tingkah laku. Coba kita belajar gimana suatu informasi dari otak dapat diterjemahkan menjadi perintah untuk tingkah laku tertentu itu satu pertemuan, bagaimana antarbagian dari tubuh kita itu berkomunikasi juga satu pertemuan. Padahal kita setiap hari bisa dengan gampangnya ngetik sambil denger lagu sambil scroll browser sana-sini tanpa tahu bahwa proses di baliknya bisa sekompleks itu.
Konsekuensinya, mengetahui informasi yang sebetulnya cuma menjelaskan apa yang terjadi pada tubuh kita sebetulnya bisa dijadikan dasar untuk jadi orang yang lebih bersyukur. Itu baru satu contoh.
Dari Bapak, aku belajar bahwa menyenangi proses belajar itu penting. Buat Bapak, berapapun nilaiku itu bonus aja. Yang pasti selama prosesnya dijalani dengan baik dan benar, kita ga hanya dapet kontennya, tapi sepaket dengan pendewasaan diri.
Jadi, ilmu kita kira-kira buat apa?

fresh air everywhere 🍃
🗻 Villa Zeid Riyal, Cisarua
Al Aqsha; The Final Stage
@edgarhamas
Kalau kamu suka permainan game, dan pasti setidaknya pernah memainkan game walaupun sekali, kamu akan tahu bahwa dalam setiap permainan akan selalu ada final stage, level akhir permainan dimana kamu akan melawan musuh terbesar untuk mencapai poin tertinggi. Jika lawan terbesar itu sudah kamu kalahkan, berarti kamu secara otomatis adalah pemenang game tersebut.
Nah, ketahui juga teman-teman, dunia ini tidak berjalan secara datar tanpa stage pertarungan, bukan sekedar tempat numpang dengan taman-taman bunga, riak air sungai dan canda tawa. Dunia ini, adalah a great game, dan bagi umat Islam secara khusus dan umat manusia secara umum, Al Aqsha adalah the final stagenya.
Al Aqsha, berulangkali disebut dalam Al Quran dan hadits, juga literatur sejarah sebagai latar akhir pertarungan besar antara kebenaran dan kejahatan. Disanalah final stage ketika kelak Umat Islam hampir mencapai puncak kebangkitannya kembali, dan Al Aqsha menjadi mahkota terakhir yang mesti direbut dari yahudi untuk membebaskan dunia dari kezaliman.
“Tidak akan hadir hari kiamat, sampai umat Islam memerangi yahudi”, sabda Rasulullah, “hingga berkata pohon dan batu; wahai muslim! Ada yahudi di belakangku, perangilah ia!”, kecuali pohon gharqad, karena ia adalah pohonnya bangsa yahudi.
Mengapa Al Aqsha bergitu berharga? Dan mengapa harus ia yang menjadi simbol yang diperebutkan banyak kekuatan di dunia? Jawabannya karena “siapa yang menguasai Palestina, maka ia akan menguasai dunia”, kata Syaikh Ali Muqbil sebagaimana juga dikatakan oleh Sultan Shalahuddin Al Ayyubi.
Menyelamatkan Al Aqsha adalah menyelamatkan dunia. Penjahahan yang terjadi atas Al Aqsha itulah juga bermakna penjajahan atas dunia. Jika merdeka Al Aqsha merdekalah dunia, jika terkungkung Al Aqsha maka terkungkunglah dunia pula dalam kepalsuan.
Itulah mengapa suatu hari khalifah Abdul Malik bin Marwan ditanya, “wahai Amiral Mukminin, mengapa Qubbah As Sakhrah kau tulis di sekelilingnya dengan surat Yasin?” Maka ia menjawab, “Sebagaimana Yasin adalah jantung Al Quran, maka Al Aqsha adalah jantung umat Islam!”
Jika jantungnya selalu kita bela dan bertekad kita selamatkan, maka jangan takut masa depan, jangan khawatir zaman baru milik siapa, sebab dengan membelanya berarti kita sedang membuat jaminan sebuah hari baru ketika keadilan dan kebenaran jadi tuannya. Selamat membela Al Aqsha, masjid yang dibela Rasulullah, yang dimenangkan oleh Umar, diperjuangkan Nuruddin Zanki, dibebaskan kembali oleh Shalahuddin. Selanjutnya kamu, saatnya melalui semua stage, menuju Al Aqsha, our final stage!
Setelah Trump memutuskan untuk mengumumkan bahwa Al Quds menjadi ibukota israel, makin jelas bahwa mereka berusaha menghancurkan final stage kita bahkan sebelum kita sampai kesana.
Tapi lihatlah, justru kelakuan konyol mereka akan jadi bumerang cepat atau lambat. Di saat yang sama, sebenarnya mereka sedang membangunkan singa yang tertidur berabad-abad. Rise a knight! Saatnya tentara Muhammad menyempurnakan narasinya.
New To Budgeting? Why You Should Try The 50-20-30 Rule
Raise your words, not voice. It is rain that grows flowers, not thunder.
Untuk yang belum memahami bagaimana Jerusalem, ibu kota Palestina, dicaplok oleh Israel dan diaku-akui sebagai punya mereka, vidéo singkat ini bisa menjelaskan dengan sangat gamblang. Jerusalem atau Al-Quds adalah tanah umat Islam. Final dan garis merah.
Jika kita tidak bisa melindunginya dengan tangan-tangan kita, setidaknya berikan dukungan kepada pejuang di Palestina untuk menjaga Al-Quds agar tetap menjadi milik kita.
Al Quds adalah tanah suci yang penuh berkah. Al Quds tanah para nabi. Allaah menjadikannya kiblat pertama Muslim. Kesinilah wajah menghadap saat sholat dahulu.
Rasulullaah shallahu allaihi wassalam memerintahkan Usamah bin Zaid ra membawa pasukan untuk membebaskannya. Dibawah kekhalifahan Umar bin Khaththab ra, Al Quds bebas dari penguasaan Romawi, hingga Yahudi bisa masuk kembali dan kesucian Nasrani tetap utuh.
Sholahuddin Al Ayyubi kembali mencontoh Umar, membebaskannya dari The Crusaders, kaum salib Eropa sehingga Al Quds kembali menjadi pusat ilmu dan peradaban Islam.
Saat Zionist Internasional mengirimkan Yahudi Eropa ke Palestina pada tahun 1900-an, jumlah Yahudi di Al Quds tak sampai 10%. Mayoritasnya adalah Muslim.
Dimana logika pembenaran Al Quds/ Yerusalem dijadikan Ibu Kota Penjajah yang tidak punya hak berdiri di tanah suci?!
SAY NO!!! to Al Quds/ Yerusalem for Israel!!!
—
©smart_171
Percayalah, berdo’a maupun tidak, setiap urusan serta masalah kita akan selesai. Bedanya, jika kita melaluinya dengan do’a, kita akan senantiasa bersyukur. Jika tidak, kita bisa menjadi takabur.










