Buat yang baru mau hijrah; baru kepingin jadi lebih baik; baru kepingin rajin sholat; baru kepingin salih/salihah, meskipun belum terwujud, gw pikir perlu nonton ini.
Meminjam pesan Hanan Attaki, bahwa bermajelis atau mendengar ceramah tuh poin pentingnya bukan di menambah pengetahuan dan wawasan, tapi memupuk iman. Kalau kata Aa Gym, kenapa ketika kita mendengar ceramah tentang Allah hati kita damai, ya karena membicarakan Allah tuh emang gitu, don’t know how the science of it. Pun membicarakan orang – orang yang dicintai Allah, in syaa Allah akan membantu memupuk iman kita.
Ga semua orang bisa hijrah secara radikal dan signifikan dalam waktu cepat. Ada orang – orang yang memang butuh waktu, butuh ditemani pelan – pelan, butuh memupuk iman melalui berbagai jalan. Tapi, semoga kita semua menjadi orang – orang yang masih punya keinginan memperbaiki iman. Itulah yang namanya hidayah.
Beberapa ustadz tidak membawa materi pengetahuan yang berat, cem Aa Gym dan Hanan Attaki. Akan tetapi ada hikmah yang selalu bisa kita ambil untuk diaplikasikan dalam kehidupan beragama, dan itulah yang penting, terutama bagi yang awam – awam seperti saya dan mungkin beberapa dari kita.
Sambil kerja atau ngerjain tugas atau sedang bersantai, mendengar ceramah is better dan produktif than listening music instead.
“Al Quds itu ibu kota Palestina, bukan Israel!”

where flowers bloom so does hope
Pray until your situation changes. Miracles happen every day, so never stop believing. Allah can change things very quickly.
Data is knowledge and we are working in the factory of knowledge

Don’t be like those candles, they light surround them yet sacrifying themselves.
Be like a lamp, give the sunshine for the world, for the mankind.
May your goal of life is to beautify the world not to destroy it or even worsen it by quarreling among of you.Pictsource: pinrest
Jogja; Kamu yang Angkat Kaki, dan Kisah Kita yang Menetap
Jogja selalu memiliki cerita;
Tentang hati-hati yang menggenggam dengan hati-hati, lalu ternyata remuk karena genggamannya terlalu erat
Tentang jiwa-jiwa yang jatuh cinta, lalu patah setelahnya
Tentang rona-rona merah muda, lalu menggugu biru karena taksanggup kuperdengarkan padamu–perihal aku yang mendekapmu sebegitunyaKemudian kau pergi.
Sedang aku masih bingung memeluk diriku sendiri.
Tapi Jogja selalu memilikiku, tak seperti kamu yang awalnya begitu
lalu melepasku dengan sengajaSejatinya aku bebas sedari dulu, seperti katamu
Hanya saja, kembali, dan selalu begitu…Jogja menahanku, melupakanmu.
Yogyakarta, 9 Juli 2016.
KOK SEDIH YA 😂😂😂
duhhh 😅
Perasaanmu Itu, Ah, Sudahlah!
“Bisa dapat banyak kesempatan sharing di depan orang-orang itu bukan karena ilmu kita lebih tinggi dari yang nonton, bukan juga karena kita inspiratif, brain, beauty, behaviour, yaiyalah bukan. Tapi ini salah satu cara Allah mengkader kita. Allah pengen kita belajar, Allah pengen kita ga pernah merasa cukup, dan tentu saja … Allah pengen telinga kita jadi yang pertama mendengar segala nasehat yang keluar dari mulut sendiri.” – @dianchs
Pagi ini, setelah 30 menit yang lalu menerima banyak telepon dan pesan-pesan singkat, saya leyeh-leyeh di kasur, padahal satu jam lagi saya harus pergi bertugas ke sebuah sekolah di suatu tempat di ujung kota Bandung. Sambil leyeh-leyeh, saya iseng membuka dashboard Tumblr dan menemukan tulisan menohok dari Dian, seorang adik yang pertama kali saya temui dulu saat menghadiri Muslimah Youth Symposium di UNPAD. Wadaw! Kesel banget sama postingnya Dian itu, karenaaaaa … inspiratif dan bacanya bikin nangis! Hehe, kesel positif, ya, Di!
Membaca tulisan terbarunya itu, saya seolah merasakan apa yang Dian ceritakan dalam tulisannya. Belakangan, setiap kali mendapat undangan untuk mengisi sebuah acara atau mengemban sebuah amanah, saya pun berkali-kali bertanya pada Allah dan juga diri sendiri, “Ini kenapa, ya, kok diminta untuk bahas hal yang saya sendiri sedang bersusah payah mempelajarinya? Emang pantas ngomongin ini? Ini orang yang ngundang engga salah orang apa, ya? Emangnya gue siapaaa? Yaelah, padahal masih fakir ilmu dan miskin amal.”
Magis memang! Seperti misalnya ketika suatu hari diminta bercerita tentang mengapa anak muda perlu mengidolakan Rasulullah disaat saya lagi mageeeer banget menamatkan Sirah Nabawiyah. Pernah juga diminta bercerita tentang sabar dan syukur saat sedang susah payah mengupayakan kedua hal tersebut ditengah-tengah ujian hidup yang tidak bisa diceritakan pada sembarang manusia. Pernah juga diminta untuk menjawab sebuah pertanyaan tentang mengapa hati harus terpaut pada Allah padahaaaal yang ditanya hatinya sedang porak-poranda. Ini aneeeeh! Sampai rasanya undangan-undangan itu inginnya ditolak dan saya ingin menghilang dulu dari realita. Tapi, belajar dari postingnya Dian tadi, ternyata Allah memang punya cara istimewa untuk memberikan pendidikan-Nya kepada manusia. Semacam jadi didorong dengan dorongan yang kuat untuk belajar dan bangkit sebab dicolek kesadarannya bahwa ada kebaikan dan amanah yang perlu ditunaikan. Maa syaa Allah.
Serupa tapi tak sama, beberapa kali saya juga mendapati sebuah kondisi dimana Allah mendatangkan amanah-amanah kepada saya melalui orang-orang di sekitar saya, entah itu di kantor, di lingkaran pertemanan, atau bahkan di rumah, saat kondisi perasaan saya sedang sangat jauuuuuh sekali dari kata stabil: sedang merasa payah, merasa susah, dan bahkan terpikir untuk ingin menyerah. Salah satunya adalah ketika Talk Show Menata Kala pertama kali di Bandung waktu itu, yang terjadi saat saya sedang Allah hadiahkan ujian yang menjatuhkan banyak air mata, bahkan saya masih menangis beberapa jam sebelum jam naik panggung tiba. Hal lain, amanah besar untuk menjadi head of product di kantor entah mengapa datang saat saya sedang merasa energi saya sudah banyak habis untuk mengurusi urusan-urusan pribadi. Tapi, melalui semuanya seolah Allah menyampaikan pesan indah kepada saya, “Jangan galau lama-lama, udahlaaaah soal perasaanmu itu cepat selesaikan, karena kamu dibutuhkan oleh orang lain. Apa jadinya jika kamu sibuuuuk terus untuk hanya mengurusi dirimu sendiri?” Alhasil, saya jadi merasa tidak punya banyak waktu untuk memperturutkan apa yang menjadi perasaan-perasaan itu, dan entah bagaimana, Allah membuatnya bisa terjadi, terlalui, terlewati.
Teringat sebuah penjelasan dari ustadz Nouman Ali Khan dalam Understanding Al-Fatihah yang sering saya ceritakan karena memang menjadi pembahasan favorit saya, nyatanya Allah make sure that we are grows up! Super romantis engga, sih? Allah-memastikan-kita-tumbuh-dengan-cara-istimewa, dan itu keren! Saat kita klemar-klemer ngeluh sana ngeluh sini, saat kita cengeng banyak nangis di waktu-waktu sendiri, saat kita mageeeer banget untuk melakukan kebaikan, percayalah, Allah tak pernah kehabisan cara untuk membuat kita bangkit dan menjadikan cara-cara itu sebagai cara agar kita mendidik diri sendiri.
Memang yaa, apa yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim Al Jauziyah itu benar,
“Andai kamu tahu bagaimana Allah mengatur urusan hidupmu, pasti hati kamu akan meleleh karena cinta kepada-Nya.”
So, untuk urusan perasaan-perasaanmu itu, ah, sudahlah! Serahkan dan kembalikan semua kepada-Nya, agar jangan sampai semua itu menghentikan langkahmu dalam berbuat kebaikan untuk menolong agama-Nya. Selamat bertumbuh, selamat menumbuhkan kebaikan!


