#1 Pursuit of Knowledge

hanaadiningsih:

Bapak bukan dari keluarga kaya. Dari keluarganya, beliau yang paling semangat sekolah. Padahal buat sekolah ga pernah dikasih uang jajan, ongkos aja belum tentu ada.

Sementara aku, ketika SMP aku pernah ngeluh. Aku merasa belajar IPA tuh ga relevan dengan cita-citaku untuk jadi psikolog. Terus Bapak membalas “Kalau belajar jangan lihat kontennya aja, lihat juga esensinya. Seengganya, kamu belajar menyelesaikan masalah, belajar ngejalanin hal yang kamu ga suka, belajar sabar.”

Iya ya, kadang orang nganggep belajar ilmu di sekolah itu sebatas hal duniawi aja. Padahal ilmu kan cuma alat, tergantung apakah ilmu itu digunakan sebagai dasar melatih diri pada level spiritual, mengembangkan daya pikir, menyayangi orang lain, atau bahkan meningkatkan kecintaan kepada Yang Maha Menciptakan.

Salah satu pengalaman yang lucu adalah aku merasa salah satu ilmu yang paling membuat aku merenungkan kebesaran Tuhan itu justru ketika belajar sistem saraf dan tingkah laku. Coba kita belajar gimana suatu informasi dari otak dapat diterjemahkan menjadi perintah untuk tingkah laku tertentu itu satu pertemuan, bagaimana antarbagian dari tubuh kita itu berkomunikasi juga satu pertemuan. Padahal kita setiap hari bisa dengan gampangnya ngetik sambil denger lagu sambil scroll browser sana-sini tanpa tahu bahwa proses di baliknya bisa sekompleks itu.

Konsekuensinya, mengetahui informasi yang sebetulnya cuma menjelaskan apa yang terjadi pada tubuh kita sebetulnya bisa dijadikan dasar untuk jadi orang yang lebih bersyukur. Itu baru satu contoh.

Dari Bapak, aku belajar bahwa menyenangi proses belajar itu penting. Buat Bapak, berapapun nilaiku itu bonus aja. Yang pasti selama prosesnya dijalani dengan baik dan benar, kita ga hanya dapet kontennya, tapi sepaket dengan pendewasaan diri.

Jadi, ilmu kita kira-kira buat apa?

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai