Lihat kehidupan orang lain, “kok asyik ya”.
Lihat kerjaan orang lain, “kok enak ya”. Lihat pasangan orang lain, “kok romantis ya”. Lihat harta orang lain, “kok berlimpah ya”. Lihat medsos orang lain, “kok bahagia ya”.Kita kerap kali membanding-bandingkan kehidupan kita. Apalagi di zaman media sosial seperti sekarang ini. Kita tidak pernah alpa melewatkan satu haripun tanpa melihat kehidupan orang lain.
Tanpa parameter yang jelas kemudian kita menarik satu kesimpulan, bahwa ukuran kehidupan kita hanya soal siapa yang beruntung dan siapa yang tidak beruntung. Kita tidak peduli meski yang tengah kita usahakan bukan sesuatu hal yang sama.
Unggahan-unggahan kita di media sosial, baik soal penampilan, pekerjaan, pasangan, kepemilikan harta benda semuanya kita sesuaikan semenarik mungkin. Termasuk untuk sebuah kebaikan, beribadah, beramal, membantu sesama, semuanya harus diakui dan disukai orang lain.
Sehingga bagi siapapun yang melihat, kita dihargai sebagai golongan orang-orang yang lebih baik taraf hidupnya. Termasuk golongan orang-orang yang lebih beruntung dibandingkan yang lain.
Kita lupa bahwa ada sebuah nasib yang sedang bekerja dalam campur tangan Tuhan. Ada roda yang sedang berputar. Ada waktu-waktu yang diciptakan dalam rentang kecepatan yang berbeda bagi setiap orang. Ada usaha-usaha yang melintas dalam satu garis yang berlawanan.
Semestinya pertanyaannya bukan lagi soal siapa yang beruntung dan yang tidak beruntung. Tetapi sudah sejauh mana kita melihat ke dalam diri kita sendiri. Sudah sejauh mana kita mensyukuri apa yang sudah ada dan yang sedang kita upayakan.
Sudahkah kita hidup benar-benar sesuai dengan apa yang kita inginkan. Atau jangan-jangan kita sedang kelelahan menyamakan standar hidup kita dengan standar hidup milik orang lain, yang jelas-jelas bukan tujuan kita yang sebenarnya.
—ibnufir