Denger temen yang gajinya lebih tinggi, terus bingung. Denger temen yang mau beli mobil dari hasil gajinya sendiri, terus bingung. Denger temen yang bisa liburan ke luar negeri dari uang sendiri, terus bingung. Jadi pengen, jadi iri.
Padahal, temen kita itu juga banyak ngeluhnya. Yang sulit jodoh lah. Yang malah jadi boros lah. Yang ngga bisa kumpul sama keluarga lah.
Kenapa sih kok masih bingung sama masalah dunia aja? Padahal kata Allah, dunia itu cuma tipu daya.
Berserah sama Allah, nggak mungkin Allah ngasih jalan kayak gini ini tanpa sebuah alasan.
Mungkin alasan itu kita anggap menyusahkan kita di dunia, tapi semoga saja alasan Allah ini meringankan kita di akhirat.
Selama menempuh perjalanan hidup ini, bukan sekali atau dua kali, mungkin berkali-kali, kita sering merasa ingin menyerah. Ingin berhenti. Bahkan tak jarang, rasanya ingin menghilang sekejap saja.
Beberapa hal mungkin membuat kita sering merasa seperti itu. Layaknya embun yang menetes di dedaunan, semua yang telah terjadi tak bisa ditarik kembali. Kita hanya sanggup berusaha untuk menjalankan sisanya.
Selalu ada saja yang terjadi tak sesuai rencana, atau keputusan yang kita ambil namun berujung penyesalan.
Ingatlah kembali. Bukankah semua yang terjadi ini adalah kehendak Allah?
Mungkin saja kala itu kita begitu menginginkannya, sampai mati-matian mengejarnya, kemudian telah kita dapatkan, namun mengapa rasanya hampa?
Ataukah ketika telah kita dapatkan apa yang kita harapkan, akan tetapi setelah kita mendapatkannya, mengapa malah merasa ingin berhenti saja?
Sungguh, dunia ini memang benar penuh dengan tipu daya.
Mungkin saja semua ini kita rasakan karena dunia menjadi tolak ukur kita. Karena manusia yang menjadi pembanding kita. Karena apa kata orang menjadi tujuan kita.
Padahal hidup bukanlah perkara siapa yang paling cepat atau yang paling benar. Bukan perkara siapa yang paling pintar atau yang paling kaya.
Karena kondisi satu orang dengan yang lainnya berbeda, maka sesuatu yang terjadi dalam hidup seseorang, walaupun sama, tetapi akan menciptakan nilai dan dampak yang berbeda pada kehidupan masing-masing.
Tak layak bila kita terus membandingkan kehidupan orang lain dengan kehidupan kita, apalagi membandingkan perkara duniawi. Karena apa yang kita miliki di dunia ini akan kembali kepada Allah pada saatnya dan yang abadi, adalah apa yang telah kita habiskan di jalan Allah.
Maka selayaknya kita bertanya kepada diri sendiri;
Kalau kita melihat media sosial, begitu banyak orang yang membahas soal Quarter Life Crisis beserta isunya. Mulai dari karir, sandwich generation, dsb. Banyak, dan pasti memang banyak di antara kita yang tidak pernah terbayang sama sekali; tidak bisa memahaminya, bingung ketika menyadari kalau dirinya adalah sandwich generation, resah karena karirnya disetir oleh orang tua, dan semua kegelisahannya.
Di antara kita ada yang sedang berjuang dengan pendapatan 300ribu sebulan. Di media sosial, kita melihat orang lain yang seusia kita pendapatannya sudah di angka 30 juta per bulan.Â
Kita bahkan tidak tahu dimana yang keliru. Apakah ikhtiar ini kurang? Dan juga sebenarnya kita tahu dimana letak masalah-masalahnya. Dari mulai bidang pekerjaan, orang tua yang tidak mengizinkan kita merantau, lingkaran pertemanan yang serupa, dan mungkin ada yang juga mengaitkan ke almamaternya, “ah dia kan lulusan ITB, lha ku…”.
Beberapa di antara kita juga ada yang sedang berjibaku, bekerja keras untuk ikut serta membantu ekonomi keluarganya. Menopang adik yang masih sekolah, ikut jungkir balik membayar cicilan hutang orang tua, dsb. Kita tidak tahu caranya menabung, sebab semua pendapatan selalu habis tak bersisa. Bahkan kadang kurang.
Memang, kita semua tidak pernah memiliki hidup yang ideal. Selalu ada letak ujiannya. Bahkan pada orang-orang yang kita kira selesai semua urusannya, mereka tetap memiliki ujiannya. Hanya saja, kita tidak tahu.
Tidak apa-apa, tidak apa-apa dengan kondisi kita saat ini. Yang sedang galau karena gaji dibawah rata-rata, galau karena karir kita tertahan izin orang tua, galau karena bingung bagaimana menyiapkan masa depannya sebab kita ikut menanggung hutang dan biaya hidup keluarga.Â
Ujian kita tidak sama, maka jawabannya tentu tidak sama.Â
Hanya satu hal yang ingin ku bisikan lirih kepadamu. “Jangan kalah oleh keadaan, menangkan!”