Selesai

urfa-qurrota-ainy:

Jika kau merasa iri saat melihat foto temanmu yang baru promosi jabatan, atau menikah, atau punya anak, atau jalan-jalan ke luar negeri, atau punya mobil baru, yang salah bukan temanmu. Apakah ia merugikan waktumu? Apakah ia menghabiskan tenagamu?  Apakah ia menggunakan sepeser uangmu? Tidak, kan? Jangan menambah kotor hati dengan berprasangka buruk soal niat temanmu. Kau kira ia riya’, kau anggap dia pencitraan, kau bilang ia pamer.

Periksa hatimu, mungkin hatimu belum selesai memaknai syukur.

Jika kau merasa marah saat orang lain berbeda pendapat denganmu, memilih pilihan yang berlainan denganmu, yang patut dimarahi bukan dia. Apakah ia menghalangimu untuk berpendapat? Apakah ia memaksamu mengikuti pilihannya? Jangan menambah kotor hati dengan menciptakan jarak kebencian dengannya. Kau labeli ia sebagai musuh, kau sebut ia bukan saudara.

Periksa hatimu, mungkin hatimu belum selesai memaknai toleransi.

Jika kau merasa kecewa saat tidak ada yang memuji amalmu, menghargai kebaikanmu, yang menurutmu sudah benar, yang salah bukan mereka. Apakah mereka mencegahmu berbuat baik? Jangan menambah kotor hati dengan menyemai benih harapan pada balasan manusia.

Periksa hatimu, mungkin hatimu belum selesai memaknai ketulusan. 

Semakin ku merenungi, semakin aku menyadari. Bahwa kebanyakan–hampir seluruhnya–dari penyakit hati, sumbernya adalah masalah diri yang belum menyelesaikan urusannya dengan ego pribadi. Belum bisa meredakan ‘keakuan.’ Yang darinya lahir sebuah dunia tak kasat mata, di dalamnya si ‘aku’ menjadi sentral, yang harus diutamakan, yang harus didahulukan, yang harus diistimewakan. Membuat diri seolah-olah kuat di luar, padahal rapuh di dalamnya.

Maha Suci Allah, yang suci dari kelemahan hamba-Nya.

Pesan ini pertama sekali kutujukan untuk diriku sendiri

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai