Kalau kita melihat media sosial, begitu banyak orang yang membahas soal Quarter Life Crisis beserta isunya. Mulai dari karir, sandwich generation, dsb. Banyak, dan pasti memang banyak di antara kita yang tidak pernah terbayang sama sekali; tidak bisa memahaminya, bingung ketika menyadari kalau dirinya adalah sandwich generation, resah karena karirnya disetir oleh orang tua, dan semua kegelisahannya.
Di antara kita ada yang sedang berjuang dengan pendapatan 300ribu sebulan. Di media sosial, kita melihat orang lain yang seusia kita pendapatannya sudah di angka 30 juta per bulan.
Kita bahkan tidak tahu dimana yang keliru. Apakah ikhtiar ini kurang? Dan juga sebenarnya kita tahu dimana letak masalah-masalahnya. Dari mulai bidang pekerjaan, orang tua yang tidak mengizinkan kita merantau, lingkaran pertemanan yang serupa, dan mungkin ada yang juga mengaitkan ke almamaternya, “ah dia kan lulusan ITB, lha ku…”.
Beberapa di antara kita juga ada yang sedang berjibaku, bekerja keras untuk ikut serta membantu ekonomi keluarganya. Menopang adik yang masih sekolah, ikut jungkir balik membayar cicilan hutang orang tua, dsb. Kita tidak tahu caranya menabung, sebab semua pendapatan selalu habis tak bersisa. Bahkan kadang kurang.
Memang, kita semua tidak pernah memiliki hidup yang ideal. Selalu ada letak ujiannya. Bahkan pada orang-orang yang kita kira selesai semua urusannya, mereka tetap memiliki ujiannya. Hanya saja, kita tidak tahu.
Tidak apa-apa, tidak apa-apa dengan kondisi kita saat ini. Yang sedang galau karena gaji dibawah rata-rata, galau karena karir kita tertahan izin orang tua, galau karena bingung bagaimana menyiapkan masa depannya sebab kita ikut menanggung hutang dan biaya hidup keluarga.
Ujian kita tidak sama, maka jawabannya tentu tidak sama.
Hanya satu hal yang ingin ku bisikan lirih kepadamu. “Jangan kalah oleh keadaan, menangkan!”
©kurniawangunadi
Pas banget ini, baru tadi kepikiran, mungkin salah satu ujian saya terletak di sini, diuji tentang “jarak” 🙂