Kilas Balik
Selama menempuh perjalanan hidup ini, bukan sekali atau dua kali, mungkin berkali-kali, kita sering merasa ingin menyerah. Ingin berhenti. Bahkan tak jarang, rasanya ingin menghilang sekejap saja.
Beberapa hal mungkin membuat kita sering merasa seperti itu. Layaknya embun yang menetes di dedaunan, semua yang telah terjadi tak bisa ditarik kembali. Kita hanya sanggup berusaha untuk menjalankan sisanya.
Selalu ada saja yang terjadi tak sesuai rencana, atau keputusan yang kita ambil namun berujung penyesalan.
Ingatlah kembali. Bukankah semua yang terjadi ini adalah kehendak Allah?
Mungkin saja kala itu kita begitu menginginkannya, sampai mati-matian mengejarnya, kemudian telah kita dapatkan, namun mengapa rasanya hampa?
Ataukah ketika telah kita dapatkan apa yang kita harapkan, akan tetapi setelah kita mendapatkannya, mengapa malah merasa ingin berhenti saja?
Sungguh, dunia ini memang benar penuh dengan tipu daya.
Mungkin saja semua ini kita rasakan karena dunia menjadi tolak ukur kita. Karena manusia yang menjadi pembanding kita. Karena apa kata orang menjadi tujuan kita.
Padahal hidup bukanlah perkara siapa yang paling cepat atau yang paling benar. Bukan perkara siapa yang paling pintar atau yang paling kaya.
Karena kondisi satu orang dengan yang lainnya berbeda, maka sesuatu yang terjadi dalam hidup seseorang, walaupun sama, tetapi akan menciptakan nilai dan dampak yang berbeda pada kehidupan masing-masing.
Tak layak bila kita terus membandingkan kehidupan orang lain dengan kehidupan kita, apalagi membandingkan perkara duniawi. Karena apa yang kita miliki di dunia ini akan kembali kepada Allah pada saatnya dan yang abadi, adalah apa yang telah kita habiskan di jalan Allah.
Maka selayaknya kita bertanya kepada diri sendiri;
Seberapa besar kita sudah memperjuangkan-Nya?
_____
@shafiranoorlatifah ; 18 Juni 2019
Dalam perenungan menuju tahun ke 24 menapakkan kaki di bumi.