Mi, doain adek ya”
“Iya, semoga kamu nanti diteguhkan hatinya, kaya biar banyak beramal, bisa pergi ke banyak tempat untuk menebarkan kebaikan yang lebih luas”
“Aamin”
Saya tidak pernah absen menelfon Bapak dan Ibu saya kecuali sudah minta izin sehari sebelumnya kalau misal saya sibuk dan tidak sempat menelfon. Saya berusa istiqomah menelfon orang tua sesibuk apapun.
Kadang cuma minta doa. Kadang sekedar bercerita apa saja yang terjadi hari ini di kantor. Saya sangat bersyukur dikaruniai oleh Allah orang tua yang bisa menjadi tempat pulang di kala badai. Yang menghadiahkan peluk di kala takut.
Sekarang, di usia saya yang ke 25, saya menatap kembali ke belakang. Bila dulu saya menatapnya dengan kelabu, sekarang saya menatapnya penuh syukur. Kami bisa melewati segala badai dengan cara yang baik.
Suatu hari saya berbicara dengan seoarang kawan yang sudah punya anak. Dia bilang ke saya:
“Kamu belum pernah jadi orang tua Day. Nanti kalo kamu jadi orang tua dan ngelihat anakmu disakitin itu lukanya berganda”
Tahun lalu ketika saya dapat SK CPNS, ayah saya menangis haru:
“Alhamdulillah Bapak seneng. Kamu sudah pegang kunci untuk masuk ke dalam pintu kebermanfaatan untuk ummat. Selamat ya nduk. Dulu pas kamu kecil, dan orang-orang banyak membicarakan kekurangan fisik kamu, Bapak sedih. Tapi tidak ada takdir Allah yang salah”
Dulu, saya lahir prematur. Tulang saya belum terbentuk sempurna. Mata saya juga belum terbentuk sempurna sehingga mata kiri saya mengalami kebutaan. Bapak dan Ibu sudah berikhtiar mencari dokter agar mata saya sembuh. Namun ada seorang dokter yang menasihati ayah saya:
“Mata anak bapak ini tidak bisa diperbaiki fungsinya. Tapi bapak tidak perlu khawatir. Ini terjadi sejak lahir. Bukan karena putri bapak ditimpa sial tapi karena Allah mentakdirkannya demikian. Besarkan hatinya biar dia tumbuh dengan baik”
Setelah itu Bapak dan Ibu saya sadar, saya harus dibawa kemana. Sebaiknya bapak dan ibu menabung agar saya bisa sekolah tinggi dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya sebab di Alqur’an Allah berjanji akan mengangkat derajat seorang yang berilmu.
Bila ada yang bertanya kenapa hari ini saya suka belajar meskipun saya tidak pandai? Mungkin karena doa orang tua. Dan sejujurnya, saya merasa lebih hidup ketika saya dekat dengan buku.
Tidak mudah melewati masa sulit karena manusia sering menghakimi apa yang tampak dan mengabaikan apa yang tidak tampak. Saya inget banget pas ada orang bilang ke Bapak saya:
“Pak Mahfudz nggak sayang sama anak ya? Kok anaknya nggak dibawa ke dokter?”
“Saya sayang sama anak saya. Biarkan dia nanti tumbuh jadi orang baik dan berilmu”
“Kok dibiarkan cacat? Anak bapak cewek lho. Nanti kalo nggak ada yang mau gimana?”
Bapak saya tersenyum. Mereka tidak pernah tahu berapa dokter yang sudah dikunjungi Bapak dan Ibu dan semuanya angkat tangan.
Kalau Allah sudah menghendaki demikian, pasti ada kebaikan yang dikehendaki. Prinsip itu yang selalu kami pegang untuk tumbuh.
Termasuk ketika saya mengalami bullying di sekolah. Saya menceritakan ini bukan untuk mengingat masa lalu apalagi merutuki penderitaan. Saya hanya ingin mengingat kebaikan bapak dan ibu yang meminta saya untuk tegar, tenang dan tidak dendam.
Saya itu dasarnya temperamental. Kalau dibully ngelawan dan akhirnya adu fisik. Tiap itu terjadi, guru pasti menganggap saya yang salah karena saya yang mukul duluan ~XD Tapi ya sudah. Itu masa lalu.
Tidak mudah jadi orang tua yang sabar ketika anaknya dibully.
“Kamu harus sabar. Kamu nggak boleh dendam. Kamu nggak boleh kalah sama setan”
Itu yang didengungkan Bapak setiap hari padahal saya tahu hati beliau pedih melihat putrinya yang setiap hari diolok-olok. Buku PR nya direbut teman. Didorong ke comberan. Nggak gampang menjalani hari seperti ini tanpa amarah. Tapi kami bisa melewatinya.
Di sini saya jadi mengerti mengapa kita harus belajar banyak sebelum menjadi orang tua, sebelum menjadi isteri. Untuk menumbukan kebaikan dalam keluarga. Apapun yang terjadi.
Saya percaya, betatapun jahatnya dunia luar, ketika orang tua mampu menghadirkan cinta di rumah, anak akan mendewasa dengan baik. Tulisan ini dibuat pasca diskusi tentang ketahanan keluarga, tentang kasus yuyun, lgbt juga tentang banyak hal.
Kelak, bila Allah mentakdirkan kita bertemu dengan jodoh kita, ikhtiarkanlah kebaikan di dalam rumah. Bila kita diuji dengan anggota keluarga yang memiliki kekurangan fisik, jangan pernah mendengar orang luar yang mencelanya. Cukuplah berfokus menumbuhkan kebaikan yang ada di hatinya.
Keinget sama adek yang paling besar. Cerebral palsy pasti akan ia taklukan. Besarkan hatimu, adikku sayang.