Ciaat ciaat, instruktur kampus (inkamp) PKL 55!

Yang dalam 3 hari belajar latar belakang, metodologi, kuesioner, dan buku pedoman PKL demi pelatihan petugas.

Yang pas pelatihan petugas dateng paling pagi dan punya pr ngoreksi kuis.

Yang 3 hari berturut-turut ngelatih PCL sambil diliatin (kadang dites) dosen *apalagi Pak Pras, isengnya tuh bikin inkamp harus ‘kreatif’ ngasih jawaban*.

Kangeen hebohnya kita tiap pagi sebelum mulai ngasih materi, pasti di basecamp heboh bahas materi. Tapi nggak kangen pas kita rapat 10 jam sih .__.

SO GLAD TO HAVE A TIME WITH YOU, GAES.
Kalian keren. Though a late post, this story never been an old story.

#sisa-sisaPKL

Sesal

Sesal ini tak lagi berarti. Pun jika seribu kali dikatakan tak akan mengubah apapun. Tapi tetap, maaf. Sungguh.

22.04

Ngomong-ngomong, terima kasih sudah meminjamkan pundaknya malam ini, kawan. Yuk lanjutkan perjalanan. Don’t let things make you much regretful as you can’t do anything to make it better.

And once the storm is over, you won’t remember how you made it through, how you managed to survive. You won’t even be sure, whether the storm is really over. But one thing is certain. When you come out of the storm, you won’t be the same person who walked in. That’s what this storm’s all about.

Haruki Murakami (via irnandamp)

Uti punya Haruki Murakami???

Hallooo!

Libur panjang ini kami pengen jalan-jalan sejenak terlepas dari tugas kelompok Analisis D*** Kategorik yang menyita waktu. Erasmus Huis (pusat kebudayaan Belanda) menjadi destinasi kami. Lokasinya ada di sebelah Kedubes Belanda, di daerah Kuningan.

Mumpung ada Europe on Screen atau pemutaran film Eropa free for public dan Exhibition Utarakan Jakarta di sana, kami langsung meluncur. Akhirnya kami memilih nonton film MacBeth. Ternyata film yang kami tonton siang itu adalah film tahun 1971 (kami aja belum lahir) yang diadaptasi dari cerita William Shakespeare. Alhasil kami nonton film sambil berpikir alur ceritanya. Bahasa Inggris dengan grammar jadul dan percakapan tokoh yang kayak berpuisi tapi dalam Bahasa Inggris tepat membuat kami berpikir artinya sambil sesekali terkantuk-kantuk.

Begitu filmnya kelar, kami -anak-anak yang nggak jago-jago amat Bahasa Inggris ini- saling bertanya, jadi tadi yang jadi Raja akhirnya siapa. Maklum, ending film ini agak nggak jelas, terlalu implisit. Tapi cukup mengapresiasi kualitas filmnya sih, termasuk animasi yang lumayan untuk tahun segitu.

Di Erasmus Huis juga ada perpustakaan, tapi sayangnya waktu itu sudah tutup. Selain itu ada juga auditorium yang sering buat pertunjukan dan ada pula hall exhibition. Noted nih! Pas banget buat tempat tujuan ‘main’ selanjutnya.

London: Hari Ke-212-220

avinaninasia:

image

Volunteering for Indonesia 2016.

image

Bunga di depan rumah. Minggu-minggu akhir April, London sudah menunjukkan tanda-tanda musim semi telah tiba.

image

Bangunan khas di University of Birmingham

image

Udah lama ngga photo booth. 

image

Di stasiun Paddington, cakep ya lampunya. 

image

Paling bener, beli cokelat, terus duduk duduk di sini. Sambil ngobrol sama orang-orang yang seru.

image

Assalamualaikum!

Selamat datang musim semi! Musim yang menghadirkan suhu yang cukup hangat di London. Sebagai penggemar dan penganut prinsip lebih baik kedinginan daripada kepanasan, nampaknya musim semi di London berhasil menengahinya. Tidak terlalu dingin, tapi juga tak sepanas Jakarta. 

Hal yang paling menyenangkan, bunga-bunga cantik bermekaran dimana-mana. Seolah selalu ingin mengambil gambar. Masya Allah. 

Tak terlalu banyak yang saya lakukan pada hari-hari ini. Selain mengurus persiapan acara VFI di Birmingham, bermain, dan tentu saja kuliah.

London, 30 April 2016

Saya ingat, hari ini saya deg-deg-an. Malam terakhir, sebelum tanggal 1 Mei.

You did it, well, anyway. 🙂

Subhanallah :’D

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai