Rasanya tak perlu menjadi orang lain. Cukuplah menjadi diri kita yang tulus dan terus berbuat baik.

Kita hanya perlu melakukan apa yang kita sukai dan menyukai apa yang kita miliki.

Kiranya kita hanya perlu menjadi diri kita sendiri. Mengiringi setiap langkah dengan kesyukuran, melangkah menuju cita dan harapan.

Sisanya, kita hanya perlu yakin. Yakin dan percaya pada skenario terbaik-Nya

15.16 WIB

Emak

“Mak, kuenya masih?” Tanyaku dari ujung jalan. Semoga masih terdengar oleh Mak yang baru duduk di posyandu.
Aku mendekat. “Tinggal ini, neng.”
“Wah, udah abis ya, kalo gitu gorengannya aja 2 Mak”

Emak membungkus gorengan yang ku pesan.
“Nggak usah pake kantong, Mak, di sini aja” Kataku sambil menunjukkan kantong plastikku.
“Mak rumahnya di mana?”
“Gang Ayub, neng, deket mesjid, ……..”
Mak bercerita panjang lebar tentang rumahnya yang kecil bersama anak dan cucunya. Suaminya di Sukabumi. Di rumah kecilnya, ada tv serta dapur kecil tempatnya memasak. Emak terlihat bersemangat sekali menceritakan kondisi rumahnya. Walaupun sederhana, beliau terlihat sangat bersyukur.

Perbincangan dengan nenek penjual kue pagi itu mengingatkan pada nenek di rumah. Emak yang sudah setua itu setiap pagi menjajakan kue keliling dengan suara khasnya saat menawarkan kue. Warbiyasa!

– Pagi ini banget, di deket posyandu.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai