
#throwback
Pengantar Teori Peluang.
Mendadak jadi pembahas tryout alhasil harus ngubrak-abrik file gara-gara udah lupa sama cheby shev .__.

#throwback
Pengantar Teori Peluang.
Mendadak jadi pembahas tryout alhasil harus ngubrak-abrik file gara-gara udah lupa sama cheby shev .__.
Kita manusia nampaknya memang diciptakan untuk tidak mudah percaya, hingga kita sendiri mengalaminya atau (paling tidak) mendengar dari sumber terpercaya, atau…sebenarnya kita tahu, namun sering kali lupa bahwa: setiap pencapaian butuh proses. Yang seringkali prosesnya disertai dengan usaha keras.
Sebagai seorang penonton, kita seringkali merasa menjadi inferior dihadapan kawan-kawan yang nampaknya mempunyai banyak pencapaian sambil tak pernah tahu bagaimana sulitnya mereka mencapai titik itu. Iya, sudah sering kita dengar bahwa sukses itu bagai gunung es: orang-orang tak pernah peduli seberapa besar usaha, orang-orang hanya peduli bagaimana hasilnya.
Hari ini, saya tersadarkan dari penyakit lupa akut tentang fakta ini bahwa:
setiap pencapaian butuh proses. Yang seringkali prosesnya disertai dengan usaha keras.
Berkat nasihat kawan untuk tetap berdiskusi, apapun, selagi berada di zona nyaman, saya mendapatkan ingatan itu kembali.
“Perbanyaklah temui atau paling tidak hubungi kawan-kawan lama yang membersamaimu ketika masih menjadi mahasiswa. Berbincang bersama mereka seringkali akan membangkitkan kembali jiwa mudamu yang tertelan arus dunia kerja kantoran. Agar semangatnya tidak luntur, agar idealismenya tetap terbangun. Dan, agar kamu tak kesepian.” begitu kurang lebih pesannya.
Dan, salah satu kawan yang saya hubungi hari ini, ia Lintang Nur Fadhlillah, perempuan keren di angkatan kami (Geografi Lingkungan UGM 2011) yang menjadi salah satu dari kelompok mahasiswa lulus tercepat dibanding kawan-kawannya. Sehabis lulus, tak tanggung-tanggung langsung dapat beasiswa. Beasiswanya pun tak main-main, S2 lanjut S3. Langsung, direct, tanpa jeda. Maka, bisa dibayangkan betapa kerennya dia. Dipandang sekilas, Lintang tampak mudah mendapatkannya. Sebagai mahasiswa yang IPKnya hanya kurang nol koma nol sekian dari angka empat, tentu hal ini (nampaknya) mudah bagi Lintang.
Namun, kenyataannya tak begitu. Pencapaian besar itu didapat dengan usaha yang besar pula dan perjalanannya pun dilalui dengan kesabaran, usaha keras dan hati yang harus sepenuhnya lapang. Mana tau (sebelum menghubunginya) bahwa kehidupan S2nya tak semudah yang dibayangkan. Tuntutannya tidak hanya kuliah S2, namun masih ada keharusan menjadi asisten pengajar dan tuntutan proyek pekerjaan. Ketiganya membutuhkan pembagian waktu yang ekstra. Ketiganya menempati peringkat satu, dua dan tiga dalam ruang pemikirannya, mengambil porsi yang lumayan besar hingga sering menumbuhsuburkan stress. Belum lagi ditambah galau ditanya orang tua “Mbak, calonnya mana?” Mana tau pula bahwa beasiswa pun kadang tak mulus. Mana tau bahwa program beasiswa yang judulnya mempersiapkan dosen masa depan itu ternyata tak ikatan dinas, masih harus berjuang pula mendaftar dosen atau memutuskan untuk keluar jalur, menjadi profesional di bidang lain.
Maka, pada titik ini, saya sadar sekaligus malu jika tidak berjuang keras dalam membela mimpi saya sendiri.
“Orang-orang yang berjuang itu keren, ya.” menjadi kalimat yang terlontar di tengah-tengah perbincangan kami.
Iya, keren sekali.
Orang-orang yang berjuang berani memperjuangkan hal yang bahkan mereka sendiripun tak yakin. Usaha kerasnya melampaui batas ketakutan akan ketidakpastian masa depan.
Orang-orang yang berjuang itu berani menghadapi segala kemungkinan, meski ia sendiri tak pernah tau badai besar apa yang bersiap menghadang doa-doa dan usaha mereka.
Orang-orang yang berjuang itu tetap melangkah, meski terseok-seok, meski pincang dan meski harus mencari bantuan sesederhana uluran tangan. Bagi orang-orang yang berjuang, lebih baik tetap bergerak daripada berhenti sama sekali.
Orang-orang yang berjuang itu meyakini satu hal, Tuhan tak akan pernah mengingkari janji.
“Orang-orang yang berjuang itu keren, ya.”
“Iya, keren sekali.”
Masih berfikir dua kali untuk menjadi salah satu dari orang-orang keren itu? Pikir lagi :’)
Yaya
180716, 21:50 WIB.
A : ngggak akan kangen saya?
B : ada nggak kata di kamus yang melebihi rindu?
A : kayaknya enggak
B : kalo gitu saya nggak bisa jawab pertanyaan kamu
-Dalam ‘Sabtu Bersama Bapak’
N : saya punya sebuah impian
F : boleh saya tahu?
N : (nunjukin 1 halaman dari buku yang selalu ia bawa kemana-mana)
F : kalo gitu, saya boleh nggak bantu kamu?
N : saya bakal seneng banget kalo kamu mau
Percakapan di sebuah hall antara dua orang anak SMA yang akan berangkat lomba. Yang satu akan ke Jakarta, satu lagi akan ke Lembang.
Somehow, I just can’t forget a remarkable talk (actually not the talk above). That day, when we were partner (in anything). When we’re pursuing our own dream.
Bismilahirrahmanirrahim.
Bring me turn back time~
Saya pengen cerita soal mereka yang dulu pernah sama-sama berjuang. Dan mungkin sampai sekarang masih ada yang melanjutkannya. Semoga istiqomah dan saya yakin InsyaAllah membawa kebaikan. Foto bersama mereka ini pas dulu jaman masih muda (sekarang juga masih kok :D). Banyak sih cerita bersama mereka, tapi ada beberapa yang paling diinget, misalnya pas ngurusin pesantren kilat 3 hari 2 malam di sekolah dan kurang tidur, motong daging sapi pas qurban sampe nganterin ke warga, juga ngadain pengajian di masjid Agung. Kalo buat saya sendiri, paling kangen (?) ngitung uang infaq tiap jumat di basecamp rohis kemudian ditabung di bank. You know lah jaman itu uang seribuan dan recehan masih mendominasi 😀
Besok ada Syawalan Alumni Rohis Al-Fattah (Arofah). Sedih ndak bisa ikut ._.

Tiba-tiba ketemu mbak Asma Nadia, padahal mau nonton Sabtu Bersama Bapak. Dibujukin nonton Jilbab Traveller sama mbak Asma Nadia akhirnya ngeles hehee maaf ya mbak soalnya udah beli tiket yang lain.
Menurut saya sih, Sabtu Bersama Bapak bagus filmnya. Pesannya dapet, settingnya dapet, lucunya juga dapet. Pesannya banyak sih, kayak ngajarin mendidik anak sebagai seorang ibu dan bapak, terus jadi anak harus peduli banget sama ortu dan yang paling penting ngajarin gimana jadi menantu perempuan yang baik, harus pinter masak (belajar dari ibunya), catet nih catet XD. Settingnya juga keren sih, di Bandung sama Paris kebanyakan. Paling ngakak pas waktu Saka ngajak Ayu makan siang. Kocak parah. Walaupun kata temen filmnya kurang ‘bikin nangis’ tapi tetep keren kalo menurut saya mah. #cintafilmIndonesia
Pulang bukan hanya tentang kembali ke tempat kita lahir, bukan hanya tentang menuju ke tempat di mana kita berasal atau sekedar uforia hari besar agama yang nilainya tidak lebih dari sekedar ikut-ikutan saja.
Pulang adalah peristiwa perasaan. Lebih dalam, pulang adalah tentang menuntaskan rindu yang kita kumpulkan satu per satu di tanah rantau nan jauh. Saat pulang, bayangan tentang rumah adalah seperti halnya ketika ditinggalkan. Namun, kadang kita lupa bahwa waktu berjalan, manusia bertumbuh dan semua hal berubah. Maka, saat pulang tak jarang kita terhenyak sendirian. Anak-anak pikiran berlarian.
“Mengapa Ayah menjadi lebih kurus? Apa kurang makan karena memikirkan keadaanku?”
“Adik menjadi bertambah tinggi saja sekarang ya! Rasa-rasanya kemarin aku masih bisa merangkul bahunya tanpa berjinjit.”
“Nenek kemana? tak diketahui kabarnya? Bukankah biasanya pagi-pagi sekali sudah sibuk menyapu halaman rumah ‘menghabiskan hari tua dengan tetap berolahraga’ begitu katanya.”
Dan, setelah memberesi segala barang bawaan, memasukkan sekadarnya ke kamar yang dulu pernah menjadi tempat berjuang menggapai mimpi-mimpi, kita mulai tahu jawabannya.
“Dua minggu lalu Ayah terjatuh dari motornya ketika menuruni jalanan yang biasa ia tempuh ketika bekerja. Gigi depannya patah tiga biji. Ia harus menggantinya dengan gigi palsu agar makhorijul hurufnya tidak kacau saat beliau mengaji. Gigi palsu itu tidak sekuat gigi asli, maka makan apapun tidak bisa lagi ditunaikan.
Terjawab sudah sebab musabab ayah menjadi lebih kurus saat ini.
“Adik sudah lebih dari tiga minggu di rumah sebab sekolahnya sedang direnovasi besar-besaran, menambah asrama untuk santri baru yang jumlahnya ratusan. Karenanya, asupannya tercukupi dan pertumbuhannya pun pesat sekali.”
Terjawab sudah mengapa adik menjadi lebih tinggi saja kian hari.
“Seminggu lalu nenek terjatuh saat hendak memanen buah pisang di halaman. Ia terpeleset dan kepalanya terbentur bebatuan. Seminggu ini juga beliau hanya bisa berdiam di kamarnya sebab masih pening pula kepalanya.”
Dan, terjawab sudah mengapa nenek tak berolahraga seperti biasanya.
Pada titik ini kita sadar, kita melewatkan banyak hal. Dan, di titik ini pula kita bersyukur. Syukurlah aku pulang.
Maka, sekali lagi. Pulang adalah peristiwa perasaan: haru, rindu, sedih, bahagia yang semena-mena menjadi satu.
Tanah Abang
23:57 WIB, 100716
Akan ada waktu untuk pulang (InsyaAllah).
Buat saya sendiri, setelah pulang, selalu ada rasa yang dibawa, bekal semangat untuk kembali menjalani hari-hari di perantauan. Benar, karena saat pulang, melihat semuanya berubah begitu cepat, orang tua kita yang terlihat semakin bertambah tua, rasanya timbul pertanyaan ‘lalu apa yang sudah kamu lakukan selama ini?’
Semoga pulang yang selanjutnya bukan hanya sekedar menuntaskan rindu, tapi benar kembali mengabdi (di tempat yang berbeda).

I spent my holiday time mostly at home. You know, how crowded my home was and I just couldn’t stand seeing my mom doing such a -never ending- ‘home task’. Sorry.
#sekedarcerita #dontmindme