Kita manusia nampaknya memang diciptakan untuk tidak mudah percaya, hingga kita sendiri mengalaminya atau (paling tidak) mendengar dari sumber terpercaya, atau…sebenarnya kita tahu, namun sering kali lupa bahwa: setiap pencapaian butuh proses. Yang seringkali prosesnya disertai dengan usaha keras.
Sebagai seorang penonton, kita seringkali merasa menjadi inferior dihadapan kawan-kawan yang nampaknya mempunyai banyak pencapaian sambil tak pernah tahu bagaimana sulitnya mereka mencapai titik itu. Iya, sudah sering kita dengar bahwa sukses itu bagai gunung es: orang-orang tak pernah peduli seberapa besar usaha, orang-orang hanya peduli bagaimana hasilnya.
Hari ini, saya tersadarkan dari penyakit lupa akut tentang fakta ini bahwa:
setiap pencapaian butuh proses. Yang seringkali prosesnya disertai dengan usaha keras.
Berkat nasihat kawan untuk tetap berdiskusi, apapun, selagi berada di zona nyaman, saya mendapatkan ingatan itu kembali.
“Perbanyaklah temui atau paling tidak hubungi kawan-kawan lama yang membersamaimu ketika masih menjadi mahasiswa. Berbincang bersama mereka seringkali akan membangkitkan kembali jiwa mudamu yang tertelan arus dunia kerja kantoran. Agar semangatnya tidak luntur, agar idealismenya tetap terbangun. Dan, agar kamu tak kesepian.” begitu kurang lebih pesannya.
Dan, salah satu kawan yang saya hubungi hari ini, ia Lintang Nur Fadhlillah, perempuan keren di angkatan kami (Geografi Lingkungan UGM 2011) yang menjadi salah satu dari kelompok mahasiswa lulus tercepat dibanding kawan-kawannya. Sehabis lulus, tak tanggung-tanggung langsung dapat beasiswa. Beasiswanya pun tak main-main, S2 lanjut S3. Langsung, direct, tanpa jeda. Maka, bisa dibayangkan betapa kerennya dia. Dipandang sekilas, Lintang tampak mudah mendapatkannya. Sebagai mahasiswa yang IPKnya hanya kurang nol koma nol sekian dari angka empat, tentu hal ini (nampaknya) mudah bagi Lintang.
Namun, kenyataannya tak begitu. Pencapaian besar itu didapat dengan usaha yang besar pula dan perjalanannya pun dilalui dengan kesabaran, usaha keras dan hati yang harus sepenuhnya lapang. Mana tau (sebelum menghubunginya) bahwa kehidupan S2nya tak semudah yang dibayangkan. Tuntutannya tidak hanya kuliah S2, namun masih ada keharusan menjadi asisten pengajar dan tuntutan proyek pekerjaan. Ketiganya membutuhkan pembagian waktu yang ekstra. Ketiganya menempati peringkat satu, dua dan tiga dalam ruang pemikirannya, mengambil porsi yang lumayan besar hingga sering menumbuhsuburkan stress. Belum lagi ditambah galau ditanya orang tua “Mbak, calonnya mana?” Mana tau pula bahwa beasiswa pun kadang tak mulus. Mana tau bahwa program beasiswa yang judulnya mempersiapkan dosen masa depan itu ternyata tak ikatan dinas, masih harus berjuang pula mendaftar dosen atau memutuskan untuk keluar jalur, menjadi profesional di bidang lain.
Maka, pada titik ini, saya sadar sekaligus malu jika tidak berjuang keras dalam membela mimpi saya sendiri.
“Orang-orang yang berjuang itu keren, ya.” menjadi kalimat yang terlontar di tengah-tengah perbincangan kami.
Iya, keren sekali.
Orang-orang yang berjuang berani memperjuangkan hal yang bahkan mereka sendiripun tak yakin. Usaha kerasnya melampaui batas ketakutan akan ketidakpastian masa depan.
Orang-orang yang berjuang itu berani menghadapi segala kemungkinan, meski ia sendiri tak pernah tau badai besar apa yang bersiap menghadang doa-doa dan usaha mereka.
Orang-orang yang berjuang itu tetap melangkah, meski terseok-seok, meski pincang dan meski harus mencari bantuan sesederhana uluran tangan. Bagi orang-orang yang berjuang, lebih baik tetap bergerak daripada berhenti sama sekali.
Orang-orang yang berjuang itu meyakini satu hal, Tuhan tak akan pernah mengingkari janji.
“Orang-orang yang berjuang itu keren, ya.”
“Iya, keren sekali.”
Masih berfikir dua kali untuk menjadi salah satu dari orang-orang keren itu? Pikir lagi :’)
Yaya
180716, 21:50 WIB.