Pulang

khoiriyalatifa:

Pulang bukan hanya tentang kembali ke tempat kita lahir, bukan hanya tentang menuju ke tempat di mana kita berasal atau sekedar uforia hari besar agama yang nilainya tidak lebih dari sekedar ikut-ikutan saja.

Pulang adalah peristiwa perasaan. Lebih dalam, pulang adalah tentang menuntaskan rindu yang kita kumpulkan satu per satu di tanah rantau nan jauh. Saat pulang, bayangan tentang rumah adalah seperti halnya ketika ditinggalkan. Namun, kadang kita lupa bahwa waktu berjalan, manusia bertumbuh dan semua hal berubah. Maka, saat pulang tak jarang kita terhenyak sendirian. Anak-anak pikiran berlarian.

“Mengapa Ayah menjadi lebih kurus? Apa kurang makan karena memikirkan keadaanku?”

“Adik menjadi bertambah tinggi saja sekarang ya! Rasa-rasanya kemarin aku masih bisa merangkul bahunya tanpa berjinjit.”

“Nenek kemana? tak diketahui kabarnya? Bukankah biasanya pagi-pagi sekali sudah sibuk menyapu halaman rumah ‘menghabiskan hari tua dengan tetap berolahraga’ begitu katanya.”

Dan, setelah memberesi segala barang bawaan, memasukkan sekadarnya ke kamar yang dulu pernah menjadi tempat berjuang menggapai mimpi-mimpi, kita mulai tahu jawabannya.

“Dua minggu lalu Ayah terjatuh dari motornya ketika menuruni jalanan yang biasa ia tempuh ketika bekerja. Gigi depannya patah tiga biji. Ia harus menggantinya dengan gigi palsu agar makhorijul hurufnya tidak kacau saat beliau mengaji. Gigi palsu itu tidak sekuat gigi asli, maka makan apapun tidak bisa lagi ditunaikan.

Terjawab sudah sebab musabab ayah menjadi lebih kurus saat ini.

“Adik sudah lebih dari tiga minggu di rumah sebab sekolahnya sedang direnovasi besar-besaran, menambah asrama untuk santri baru yang jumlahnya ratusan. Karenanya, asupannya tercukupi dan pertumbuhannya pun pesat sekali.”

Terjawab sudah mengapa adik menjadi lebih tinggi saja kian hari.

“Seminggu lalu nenek terjatuh saat hendak memanen buah pisang di halaman. Ia terpeleset dan kepalanya terbentur bebatuan. Seminggu ini juga beliau hanya bisa berdiam di kamarnya sebab masih pening pula kepalanya.”

Dan, terjawab sudah mengapa nenek tak berolahraga seperti biasanya.

Pada titik ini kita sadar, kita melewatkan banyak hal. Dan, di titik ini pula kita bersyukur. Syukurlah aku pulang.

Maka, sekali lagi. Pulang adalah peristiwa perasaan: haru, rindu, sedih, bahagia yang semena-mena menjadi satu.

Tanah Abang
23:57 WIB, 100716

Akan ada waktu untuk pulang (InsyaAllah).

Buat saya sendiri, setelah pulang, selalu ada rasa yang dibawa, bekal semangat untuk kembali menjalani hari-hari di perantauan. Benar, karena saat pulang, melihat semuanya berubah begitu cepat, orang tua kita yang terlihat semakin bertambah tua, rasanya timbul pertanyaan ‘lalu apa yang sudah kamu lakukan selama ini?’

Semoga pulang yang selanjutnya bukan hanya sekedar menuntaskan rindu, tapi benar kembali mengabdi (di tempat yang berbeda).

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai