Wuih pertama kali nih di kereta ngomongin sampling, asumsi normal, regresi, analisis data kategorik, statmat, sampe basdat, R, dan package.
Yap, semalem bersebelahan sama mbak-mbak alumni Statistika UGM. Langsung ngobrol panjang lebar tentang perbedaan kuliah kita sampai kerjaannya anak statistika univ dan kami (BPS).
Mbaknya ini udah kerja di salah satu perusahaan iklan di Jakarta Selatan, baru setahun kerja. Kerjaannya nggak jauh-jauh dari analisis data. Ternyata, datanya dari Niel*** (perusahaan yang bergerak di bidang informasi global buat penelitian, contohnya data rating TV). Nah, mbak sebelah saya ini tugasnya ngutak-atik data supaya berguna buat perusahannya which is masalah utamanya adalah di sampling error. Diakui bahwa metode sampling yang dipakai oleh perusahaan pengambil data itu nggak diketahui, jadi sampling errornya nggak tau deh tuh berapa, alhasil kadang datanya aneh. Well, tapi sumber dari situ sering dipakai orang *kata mbaknya.
Sekarang kembali ke perbedaan kuliah statistika di universitas dan di STIS.
Pertama, dari segi mata kuliah udah beda. Kalau di UGM lebih ke aplikasi statistika untuk ekonomi, aktuaria, dan pemrograman untuk suatu perusahaan. Materi survei contoh dan samplingnya dapet tapi dasar-dasarnya aja. Di sana juga ada peminatannya, aktuaria, pemrograman, biostat, dan lain-lain (saya lupa hehe). Kalau di IPB kata mbaknya sih lebih ke aplikasi di bidang pertanian. Tapi setau saya di sama juga ada aktuaria deh. Jadi, intinya di STIS lebih ke aplikasi buat survei dan sensus BPS atau bisa disebut official statistics. Sementara itu, di universitas dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan, BUMN, dan lembaga lain.
Next, ngomongin tentang prospek kerja. Saya rada tercengang sih, ternyata kalo mau ngelanjutin kerja yang pake ‘statistika’ itu biasanya kerja di Jakarta. Let say kalo di Jogja susah dan jarang banget dapet pekerjaan kalo mau yang sesuai dengan apa yang dipelajari di bangku kuliah (statistika dan tetek bengeknya). Wah, bener sih, karena pusat berbagai perusahaan besar dan multinasional di Jakarta, analisis data kan lebih mendukung ke pengambilan keputusan.
Yang bikin sedih adalah banyak temen-temennya mbaknya yang akhirnya kerja di bank gitu. Memutuskan untuk ‘menutup’ segala macam distribusi dan statistika yang bikin pusing itu. Saya juga pernah denger hal serupa di kampus ternama di Bogor yang diharapkan terjun ke pertanian tapi tak sedikit pula yang akhirnya kerja di bank. Yea, life is a choice, right?
Itu tadi sekelumit cerita di kereta. Maaf nyebut ‘mbaknya’ terus, kelupaan kenalan saking asyiquenya ngobrol *muehehe.
Di manapun kita bekerja, pastikan ada sedikit usaha konstribusi untuk bangsa, selain bekerja itu untuk membahagiakan orangtua dan ibadah kepada-Nya. Semoga semua ilmu yang kita pelajari memberikan manfaat untuk masyarakat luas. Semangat!
Gajahwong,
10 p.m.