
“Jatuh. Terbangun. Jatuh. Patah. Jatuh lagi. Bangkit lagi. Patah. Menjadi perca. Lalu remuk. Bangkit. Jatuh lagi. Proses yang malam ini ingin kuberhentikan dengan titik keberdirianku melawan segala rindu dan rasa takut kehilangan, untuk kembali pada titah-Nya. Semoga tak ada jatuh lagi tanpa tangan yang siap memberdirikan, mengajak bersisihan menuju cinta-Nya. Aku takut. Takut sekali. Pada-Nya.”
–
I was just reading again the ‘Ephemera’ on a train to home when suddenly I came up to read those words. Felt like I ever thought the same thing. That day, one (un)fine day.
Mwihihi, but it was passed and things are getting much much better now. HAHAHA