Tuhan, saat ini aku mengucap syukur. Maafkan hambamu ini yang tak pernah berterimakasih atas setiap nafas, kebahagiaan, cinta dan kasih sayang yang selalu melimpah di bumi.
Suatu hari aku pergi menjenguk teman yang sedang sakit. Sakitnya kurang begitu jelas, tapi ia merasakan sakit di bagian perut atas. Saat itu, ia terbaring di kamarnya, ditemani ibunda tercinta. Sang ibu bercerita kala temanku itu kecil. Bagaimana dulu ia berbadan gemuk. Bagaimana ia dulu suka memanjat pohon. Sang ibunda bercerita sambil berkaca-kaca. Sesekali ceritanya diselingi dengan menawari anaknya untuk makan roti dengan penuh kasih sayang. Maklum daritadi temanku itu belum terisi perutnya.
Aku bisa melihat kekhawatiran seorang ibu kepada anaknya. Dan juga kasih sayang itu. Ibunda temanku bercerita, dia langsung berangkat ke Jakarta ketika mendengar anaknya sakit. Langsung pergi, meninggalkan tugasnya sebagai seorang guru. Duh, aku jadi berkaca-kaca juga. Aku teringat ibu di rumah. Aku merindukan ibu. Ibu yang selalu membuatkan masakan yang enak. Paling enak sedunia pokoknya. Ibu yang selalu menemaniku kala aku sakit. Makanya, aku nggak boleh sakit. Saat berada jauh dari rumah begini aku nggak boleh bikin ibu sedih. Aku nggak boleh sakit. Aku harus jaga kesehatan -air mataku mengalir perlahan.